ALLBLACK

ι - Hati Kaca yang Berdarah (Bagian Pertama)

Dipajang pada 28 November 2015 12:15:50 oleh fsc

26 Juni 2010

Persembunyian Alisa

10.11

Untuk beberapa detik, kesunyian menguasai suasana. Yang ada hanya suara statik listrik yang mendayai penerangan ruang bawah tanah gudang ini, menciptakan suasana melankoli yang nyaris membuat kantuk. Entah mengapa kehampaan ini menjadi terasa berat, seakan tidak tertahankan, Alisa mulai bercerita. Sebuah kisah dari saat-saat segalanya masih sederhana; dari saat dia masih puas dengan dunia yang terbatas dengan penglihatannya.

Jerman, satu tahun dan sembilan bulan lalu; Panti Asuhan Edelweiss, di mana Alisa tengah bermain poker bersama Iris. Mereka duduk di lantai, di atas karpet persia di mana dua orang anak lagi yang juga sedang bermain. Api menyala di perapian, cukup hangat untuk mengusir dinginnya pertengahan musim semi.

Mereka berdua bertatapan dengan lima lembar kartu di antara mereka; as keriting, tiga sekop, jack wajik, dan dua sembilan hati dan sekop. Iris menatap Alisa. Di tangannya ada sepasang jack, dengan kartu ini, dia bisa membuat full house. Kartu ini kuat, namun tetap saja masih ada beberapa kombinasi kartu yang lebih kuat, meskipun kemungkinannya kecil.

“Kau siap?” tanya Iris.

“Tentu saja.”

“Oke, tunjukkan kartu!”

Mereka menurunkan kartu mereka secara tertutup. Mereka saling memandang. Keduanya tampak yakin kalau mereka akan menang.

“Kau duluan,” pinta Iris.

“Tidak, kau duluan.”

“Kau duluan.”

“Sama sama, satu per satu.”

“Oke.”

Mereka berdua menyiapkan tangan mereka di atas salah satu tangan. Mereka menghitung sampai tiga bersama-sama dan membuka kartu mereka.

Iris menguak bahwa dia memiliki jack hati sementara Alisa memegang sembilan sekop. Dengan ini, sepertinya Iris memiliki kartu dua pasang—kombinasi yang relatif lemah—sementara Alisa memiliki kartu kembar tiga. Iris tersenyum. Kartu kembar tiga tentunya lebih lemah daripada full house yang dimilikinya.

“Buka kartu satunya. Siap?” Mereka menyiapkan tangan mereka di atas kartu satunya. “Satu... Dua... Tiga——”

Iris menunjukkan kartu lainnya, sebuah jack sekop, membuat kombinasi kartunya menjadi full house; Jack dipenuhi sembilan. Melihat ini, Alisa menggantungkan tangannya di udara sebelum ia bisa menunjukkan kartu terakhirnya.

“Aku menang!” seru Iris menyatakan kemenangan.

“Jangan keburu senang!”

“Huh?”

Alisa melempar kartu terakhirnya ke lantai. Sembilan hati.

Iris terkejut. Kombinasi kartunya dikalahkan oleh kombinasi yang hanya punya kemungkinan muncul 4.166%; sebuah sembilan kembar empat.

“Aku menang.”

Iris mengeluh frustrasi. Meski demikian, dia terkesan.

“Aku tertipu, boleh juga.”

“Untungnya kita tidak main taruhan.”

“Tidak seperti biasanya. Terakhir kita main poker, kau tidak bisa menyembunyikan kartu.”

“Yeah, Ferno yang mengajariku.”

“Masa? Dia? Setahuku dia tidak mungkin memberitahukan rahasianya.”

“Huh?”

“Dia itu juara permainan di sini, makanya biasanya tidak ada yang mau menantangnya dalam permainan; karena kemungkinan besar dia pasti menang. Dan ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa membuatnya mengajarimu?”

Sejujurnya, Alisa tidak meminta. Waktu itu, dia kalah terlalu sering sampai Ferno tidak merasa puas mengalahkannya. Dan demikianlah, dia mengajari Alisa menjadi lawan kuat dalam permainan.

“Aku sudah janji tidak akan bilang,” jawabnya seraya tersenyum lemah.

Dia tidak bisa mengatakan kebenarannya, dia malu.

“Ah, kau sama seperti dia.”

“Maaf,” pinta maaf Alisa dengan tangan tergabung di depan dadanya. “Oh, ngomong-ngomong, sekarang jam berapa?”

“Hampir jam 8 malam. Kenapa?”

“Semestinya Ferno sudah selesai,” ujar Alisa sementara Iris membereskan kartu di hadapan mereka.

“Selesai apa?”

“Apa kau tahu mobil hitam yang sering mampir belakangan ini?”

“Ya, aku tahu. Dan ngomong-ngomong soal itu—”

“Apa kau pernah melihat siapa yang menaikinya?”

“Tidak, sepertinya belum pernah.”

“Siapapun itu, dia seringkali bertemu dengan Claudia dan Ferno belakangan ini.”

“Hmm, menarik. Kau sudah tanyakan padanya?”

“Sudah, tapi dia tidak menjawab,” jawab Alisa setelah berdiri, “aku harus pergi, sampai jumpa besok.”

“Oke!”

Alisa berjalan keluar dari ruang rekreasi. Sudah beberapa saat sejak dia menunggu di sini sampai Ferno menyelesaikan pertemuan rahasianya, semestinya sudah selesai sekarang. Dia menunggu karena dia butuh mengambil sebuah buku yang dipegang Ferno.

Dari ruang rekreasi, Alisa harus mengarungi antara sayap bangunan untuk sampai di kantor Claudia, di mana Ferno mengadakan pertemuannya. Koridor yang dilewatinya terasa hampa, utamanya karena malam dan para penghuni sudah kembali ke kamarnya masing-masing.

Setelah berjalan beberapa saat, Alisa sampai di kantor Claudia. Koridor di mana pintu kantor berada juga terasa hampa, membuatnya berpikir apa pertemuan Fermo memang sudah selesai sejak tadi.

Mungkin dia sudah kembali ke kamarnya.

Alisa berbalik, dia nyari pergi sebelum pintu kantor di belakangnya terbuka.

“Kalau begitu, saya permisi.”

Dari kantor Claudia, Ferno baru saja keluar. Melihat itu, Alisa berbalik dan menyapanya. Butuh beberapa saat sampai Ferno menyadari keberadaannya.

“Alisa? Sedang apa kau di sini?”

“Aku sudah menunggumu.”

“Oh. Jadi, kau butuh apa dariku?”

“Kau ini, tidak sopan menganggap orang yang menunggumu selalu butuh sesuatu.”

“Hmm, lalu kenapa kau menunggu?”

“Nghk.” Alisa menggigit lidahnya, dia harus menelan kata-katanya sendiri. “Sebenarnya, aku ke sini ingin meminta buku itu darimu. Yang tentang pepohonan? Kau sudah selesai baca, kan?”

“Tuh, kan. Kau memang butuh sesuatu dariku.”

“Hehe.”

“Jangan tertawa.” Ferno mengomentarinya dengan mata datar, membuat Alisa agak takut. “Yeah, aku sudah selesai membacanya. Bukunya ada di kamarku. Aku juga akan ke sana. Ikut aku, biar kuambilkan.”

“Oke.”

Ferno mulai memimpin jalan. Untungnya asrama laki-laki berada di sayap yang sama dengan kantor Claudia, jadi mereka tidak perlu berjalan terlalu jauh. Dari sana, mereka berjalan ke arah tangga dan menaikinya, dan setelah mereka mengarungi koridor lainnya, mereka pun sampai.

Saat mereka berjalan, Alisa menyadari sesuatu yang aneh. Perhatian Ferno tampak teralihkan. Tidak biasanya dia tampak seperti ini. Sejak pertama kali Alisa berada di sini, mungkin ini pertama kalinya dia melihat Ferno tampak murung.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Alisa, “rasanya kau seperti berada di tempat lain.”

“Tidak, kok.”

“Masa? Aku yakin kau tidak seperti biasanya.”

“Jangan cemas, aku masih di sini, kok.”

“Apa?”

“Ahh, lupakan.”

“Tidak mau,” Alisa setengah berseru sebelum mereka berhenti berjalan dan menghadap Ferno. Melihat itu, Ferno yang berjalan agak di depan juga berhenti dan berbalik. “Kalau aku yang tampak murung, kau pasti memaksaku untuk memberitahukanmu apa yang sudah terjadi. Kenapa berbeda jika posisinya terbalik?”

“...” Ferno terdiam. Dia nyaris mengatakan sesuatu, namun dia menelan kata-katanya sebelum bisa diucapkan. Meski begitu, dia tidak bermaksud diam selamanya. “...Karena keadaannya berbeda. Aku tidak ingin membawamu dalam masalahku. Lagipula, masalah ini bukan masalah yang perlu kau ketahui. Aku harap kau mengerti.”

“Kau egois.”

“Memang, seharusnya bukan kejutan.”

Ferno mulai berjalan lagi. Butuh beberapa detik sampai Alisa mulai mengikutinya. Dia berjalan cepat sampai dia hanya tertinggal satu langkah dari Ferno sebelum dia melanjutkan bicara. Alisa menolak penjelasan Ferno, dia tahu penjelasannya itu tidak seperti dirinya yang biasanya.

“Kenapa? Kenapa kau tidak mau cerita? Kau kira aku tidak bisa membantu?”

“...”

“Katakan sesuatu, jawab aku.”

“...”

“Terserah! Kalau kau cuma bisa diam.”

Setengah akhir perjalanan mereka berakhir dengan kesunyian yang tidak nyaman, membuat mereka merasa asing satu sama lain. Ferno tetap diam dengan wajah bimbang, sementara Alisa berjalan di belakangnya dengan tampang kesal. Untungnya, mereka mulai berjalan lebih cepat.

Meski kecepatan jalan mereka membuat mereka cepat sampai di tujuan, namun kesunyian membuatnya terasa lama. Saat mereka sampai di asrama laki-laki, mereka berjalan lurus ke arah kamar Ferno. Begitu sampai, Ferno melayangkan telapak tangannya menghentikan Alisa.

“Tunggu di sini, biar kuambilkan bukunya.”

Tanpa menunggu jawaban dari Alisa yang ia tahu tidak akan ia dapatkan, Ferno masuk ke kamar dan menutup pintunya. Alisa menunggu sesuai diperintahkan. Dia masih kesal, beberapa detik menunggu membuatnya menyilangkan tangan. Dia punya waktu sendiri, namun dia menolak memikirkan tentang tadi. Dia yakin kalau tadi bukan salahnya. Tidak lama sampai pintu kembali terbuka.

Ferno keluar dengan sebuah buku yang lumayan tebal di tangannya. Dia menyerahkan bukunya ke Alisa dan ia pun menerimanya. Namun sebelum Alisa bisa menarik bukunya, Ferno mengatakan sesuatu.

“Alisa, maaf untuk yang tadi. Aku harus egois. Mungkin terdengar konyol, tapi ini karena aku—”

“...”

Dia menjeda. Dia melihat ke arah Alisa dan menemukan kalau dia terlalu tempereamen untuk mengerti. Karena itu dia menghentikan apa yang ingin dikatakannya dan menghela nafas. Wajah bimbangnya meringan dan dia menggambarkan senyum tipis.

“Intinya, aku minta maaf. Kita bicarakan nanti.”

Ferno melepaskan genggamannya dari bukunya. Alisa menerima dan berbalik. Saat dia akan meninggalkan Ferno, dia berhenti. Tanpa berbalik, ia mengatakan sesuatu.

“Terima kasih.”

Meski kesal, ia tidak cukup keras kepala untuk tidak peduli. Dia mengungkapkan terima kasih tanpa menunjukkan wajahnya, dan bagi Ferno itu sudah cukup. Dia hanya tersenyum menyaksikan sang gadis berjalan menjauh. Dan demikian dia pun kembali ke kamarnya.

Alisa kembali ke kamarnya. Di sana dia menaruh bukunya ke atas meja. Dia menghela nafas dan berganti pakaian ke pakaian tidurnya. Dia mencoba berpikir positif dengan menganggap kalau Ferno hanya butuh waktu.

Dan begitulah, dia istirahat malam itu.

Keesokan paginya, dia terbangun. Dia melakukan rutinitas paginya; mandi, berpakaian, dan bersiap untuk belajar. Dibandingkan dengan semalam, moodnya sudah terangkat. Dia merasa lebih ringan, mungkin dia sudah salah menghadapi keadaan semalam, maka hari ini dia akan mencoba pendekatan yang berbeda.

Sambil menenteng beberapa buku pelajaran, dia berjalan ke kelas. Anak-anak sudah berkumpul di kelas, dan sementara Alisa melwati koridor, jam belajar pun dimulai. Biasanya Ferno sudah menunggu di kelas, namun saat ia sampai, dia tidak menemukannya.

Mungkin dia terlambat,” pikir Alisa. Dia duduk di mejanya yang biasa dan menunggu Ferno dan guru mereka. Aneh, bahkan setelah guru datang, Ferno tidak kunjung muncul. “Apa dia membolos lagi?

Bukan tidak biasa Ferno membolos, namun belakangan sudah jadi lebih jarang. Alisa tahu dia memang butuh waktu, namun ada yang berbeda. Jika dia tahu, dia juga akan ikut membolos, namun sudah terlambat untuk mulai mencarinya.

Untuk pagi itu hingga siang, Alisa menyelesaikan kelasnya sendirian. Segera begitu jam belajar usai, dia kembali ke kamarnya untuk menaruh bukunya dan langsung mencari Ferno. Dia coba memeriksa beberapa tempat di mana dia tahu Ferno biasa mengasingkan diri, namun dia tidak menemukannya.

Di mana dia?

Sejak semalam, dia sudah bertingkah aneh, dan sekarang dia tidak bisa ditemukan. Setelah memeriksa semua tempat persembunyian yang ia ketahui, Alisa nyaris menyerah. Namun lagi, dia teringat pada satu tempat yang belum ia periksa; kamar Ferno.

Segera dia berjalan ke asrama lelaki dan menuju ke kamar Ferno. Dia melihat sekeliling memeriksa koridor asrama lelaki. Kosong. Kebanyakan penghuninya sedang berada di tempat lain. Jika dipikir-pikir, tempat ini sempurna untuk menyendiri.

*Tok* *Tok*

Alisa mengetuk beberapa kali lalu menunggu. Beberapa detik berlalu dan tidak ada jawaban dari dalam kamar.

*Tok* *Tok*

Mungkin dia tidak mendengarku, mungkin dia sedang tidur.” Karena itulah Alisa kembali mengetuk pintunya, kali ini sedikit lebih keras, dan dia pun menunggu lagi.

...

Masih tidak ada jawaban.

Sekarang dia berpikir kalau dia tidak di sini. Separuh dirinya ingin mencari di tempat lain, namun separuh lainnya belum puas sebelum memastikan Ferno memang tidak di sana. Separuh terakhir dirinya menang. Meski ragu, Alisa melayangkan tangannya ke atas gagang pintu.

“Aku masuk,” ujarnya, memberi peringatan kalau-kalau ada orang di dalam.

Setelah dia memutar gagang pintu dan mendorong daun pintunya, pintu pun terbuka, menyibakkan bagian dalamnya. Kamar ini tidak berbeda dengan kamar-kamar tidur lainnya di institusi ini atau bahkan kamar Alisa, kecuali mungkin untuk tata letak perabot dan barang-barang pribadi.

Tunggu dulu!

Alisa menyadari sesuatu; kamar ini terlalu bersih, nyaris tidak ada yang menghiasinya. Kamar ini seperti ditinggalkan. Dia butuh membuktikan kecurigaannya. Dia bergegas melangkah ke arah lemari pakaian dan membukanya.

Kosong.

Ada apa ini? Di mana Ferno?

Meski dia punya banyak pertanyaan, dia tahu dia harus memastikan dia tidak sedang membuat kesalahan. Dia tutup pintu lemari dan berjalan ke luar kamar. Dia melihat sekitar, memastikan kalau dia tidak salah tempat. Dan dia yakin itu.

Claudia!

Apapun yang terjadi, Claudia pasti tahu sesuatu. Mungkin Ferno meminta pindah kamar. Yeah, dia bisa tanyakan itu.

Meski ada aturan ketat untuk jangan lari di koridor, Alisa berlari ke kantor Claudia. Untungnya dia tidak bertemu siapa-siapa saat sedang berlari.

Jarak antara asrama dan kantor tidak terlalu jauh, namun cukup untuk membakar pari-parunya. Dia berhenti berlari, namun tidak berhenti bergerak, dia mulai berjalan cepat setelah menuruni tangga dan ia pun sampai di kantor Claudia.

“Claudia!”

Di antara nafasnya yang terengah-engah, Alisa memaksa dirinya untuk menyerukan nama wanita yang dicarinya begitu ia membuka pintu kantor.

Di sanalah dia, wanita berrambut pendek terduduk di balik mejanya. Dia terkejur menemukan seseorang tiba-tiba mendobrak masuk ke kantornya.

“Di mana Ferno?!”

Wanita itu tidak tampak terkejut melihat Alisa datang atau mendengar pertanyaannya. Tidak perlu terlalu cerdas untuk tahu dia sudah menunggu ini.

“Nona Alycia.”

“Jawab pertanyaanku! Di mana dia?!”

“Ferno? Entahlah.”

“Jangan bohong! Aku sudah memeriksa kamarnya, dia sudah pergi!”

“Dia pergi?”

Claudia bersikap seakan dia tidak tahu, namun Alisa tahu. Dia berbohong, dia tidak tampak terkejut mendengar berita ini sama sekali, Claudia sudah menantinya. Dia tentunya tahu sesuatu.

“Jadi begini?! Kau pura-pura tidak tahu apa-apa?!”

“Aku tidak pura-pura. Aku yakin kau sudah pernah dengar penghuni institusi yang melarikan diri. Hal seperti ini bisa saja terjadi.”

“Begitu saja penjelasanmu?! Dia melarikan diri?! Kalau benar dia melarikan diri, pasti karena sesuatu yang kau lakukan padanya.”

“Aku?”

“Siapa yang sudah dia temui di sini beberapa minggu belakangan ini?!”

“Itu bukan urusanmu.”

“Lihat? Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu!”

“Aku tidak menyembunyikan apapun, dan kau tidak bisa membuktikan apa-apa.”

“...” Alisa terdiam. Dia sadar apa yang dikatakan Claudia memang benar; dia tidak punya kemampuan untuk membuktikan apa-apa atau membuatnya mengakui apapun.

Alisa menggigit lidahnya. Dia marah. Sulit berpikir saat pemikirannya terhalangi emosi. Namun untungnya, petunjuk menunjukkan diri di hadapannnya.

Di salah satu sisi ruangan, di atas lemari setinggi pinggang, ada sebuah mesin faks. Dan di bawahnya ada sebuah tempat sampah. Dari tempatnya berdiri, Alisa bisa melihat remasan kertas menumpuk di dalamnya, juga potongan kertas yang dirobek dengan tangan.

Alisa melemaskan gigitan lidahnya, namun masih memasang wajah kaku. Dia mengambil kesempatannya, dia berjalan ke arah tempat sampah. Segera dia menggali isi tempat sampah, membuka tiap kertas terremas dan membacanya dengan cepat. Setelah membaca beberapa tanpa menemukan petunjuk, dia mulai mengumpulkan potongan kertas dan menyusunnya, namun sebelum dia mulai, Claudia menyentaknya.

“Hentikan!”

Alisa mendengar perintah itu, namun dia mengacuhkannya dan lanjut menyusun informasi di atas kertas, potongan demi potongan, dengan cerdas menyambung sisi pesan sebelum bagian dalamnya.

“Aku bilang hentikan!!”

Claudia mengulang perintahnya dengan nada yang lebih tinggi seraya bangkit, namun Alisa masih mengacuhkannya. Meski masih jauh dari sempurna, bagian-bagian pesan mulai terbaca. Melihat Alisa mengacuhkan perintahnya dua kali, Claudia tergerak. Setelah dia memungut sebuah pembuka surat dari mejanya, dia mendekati Alisa.

Alisa dengar suara langkah kaki mendekat, namun gagal merasakan niat membunuh di dalamnya. Meski sudah banyak kata dan potongan kata, dia masih gagal menebak isi pesan, dan sebelum dia bisa membaca kembali isi pesan yang sudah ada, rambut Alisa ditarik oleh Claudia. Alisa menjerit saat dia diangkat, tanpa bisa melawan, Claudia melemparnya ke dinding.

Setelah punggungnya mental ke dinding, Claudia mengunci Alisa ke dinding dengan mencekik lehernya dengan punggung lengannya. Claudia menahan Alisa dengan kuat, bahkan kakinya nyaris melayang dari lantai.

“Aku bilang.. hentikan.”

“Atau apa? Kau akan melenyapkanku juga?”

“Dengarkan aku——”

Sebelum Claudia menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya, Alisa menendang perut Claudia dengan lututnya. Tendangannya tidak kuat, namun cukup untuk membuat Claudia melepaskan cekikannya. Mereka berdua jatuh hingga berlutut, Alisa meremas tenggorokannya sambil terbatuk dan Claudia mengusap perutnya untuk meredakan rasa sakit.

“Apa yang sebenarnya kau lindungi?” tanya Alisa sambil terbatuk dan dengan suara serak.

“Segalanya. Dan kau pikir itu mudah?”

“Lalu kenapa kau tidak bisa bilang?”

“Karena...”

“Karena apa?”

Tanpa menjawab, Claudia menerkam Alisa. Dia menampar Alisa sampai dia terjatuh ke lantai, Alisa yang masih kesakitan tidak melihat Claudia datang. Claudia menguncinya lagi, kali ini ke atas lantai. Dengan tangannya yang bebas, Alisa meronta, namun Claudia selalu bisa menangkis Alisa.

Setelah Claudia punya pegangan yang kokoh dan setelah Alisa berhenti meronta, Claudia memungut pembuka suratnya. Melihat ini, Alisa mencoba sekuat tenaga untuk membebaskan diri. Untungnya, sebelum Claudia bisa menusukkan pembuka surat ke arahnya, Alisa bisa membebaskan tangannya dan menahan tangan yang menghujamkan pisaunya.

“Claudia! Hentikan!”

“Buat aku berhenti!”

Alisa berusaha sekuat tenaga menahan ujung pisau mendarat ke wajahnya, dia fokuskan seluruh tenaganya ke tangannya, hingga otot tangannya terasa terbakar. Claudia yang memiliki stamina leih merasakan keletihan di tangan Alisa, dia mengguncang tangannya dan melemparkan tangan Alisa dari posisi bertahan. Sekarang dia punya jalur lurus untuk menikam Alisa.

Pisaunya mulai terangkat, setinggi mungkin yang diijinkan jangkauan tangannya, membangun momentum sementara Alisa hanya bisa menonton tanpa bisa melakukan apa-apa ke arah pisau dan ke arah Claudia. Alisa melihat betapa sulitnya bagi Claudia untuk mengangkat pisaunya, wajahnya diwarnai warna penyesalan, bahkan air mata tampak samar di sana. Meski lebih sulit, namun Claudia tidak ragu untuk mengayunkan pisaunya ke bawah, ke arah Alisa yang sudah menyerah dan menutup mata dan memalingkan wajahnya.

Sebuah suara pisau mendarat bisa terdengar, suaranya terdengar tebal dan keras. Tidak, itu bukan suara metal memotong kulit dan otot; itu suara keras metal menabrak kayu.

Alisa membuka matanya perlahan, pandangannya kabur oleh air mata, namun seiring jatuhnya air mata ke sisi wajahnya, dia mulai bisa melihat dengan jelas. Tepat di samping wajahnya, pisau pembuka surat sedang berdiri dengan ujungnya yang tertancap ke lantai kayu. Segera dia merasakan beban yang menahannya mengangkat diri. Claudia memindahkan dirinya dan terduduk di lantai, bersandar ke meja kerjanya.

Tanpa menurunkan kesiagaannya, Alisa perlahan bangkit. Dia menyandarkan punggungnya ke arah dindin dan menenangkan dirinya.

“Kenapa kau tidak menghabisiku?” tanyanya sambil terengah, bersuara serak, dan menyeka darah dari bibirnya.

“Karena aku tidak ingin kehilangan apa-apa lagi, tidak padanya. Lagipula aku sudah membuktikan sesuatu.”

“Dia? Maksudmu AF?”

Alisa melihat ke arah potongan kertas yang nyaris ia susun sempurna. Di tiga potongan kertas yang terhubung, tertulis sebuah inisial menandatangani pesan. AF.

“Intinya; tidak ada yang bisa kau lakukan, bahkan kau tidak bisa menang melawanku, apalagi apa yang ada di luar sana.”

“Itu tidak benar, aku akan menemukannya meski nyawaku jadi taruhannya.”

“Apa gunanya kalau kau mati?”

“Aku tidak peduli. Aku akan menemukan AF dan aku akan membawa Ferno pulang.”

“Sudah kubilang, tidak ada yang bisa kau lakukan! Mencarinya hanya akan membuang nyawamu!”

“Dan aku bilang aku tidak peduli!”

Alisa bangkit dan berjalan ke arah pintu, tampaknya pertemuan ini sudah membulatkan tekadnya.

“Tunggu dulu.” Saat Alisa akan keluar dari kantor, Claudia memanggilnya. Alisa berhenti, namun dia tidak berbalik. “Mau ke mana kau?”

“Sudah kubilang, aku akan membawa Ferno kembali.”

“Kau ini— Apa kau tidak belajar setelah aku nyaris membunuhmu? Kau tidak akan bisa!”

“Memang kenapa?”

“Apa kau tahu ke mana kau harus pergi? Jika aku tidak menghentikanmu di sini, artinya aku membiarkanmu pergi untuk misi bunuh diri. Dan aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi padanya!”

“Kau tidak akan bisa menghentikanku.”

“Bagaimana kalau aku bilang aku bisa memberikan segala yang kau butuhkan untuk pencarian ini? Setidaknya membuatmu lebih tangguh untuk tidak terbunuh sepanjang perjalanan?”

“...” Alisa berbalik. Dia menutup pintu dan menatap mata Claudia.

“Kau lemah, kau tidak bisa melindungi diri sendiri. Apa yang akan kau lakukan di luar sana?”

“...”

“Kau tidak bisa sembunyi selamanya, terutama saat kau mencari informasi. Kau butuh kekuatan, aku bisa memberikannya. Yang aku ingin tahu adalah apa kau benar-benar bersedia melakukan apapun demi ini? Apa kau siap untuk dirusak agar tidak ada yang bisa menyakitimu lagi?”

“Kalau memang bisa, kenapa kau tidak melakukannya sendiri?”

“Aku tidak bisa. Dia dan aku saling mengenal. Dia akan tahu aku mencarinya. Tapi kau berbeda. Jadi bagaimana?”

“Ya. Aku akan melakukan apapun yang dibutuhkan.”

“Bagus. Kau harus berkemas, siapkan segala yang kau butuhkan, kita berangkat besok. Siapkan dirimu sebelum jam 6 pagi.”

“Ke mana kita akan pergi?”

“Kau akan tahu nanti.”

“Baik, jam enam pagi besok.”

Setelah mengatakan itu, Alisa berbalik dan keluar dari kantor. Tidak sebelum dia keluar di koridor dia merasakan campuran kemarahan, kesedihan, dan ketidakmampuan membanjiri hatinya. Dia tidak tahu harus merasakan apa hingga dia mulai menangis. Meski begitu, dia tahu dia tidak bisa melakukannya di sini. Dia coba menahan nafasnya untuk membendung perasaannya, dia tidak bisa membiarkannya keluar sebelum dia sendirian di kamarnya.

Alisa bergegas menuju kamarnya, meski jauh, namun dia yakin dia bisa menahan tangis selama itu.

“Alycia?”

Sayangnya, tidak lama setelah dia mulai berjalan, seseorang turun dari lantai dua. Dia adalah Chris; seorang teman Ferno. Waktunya tidak tepat, Alisa memilih untuk mengacuhkannya dan melewatinya.

“Tunggu! Alycia!”

Melihat Alisa mengacuhkannya, Chris menarik tangan Alisa dan memaksanya menghadapnya. Saat itulah Chris melihat mata sembab dan pipi Alisa yang merona merah. Alisa tidak tahan ada yang melihatnya seperti ini, dia menyeka sisa air mata dari matanya sambil memalingkan wajahnya dari Chris.

“Kau kenapa?”

“...”

“Kau bertengkar lagi dengan Ferno? Apa lagi yang dia lakukan sekarang?”

“Bukan begitu—— Aku...”

“Ayo, di mana dia? Kadang-kadang dia memang keterlaluan.”

“Dia sudah pergi.”

Tangis Alisa tak lagi terbendung. Melihat ini, Chris tergagap, dia tidak tahu harus bagaimana. Namun akhirnya dia pasrah saat Alisa menidurkan kepalanya ke pundaknya.

Karena canggung menenangkan sesesorang di kodidor, Chris membawa Alisa ke taman dalam. Di sana mereka duduk bersama di bangku panjang, dan setelah Alisa tenang, dia menceritakan apa yang dia bisa pada Chris.

“Oh, jadi... besok kau akan pergi bersama Madam Magdalene?”

Setelah Alisa menyelesaikan ceritanya, Chris mulai bertanya-tanya.

“Seperti itulah. Mungkin kita tidak akan bertemu beberapa saat.”

“Kau akan pergi sendirian?”

“Yeah.”

“Itu bahaya, kalau kau memang akan mengerjakan misi ini, kau butuh bantuan. Aku akan pergi bersamamu.”

“Tidak, jangan. Claudia tidak akan mengijinkannya.”

“Kenapa tidak? Kau akan butuh bantuan di luar sana.”

“Aku senang mendengar tawaranmu, tapi yang aku cari tidak menguntungkanmu.”

“Jangan bilang begitu, Ferno temanku juga.”

“Jawabanku tetap tidak. Lagipula aku tidak ingin membahayakan orang lain.”

“Kalau begitu, biar kita tukar tempat; aku yang akan mencarinya sementara kau yang menunggu di sini.”

“Tidak. Aku tidak bisa hanya duduk manis menunggu. Lagipula kau seperti tangan kanan Ferno di sini, kau harus tinggal sebagai yang tertua—sebagai alpha.”

“Aku tidak terlalu senang mendengarnya, tapi janji, kalau kau memang akan pergi sendiri, berhati-hatilah.”

“Tentu saja. Aku tidak akan kembali sebelum aku menemukan mereka.”

“Baguslah.”

“Chris, terima kasih.”

“Bukan masalah, pastikan kau kembali, ya.”

“Memang itu rencanaku,” Alisa yang sudah tidak sesedih sebelumnya bangkit dari bangku. Dia merenggangkan punggungnya dan berbalik ke arah Chris. “Baiklah, aku harus siap-siap.”

“Oke.”

“Dan ngomong-ngomong, rahasiakan ini dari yang lain, oke?”

“Aku paham.”

Sore itu, Alisa kembali ke kamarnya dan mulai berkemas. Butuh sejam lebih untuk membereskan barang-barangnya. Akhirnya dia mengemas pakaiannya dan beberapa barang lain ke dalam tiga tas ransel.

Setelah itu, meski malam masih belum terlalu larut, dia memutuskan untuk pergi tidur. Dia kelelahan, terlalu banyak perubahan dalam satu hari.

Terjadi lagi,” pikirnya, “sama seperti Ayah meninggal.

Dia kelelahan, ingin beristirahat, namun tidak bisa. Akhirnya dia hanya berbaring selama beberapa jam sebelum jatuh tertidur.

Tidak sampai berjam-jam kemudian dia membuka matanya, ketika itu fajar sudah nyaris menyingsing. Hanya beberapa menit hingga waktu yang ditentukan. Dia pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dan untuk terakhir kali mempersiapkan dirinya. Setelah itu dia kembali ke kamarnya dan mulai memikul tas-tasnya ke kantor Claudia.

“Ah, nona Alycia.” Untungnya, tepat setelah dia keluar dari asrama perempuan, dia bertemu Claudia yang sepertinya akan pergi ke kamarnya. “Tepat waktu, kita akan pergi sekarang.”

“Baik.”

Alisa batal menuju ke kantor Claudia dan sekarang menuju keluar bersama Claudia. Di luar di tempat parkir, ada sebuah SUV biru terparkir, Claudia membuka pintu belakang dan meminta Alisa memasukkan barang-barangnya. Setelah itu mereka naik ke mobil, Claudia ke pintu supit dan Alisa ke pintu penumpang depan.

Claudia mulai mengemudi ke luar institusi segera setelah mereka mengenakan sabuk pengaman. Tidak sampai mereka masuk ke jalan tol pinggir kota Alisa mulai penasaran ke mana mereka akan pergi.

“Jadi, ke mana kita akan pergi?”

“Kita akan menemui teman lamaku.”

“Teman lama?”

“Ya. Dia memilih menjadi petapa di hari tuanya, jadi perjalanan ini akan makan waktu.”

“Oke, tapi apa hubungannya dia dengan kita?”

“Dia akan menjadi mentormu sebelum misi dimulai.”

“Ayolah, semakin lama ditunda, semakin sulit mengikuti jejaknya.”

“Karena itulah selama kau berlatih, aku yang akan mencari petunjuk pertamamu.”

“Setidaknya beritahu aku apa yang kau ketahui sekarang.”

“Tidak, aku tidak mau kau kabur memulai misi sebelum kau siap.”

“Tsk.”

“Jangan mengeluh. Ini demi kebaikanmu sendiri.”

Claudia tidak bercanda saat dia bilang perjalanannya akan panjang; butuh tiga jam lebih sebelum mobil mereka keluar dari jalan tol. Bahkan setelahnya mereka masih harus mengemudi lewat area rural di kaki gunung hingga sampai di bagian tersembunyi di gunung. Mereka pergi dari institusi pada pukul enam, saat Claudia akhirnya menghentikan mobilnya, matahari sudah melayang tinggi.

Mereka berhenti di sebuah gubuk. Di sana ada ladang kecil, yang mana tanahnya ditumbuni berbagai cocok tanam. Sebelum Alisa bisa mengamati lebih jauh, Claudia mematikan mesinnya dan mulai turun dari mobil.

“Ambil tasmu dan ikuti aku.”

Sementara Alisa mengambil tasnya dari belakang mobil, Claudia sudah berjalan ke gubuk dan mengetuk pintu depannya.

“Siapa di sana?!” Saat Alisa membawa tasnya, sebuah suara terdengar menjawab ketukan Claudia.

“Ini aku, buka pintunya.”

“Siapa? Aku sendiri menyebut diri sendiri dengan ‘aku’.”

“Aku Claudia! Sekarang buka pintunya!”

Begitu Alisa sampai di teras, sebuah wajah tampak mengintip dari jendela. Wajahnya tersamarkan oleh tirai yang setengah transparan. Dia hanya mengintip sesaat sebelum menarik wajahnya. Segera setelah itu, suara kunci terbuka terdengar dari balik pintu.

Suara itu berhenti, dan beberapa detik kemudian pintunya mulai terbuka. Di baliknya, berdiri sesosok pria berrambut hitam panjang beruban yang membuka pintu. Rambutnya diikat ke belakang, namun dia membiarkan sedikit rambutnya yang dibelah tengah menggantung dari sisi dahinya. Selera berpakaiannya juga lumayan aneh, dia mengenakan kemeja flanel berlengan pendek tak dikancing di atas kaos lengan panjang dan celana pendek, memperlihatkan sebuah luka besar di lutut kirinya.

“Claudia,” sapa sang pria dengan nada datar.

“Senang bertemu lagi denganmu,” balas Claudia dengan senyum tipis, “Elric.”

Komentar
5
Nilai
1
fsc fsc 09/07/2016 21:39:16 #4
Lorem ipsum dolor sit amet, praesent salutatus mnesarchum ius id. Mei quod aperiri ne. Maluisset consequat deseruisse nec no, posse consequat an nec. Qui ei veritus posidonium. An duo praesent partiendo. Ullum sententiae no mel, ad pri sonet nostrum maluisset, cum lobortis adipiscing an. Duo et ullum aperiam tamquam, at quando alienum lucilius mea. Sit et praesent appellantur. In fugit legimus patrioque quo, et est dicunt delicata. Habemus definitiones mea ea, adipiscing interpretaris vis at, mea tation equidem repudiare ex. Eum nobis dolores ne, vim velit voluptatum dissentias an. Scripta oportere no vix, vix error tantas feugiat ea, ut duo brute singulis. Vivendo fastidii ex mel, homero dissentias ad usu. Has in debitis inciderint, putant deseruisse necessitatibus his at. Ipsum ceteros no pri, an vis democritum consectetuer. Has verterem nominati no, ex erant omittam qui. Quo at viderer appellantur. Cu eum iuvaret delectus, sed eu delectus argumentum. Ut pri mandamus imperdiet molestiae. Euismod alienum definitionem et vis. Eum ne esse meliore reprehendunt. Illud paulo petentium ad duo. Te latine delectus est. Reque dicunt bonorum et ius, ea eam vitae homero.

alanndz alanndz 28/08/2016 11:50:57 #5 👍
well, tanya disini dah :'v caranya nambah ke daftar bacaan gimana?

fsc fsc 17/09/2016 10:42:15 #10
#5 belum ada. :'D

Erafla Erafla 09/02/2017 11:47:50 #59
Apa cerita ini enggak pernah diedit lagi?

fsc fsc 18/02/2017 16:50:55 #60
@Erafla#59 di versi cetak. :>
Belum ada komentar.
Tambahkan komentar
Tampilan
Bentuk teks: