ALLBLACK

ι - Hati Kaca yang Berdarah (Bagian Kedua)

Dipajang pada 15 December 2015 16:56:16 oleh fsc

Pria yang Claudia sebut dengan nama Elric tidak tampak ramah. Alisa hanya bisa menonton mereka saling bertatapan selama beberapa saat.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Elric memecah keheningan.

“Langsung ke pokok masalah, ya? Aku butuh bantuanmu.”

“Bantuan? Dariku? Sudah bukan jamannya aku bertarung.”

“Aku tahu, aku juga tidak akan minta kalau aku kira kau tidak sanggup.”

“Apapun permintaanmu, jawabanku masih tidak. Lebih baik kalian pulang.”

Elric lalu mencoba menutup pintu, namun sebelum pintu tertutup, Claudia menyangga daun pintunya. Ia menyelipkan sepatu hak tingginya di antara daun pintu dan mulutnya, mencegah Elric menutup pintu. Sang pemilik rumah tidak tampak senang melihatnya.

“Ini tentang Einhorn,” ujar Claudia sambil menahan pintu.

“Lalu kenapa? Bagiku dia sudah mati, dan aku juga sudah mati baginya; tidak ada apa-apa lagi di antara kami.”

“Jangan bilang begitu. Aku tahu kau masih mengincar Frost.”

Wajah Elric melemas. Alisa tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, namun sepertinya Claudia berhasil menarik perhatiannya.

“Baik, coba kudengar dulu. Apa yang kau butuhkan?”

“Setidaknya undang kami masuk, tidak sopan bicara di depan pintu.”

“Oke, oke. Masuklah.”

Setelah menghela nafas panjang, Elric membuka kembali pintunya. Claudia tersenyum puas sebelum menatap Alisa, dan Alisa tidak tahu harus berkata apa.

“Ayo, masuklah,” ajak Claudia.

Claudia memimpin Alisa masuk. Begitu mereka sampai di ruang tamu, Alisa menemukan ruangan yang relatif kosong. Sederhana; hanya ada satu meja kopi, dua sofa, dan sebuah kabinet kecil yang dihiasi ornamen-ornamen. Sofa dan mejanya tampak berdebu, tumpukannya tidak cukup tebal untuk dilihat, namun aroma debunya lumayan tercium.

Tidak hanya ruangan ini, Alisa juga menemukan saat Elric berjalan ke sofa untuk satu orang, cara berjalannya aneh; dia berjalan terpincang, namun mencoba menutupinya dengan berjalan layaknya orang normal, membuat langkahnya seperti tidak beraturan. Pasti karena luka lebar di lututnya. Namun meski begitu, Claudia tidak mencoba membantunya berjalan.

“Siapa anak ini?” tanya Elric seraya duduk di sofanya dan menunjuk ke arah Alisa.

“Jangan begitu,” jawab Claudia, “dia muridmu.”

Jawaban Claudia mengejutkan Alisa dan Elric, mereka menatap Claudia tajam dan penuh rasa penasaran.

“C— Claudia, apa maksud——”

Alisa berbisik mencoba menarik perhatiannya namun Claudia tidak kunjung memberikan perhatiannya, dia terlalu sibuk berbicara dengan Elric. Untungnya Elric juga memikirkan hal yang sama.

“Apa maksudmu dia muridku? Aku tidak mau mengasuhnya.”

“Kau harus mau. Lagipula memangnya kau punya hal lain untuk dilakukan?”

“Memang kenapa? Apa keuntunganku mengasuhnya? Seingatku kau yang selalu ingin mengasuh anak-anak.”

“Memang. Aku mengatuh sebuah panti asuhan di sisi lain kota. Tapi dia tidak berguna di bawah asuhanku.”

“Apalagi di sini.”

“Tidak benar.”

“Hmm?”

“Einhorn.”

“Jelaskan.”

Claudia menjeda, dia melepaskan pandangannya dari Elric dan berbalik ke arah Alisa. Akhirnya dia punya perhatiannya. Alisa mencoba mengatakan sesuatu begitu dia menyadari Claudia menatapnya, namun sebelum dia bisa berkata apa-apa, Claudia sudah mulai bicara duluan.

“Alycia, bisa ambilkan minuman untukku dan Elric? Kalau kau haus, kau bisa ambil sendiri.”

“Tunggu dulu, aku——”

“Tolong sekarang.”

Alisa menelan kata-katanya dan terdiam. Tanpa mengatakan apa-apa, dia berdiri dan masuk ke dalam rumah.

“Aku hanya punya bir dan jus jeruk,” ujar Elric ketika Alisa masuk ke bagian dalam rumah. “Aku ingin jus jeruk.”

“Ambilkan aku birnya,” timpal Claudia.

Setelah mendengar permintaan mereka, Alisa melanjutkan masuk ke dalam rumah. Dia mendengar Claudia dan Elric mulai berbisik, namun dia tidak terlalu memperhatikannya. Bagian dalam rumah juga tidak jauh berbeda dengan ruang tamu; tidak banyak hiasannya. Orang ini sepertinya sudah mengabdikan dirinya untuk hidup sendirian.

Setelah dia menemukan dapur, Alisa mencari gelas di kabinet-kabinet yang ia kira adalah kabinet porcelain. Di kabinet yang dia buka dan bukan tempat gelas, dia menemukan kalau pria ini sangat teratur. Dia menyimpan piring dan alat makannya di kabinet terpisah, bahkan alat masaknya punya tempat sendiri. Setelah mencari di beberapa tempat, akhirnya dia menemukan gelasnya.

Dia lalu berjalan ke lemari es dan menuangkan dia gelas jus jeruk. Setelah itu dia menaruh gelas-gelas jus jeruk dan sebuah bir kalengan di atas sebuah tatakan dan membawanya. Dia mengikuti jalannya kembali ke ruang tamu, dan sementara itu, dia menyadari betapa menenangkannya tempat ini.

Untuk sesaat, Alisa lupa dengan alasannya datang ke sini. Lonceng angin memainkan nada-nada menjemukan dan suara jarang-jarang tirai berkibar tertiup angin, semuanya membuat Alisa merasa damai. Dia paham kenapa Elric memilih tempat ini.

“Begitulah ceritanya.”

Begitu Alisa sampai, dia menemukan Claudia sudah mengakhiri pembicaraannya dengan Elric. Dia tidak berhenti bicara karena Alisa datang, tapi memang pada saat Alisa sampai mereka memang sudah selesai bicara. Saat Alisa menaruh tatakannya di meja, Elric merenggangkan punggungnya.

“Jadi dia belum mati, rupanya?”

“Dari apa yang baru kuceritakan, apa Cuma itu yang kau dengar?”

“Tentu saja tidak. Apa kau yakin anak ini sanggup?”

“Entahlah. Dari segi kemampuan dia memang tidak mencukupi, tapi dia punya kemauan dan semangat.”

Setelah Alisa kembali ke tempat duduknya, Elric menatapnya sementara Claudia mengambil bir kalengan dan membukanya.

“Hey, nak,” sementara Claudia meminum birnya, Elric bertanya pada Alisa. “Kau tahu untuk apa kau di sini, bukan?”

“Y— Ya, aku tahu.”

“Yaitu?”

“Aku di sini untuk menyelamatkan——”

“Ohh, tidak, tidak... Kau di sini untuk mati. Apa kau siap?”

“Aku——”

Alisa tidak menduga jawaban demikian darinya. Dia tersenyak, namun dia tidak takut, dia justru mengumpulkan keberaniannya.

“Jika dengan mati aku bisa menyelamatkan mereka yang ingin kuselamatkan, maka aku siap.”

“Huh.”

Tatapan tajam Elric pecah, dia terkekeh mendengar jawaban Alisa hingga ia tidak bisa menahan tawanya. Elric tertawa terbahak. Alisa penasaran apakah jawabannya aneh sementara Claudia tidak berkata apa-apa. Butuh beberapa detik hingga Elric berhenti.

“Aku suka dia,” lanjut Elric setelah ia berhenti tertawa.

“Jadi kau akan melatihnya?” tanya Claudia.

“Kita lihat saja apa yang dia dan aku bisa lakukan.”

“Aku anggap kau menjawab iya,” melihat Claudia bangkit dari tempat duduknya, Alisa juga ikut berdiri. “Aku pamit dulu.”

Claudia lalu berjalan keluar, Alisa mengejarnya karena dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia memanggilnya beberapa kali namun Claudia tidak kunjung berhenti. Tidak sampai dia sampai di mobilnya Alisa bisa mengejarnya.

“Claudia, tunggu!”

“Ada apa?”

“Kau mau ke mana?”

“Aku harus pulang, kau tinggal di sini bersamanya dan bersiap untuk misimu.”

“Sampai kapan?”

“Sampai kau siap. Jika saat itu tiba, aku akan memberikan petunjuk pertamamu. Atau kau berubah pikiran?”

“Tidak.”

“Baguslah. Kita akan bicara lagi segera.”

Dan seperti itulah, Claudia naik ke mobilnya dan menyalakannya sebelum memutar mobilnya di halaman depan dan mengemudi pergi. Alisa hanya bisa menonton saat Claudia menghilang di ujung jalanan berdebu.

Setelah beberapa detik menatapi jalanan, Alisa menghela nafas dan kembali ke dalam rumah. Di sana, Elric masih terduduk di sofa, meminum jus jeruknya.

“Umm...”

“Namaku Eldrich, Shanks. Sebutkan namamu, nak.”

Dia terus-terusan memanggil alisa dengan sebutan ‘nak,’ dia tidak terlalu suka, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa terhadapnya.

“Alycia.”

“Oke. Mulai sekarang, kau berada di bawah asuhanku. Yang berarti pada dasarnya kau sudah mati. Karena meski aku mengajarimu, aku bukanlah gurumu, aku adalah musuhmu; lawan pertama yang harus kau taklukkan sebelum keluar dan menantang dunia. Kau mengerti?”

“Y— Ya.”

“Bagus. Latihanmu dimulai besok. Aku berikan kesempatan satu hari untuk tinggal di dunia, karena mulai besok, kau akan mulai hidup di neraka. Bereskan barang bawaanmu. Kamarku di lantai dua, di seberang loteng.”

“Baik.”

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Alisa membawa ransel-ranselnya ke dalam rumah. Dia naiki tangga dan menemukan tiga ruangan; sebuah kamar mandi, loteng, dan sebuah kamar tidur. Tidak seperti bersihnya ruangan-ruangan di lantai dasar, kamar ini sudah lama tidak ditinggali ataupun dibersihkan, jelas dari kondisinya yang penuh debu. Bahkan berjalan di karpetnya menyebarkan debu yang cukup untuk membuat Alisa terbatuk.

Alisa menunda membongkar muatannya, hal pertama yang harus dia lakukan adalah membersihkan kamar ini. Dia harus menanyakan Elric di mana dia menyimpan peralatan bebersihnya. Namun saat dia akan keluar, Alisa terkejut menemukan Elric berdiri di balik pintu. Untuk orang yang berjalan terpincang, langkahnya benar-benar sulit didengar.

“Kamarnya sedikit kotor. Aku tidak punya kesempatan untuk membersihkannya. Repot kalau harus naik tangga hanya untuk membersihkan kamar ini.”

Tentu saja. Dari keadaan lutut kirinya, tentunya Elric tidak suka dengan tangga.

“Di mana kau simpan peralatan bersih-bersihnya?”

“Di lemari di bawah, di seberang kamar mandi.”

Alisa berjalan melewati Elric dan perg ke tempat di mana peralatan bebersih disimpan, dia mengambil sebuah sapu dan sebuah serok dan kembali ke kamarnya. Saat dia sampai, Elric sudah turun ke lantai dasar. Alisa mulai membersihkan kamar sampai seroknya dipenuhi dengan debu. Setelah itu, dia menggulung karpet, sprei kasur, selimut, dan bantalnya dan membawanya ke luar untuk dibersihkan dari debu. Sepanjang siang hari itu, Alisa menghabiskan waktunya untuk beres-beres.

Tidak sampai sore akhirnya dia selesai beres-beres; kamar bersih, pakaiannya di lemari, dan barang-barang pribadi menghiasi meja sisi tempat tidur. Dia tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan setelah bersih-bersih, untungnya Elric memanggilnya untuk makan malam.

Di lantai dasar, Elric sudah menyiapkan makan malam untuk dua orang. Alisa duduk di kursi meja bundar dan mulai makan. Beberapa kali menyendok, Elric mulai bicara, memecahkan keheningan.

“Mulai besok—selama kau di sini—kau yang memasak, bersih-bersih, dan mengerjakan tugas-tugas lainnya.”

“Tugas-tugas lain?”

“Aku belum menentukan.”

“Baik,” Alisa memastikan, “lalu, untuk latihanku...”

“Ada apa?”

“Apa saja yang butuh aku pelajari? Maksudku...”

“Kau akan belajar segala yang kau butuhkan untuk berperang, jadi siap-siap untuk kejutan.”

“Baik.”

Sisa makan malam berjalan cepat. Karena mereka baru saling mengenal, masih ada tekanan canggung di antara mereka yang mengatakan ‘sebaiknya jangan lama-lama bersamanya.’ Dan begitulah, setelah makan malam, Alisa mencuci piring-piring dan kembali ke kamarnya sementara Elric pergi ke tempat lain.

Alisa sudah meremehkan kesunyian tempat ini. Bahkan ketika malam masih muda, ketenangan tempat ini sudah membuatnya mengantuk, selain itu, dia juga cukup lelah membersihkan ruangan ini, belum lagi keletihan emosional dari perpindahan hari ini. Alisa mengganti bajunya ke pakaian tidur dan mematikan lampu. Dia pun memilih untuk tidur.

Suasana yang tenang bagaikan menjadi nyanyian penidur, mengantarkannya terlelap. Saking tenangnya—mungkin—hingga memicu emosinya secara tidak sadar. Apapun yang sedang diimpikannya, cukup untuk membuatnya menangis dalam tidur.

Sayangnya, tidurnya terganggu oleh ancaman yang tak ia ketahui. Kesunyian yang menenangkan membuatnya tidak siaga, dia gagal menyadari seseorang telah memasuki kamarnya. Saat dia sadar, sudah terlambat; seseorang menyumpal mulut dan hidungnya, membuatnya terbangun seketika.

Keadaannya terlalu gelap untuk bisa memahami apa yang sedang terjadi, yang dia tahu hanya bahwa nyawanya sedang terancam, tidak butuh insting kuat untuk tahu kalau ada pisau sedang terhunus ke tenggorokannya.

Alisa mengerang, mencoba mempertahankan dirinya. Namun percuma, pisaunya tetap berada di tempatnya; terhunus ke lehernya. Segera begitu Alisa kehabisan stamina untuk melawan, sosok itu mendekatkan wajahnya ke wajah Alisa sambil berbisik. Suara itu adalah suara Elric.

Setelah dia menyadarinya, Elric mengangkat tangannya, namun tidak sebelum dia menyayat punggung pergelangan Alisa dengan pisaunya.

Segera setelah dia punya kebebasan untuk menggerakkan badannya dan menyadari lukanya, Alisa menempelkan bibirnya ke luka sayatan di punggung pergelangannya dan menghisap darah yang keluar. Sementara itu Elric berjalan terpincang ke saklar lampu dan menyalakannya.

Dengan cahaya, Alisa bisa melihat jelas dia sedang memegang pisau. Bagian kecil pisaunya ternodai dengan darah; darah Alisa.

“Apa-apaan kau?!” sentak Alisa pada Elric sambil masih menghisap darah dari pergelangan tangannya.

“Hari pertama latihan, nak! Pelajaran pertama; selalu siap untuk kejutan! Kau tidak akan tahu kapan orang lain akan membunuhmu dan kau punya banyak waktu untuk membunuh lawanmu dengan satu serangan diam-diam!”

“Tidak perlu mengajariku dengan cara seperti ini!”

“Tentu saja perlu. Aku lahir dan dibesarkan di tengah peperangan; instinglah yang sudah menyelamatkanku berulang kali. Dan di tengah peperangan, kau juga akan sangat membutuhkannya.”

“Kau...”

“Oh, dan segera bersiap-siap. Kita akan memanjat gunung dalam dua jam.”

“Apa?!”

Elric meninggalkan kamar Alisa sementara Alisa masih berlutut di kasurnya, menghisap darah dari lukanya yang sudah hampir kering. Dia masih mengantuk, namun setelah apa yang baru saja terjadi, dia tidak merasa bisa kembali tidur.

Untungnya, dia juga membawa kotak obat. Jadi sementara dia tidak bisa tidur, dia mengobati lukanya dan membalutkan perban ke tangannya. Tidak lama kemudian, panggilan dari Elric bisa terdengar dari lantai dasar.

“Cepat, nak! Aku sudah minta kau siap-siap sejak berjam-jam lalu!”

“Sebentar!”

Tidak butuh dipaksapun Alisa sudah ingin mempercepat langkahnya, dia hanya lamban karena dingin. Dinginnya pegunungan, saat malam memang tidak terasa, namun saat fajar, dinginnya terasa menusuk hingga ke tulang.

Alisa menuruni tangga segera setelah ia mengenakan mantelnya. Bahkan dengan jaket paling hangat yang ia miliki, tiap nafasnya masih menghembuskan asap putih.

Di lantai dasar, Elris sudah menunggu di depan perapian sambil meminum teh panas. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan cuaca dingin seperti ini.

“Selamat datang di pegunungan, nak.”

“...” Alisa tidak berkomentar.

“Ayo berangkat.”

Sejak apa yang terjadi sebelumnya, Alisa masih membenci Elric dan menolak untuk bicara padanya. Untuk dua puluh menit pertama perjalanan mereka, Alisa hanya mengikutinya tanpa mengatakan apa-apa. Alisa mulai merasa jalan-jalan ini tidak akan ada akhirnya jika ia tidak mengatakan apa-apa, dia pun akhirnya memutuskan untuk mulai bicara.

“Ke mana tujuan kita?”

“Oh, mulai bicara rupanya. Ada tempat yang ingin kutunjukkan, kita hampir sampai.”

“...bagaimana kau akan melatihku?”

“Seperti semalam, aku akan terus menyerangmu secara sporadik. Tiap kali kau gagal melindungi diri, aku akan menyayat lenganmu. Sebagai peringatan, kau jangan membiarkanku menang terus-terusan, semakin banyak kau kalah, semakin besar kesempatanmu kehilangan tanganmu.”

“Rasanya tidak seperti latihan.”

“Buatku itu latihan; seperti itulah caraku melatih murid.” Sementara mereka berjalan, matahari mulai terbit. “Oh, kita sampai.”

Mereka berhenti di tengah hutan, di dasar sebuah bukit kecil. Beberapa saat Elric memandang sekitar, mencari sesuatu, lalu ia menuntun Alisa ke arah sebuah pohon.

Pohon yang ditujunya tidak berbeda dengan pohon lainnya, namun Elric tampak tertarik ke arahnya. Begitu mereka cukup dekat, Elric melompat dan meraih salah satu dahannya. Dia memanjat pohon hanya dengan kedua tangannya.

Saat ia sampai di satu ketinggian, dia duduk di atas dahan. Dia lalu menyesuaikan posisinya ke pinggir, semakin dekat dengan badan pohon dan mengetuknya. Setelah menunggu beberapa detik tanpa balasan, dia memasukkan tangannya ke sebuah lubang di badan pohon.

“Sedang apa kau?” tanya Alisa dari bawah.

Tanpa menjawab Alisa, Elric segera menarik tangannya keluar. Di tangannya ada segenggam kenari. Seteah dia menaruhnya di kantung kemejanya, dia memanjat turun dengan cara yang sama seperti saat dia naik.

“Lihat ini?” tanya Elric pada Alisa seraya menunjukkan kenari yang baru didapatkannya.

“Sebiji kenari?”

“Bukan kenari biasa. Ini kenari mijou; salah satu biji kenari paling mahal di dunia. Seharusnya hanya tumbuh di sekitar Asia barat. Kacangnya adalah bumbu kelas dunia dan kulitnya digunakan sebagai obat-obatan. Kau bisa beli rumah dengan 150 kilogram kacang ini.”

“Jadi ingin dijual?”

“Tidak. Akan kumakan sendiri. Untuk apa jual kacang langka yang tumbuh di halaman belakang rumahku?” ujar Elric sambil terpincang menjauh dari pohon dan memberi Alisa kenari yang dipegangnya. “Ini, coba satu.”

Alisa menangkap kenarinya dan mencoba membukanya, setelah mencoba beberapa kali dia masih tidak bisa membukanya; cangkangnya terlalu tebal. Padahal Elric bisa memecahkannya hanya dengan meremasnya dalam genggamannya.

“Oke, kacang mahal,” ujar Alisa sambil menyerahkan kembali kenari yang tidak bisa dibukanya. “Apa hubungannya denganku?”

“Kita baru saja berjalan setengah jam untuk segenggam kenari ini. Dan lihat aku. Keadaanku tidak mengijinkanku untuk sering-sering datang ke sini. Jadi untuk latihanmu, setiap pagi kau akan lari ke sini dari rumah dan kembali dengan segenggam kenari ini.”

“Sepertinya mudah.”

“Tidak juga. Udara pegunungan yang tipis akan membuat paru-parumu terbiasa dengan kadar oksigen yang sedikit. Dan kau harus mengumpulkan kenari ini sebelum sepuluh menit setelah matahari terbit.”

“Kenapa?”

“Kenari ini tidak tumbuh di sini. Tempat pohonnya tertaman tidak diketahui. Kenari ini ada di pohon tadi karena tupai yang mengumpulkannya, dan di saat yang kukatakan tadi mereka sedang mencari lagi. Esensinya kau hanya mengambil setengah dari yang ada dan tidak saat mereka sedang berada di sarang mereka, supaya kau tidak menakuti mereka dan membuat mereka pindah sarang. Kalau tidak kita harus mencari ke mana mereka memindahkan sarang mereka. Paham?”

“Ya.”

“Ada pertanyaan?”

“Bagaimana dengan rumah? Aku belum biasa berkeliaran di hutan ini.”

“Lihat asap itu?” Elric menunjuk ke asap yang membumbung di belakang mereka. “Asap itu berasal dari perapian di rumah. Untuk rutenya, jika kau mengikuti asap itu lurus dari sini, kau akan sampai ke rumah dua kali lebih cepat.”

“Lalu kenapa tadi kita ambil jalan panjang?”

“Karena kalau lewat rute itu, kita harus melompati sungai, memanjat pohon, menuruni tebing dan memanjatnya; yang mana tidak bisa kulakukan.”

“Tentu saja.”

“Sebaiknya kita segera kembali. Sudah saatnya sarapan.”

Demikianlah, hari-hari latihan Alisa dimulai. Tiap pagi, dia berlari ke hutan mengitari bukit dan kembali untuk memasak sarapan. Sekali dia pernah mencoba mengambil jalan singkat, namun gagal dan nyaris membahayakan dirinya. Siangnya Elric menontonnya berolahraga fisik. Dan sorenya, biasanya dia sudah kelelahan untuk beradu tanding dan memasak makan malam; bahkan sesekali dia tidak sanggup memotong sayuran.

Bulan pertama adalah yang terburuk; dua minggu latihan pertamanya, dia merasa ingin mati. Dia mencoba bergadang supaya dia bisa memergoki Elric menyusup ke kamarnya. Namun dia salah, tiap kali dia bergadang, Elric tidak menyerangnya, membuat Alisa kelelahan sepanjang siangnya. Belum lagi dia harus berlatih di tengah musim dingin yang menusuk tulang. Meski demikian, dia tidak menyerah. Luka sayatan menumpuk di punggunh pergelangan tangannya hingga hampir tidak ada lagi tempat untuk luka baru. Untungnya saat itu dia mulai berubah.

Di bulan ketiga, Alisa berubah. Dia mulai bisa menandingi Elric di pertarungan latihan. Di pagi hari, dia mengambil jalan pintas, kali ini tanpa gagal. Dan malamnya, dia sanggup bangun sebelum Elric menyerangnya. Di titik ini, Elric mulai mengajarinya untuk menggunakan senjata api, bagaimana bertarung dengan senjata tumpul dan tajam, dan bagaimana caranya menangani peledak.

Bulan keempat, hari yang Elric sebut adalah hari terakhir pelatihannya. Hari itu spesial. Pagi itu, Alisa memanjat pohon untuk mengambil kenari. Namun bukannya memanjat, dia melompat di antara pepohonan. Setelah dia mengumpulkan segenggam kenari, dia menaruhnya di saku jaketnya dan melompat turun. Dia mengatur nafas, menenangkan diri. Butuh beberapa detik untuk menstabilkan nafasnya setelah berlari lima belas menit tanpa henti.

“Oke...”

Dia mengambil nafas panjang dan berbalik. Meski masih gelap, namun asap dari rumah tampak samar terlihat. Setelah dia mengambil ancang-ancang, dia melesat ke arahnya.

Sebulan berlari bolak-balik dari rumah ke hutan sudah menciptakan jalurnya sendiri. Dia mengikuti jejaknya yang biasa hingga dia menemukan jurang kecil. Tanpa berhenti dia melompat menyeberang. Jurangnya memang kecil, namun cukup untuk membuatnya mendarat tepat di tepian. Di percobaan awalnya dulu, Alisa harus menangkap tepian dan memanjat ke sisi lainnya, namun sekarang dia sudah jadi cukup lincah untuk melompati jurangnya, meski masih nyaris.

Dia lalu melanjutkan berlari, kali ini melompat di antara bebatuan. Entah ke hutan atau pulangnya, selalu ada memanjat dan menjatuhkan diri. Di sini, dia selalu bisa melompat dan mendarat dengan mulus tanpa mengurangi kecepatan.

Di bagian akhir rute ini adalah memanjat tebing ke rumah, namun belakangan ini dia menemukan kalau dia melompat di antara pepohonan, dia bisa menghemat banyak waktu. Dan begitulah, setelah dia keluar dari area bebatuan, dia memanjat ke atas pohon dengan menapaki pohon tumbang dan terus memanjat lebih tinggi di antara dahan pepohonan.

Dia menyusuri dinding tebing terdekat hingga dia menemukan sebuah celah dan melompat ke arahnya. Di sini dia berhenti berlari dan mulai berlari ringan. Beberapa langkah kemudian, dia sampai di rumah, tepat sebelum matahari terbit. Membuat kembalinya ke rumah disoroti cahaya mentari terbit.

“Oh, selamat datang kembali.”

Di teras rumah, Elric sedang terduduk sambil meminum teh paginya. Alisa mendekatinya dan menaruh kenari-kenari di atas meja di sampingnya. Dia lalu duduk di seberangnya dan beristirahat, mereka berdua pun menikmati pemandangan matahari terbit di antara bukit.

“Jadi mulai besok, kau akan pergi,” ujar Elric sambil mengambil satu kenari dan memecahnya dengan cengkraman satu tangannya.

“Sepertinya,” jawab Alisa sambil memecahkan kenari juga, hanya saja dengan kedua tangannya, “ada berita dari Claudia?”

“Minggu lalu. Aku sudah bilang kau akan siap sekitar hari ini.”

“Baguslah.”

“Ya, bangun, nak. Kita mulai tes akhirmu.”

“Tes akhir?”

“Ingat apa yang kukatakan di hari pertama kau sampai di sini? Aku bilang bahwa aku ini adalah musuhmu, lawan pertama yang harus kau taklukkan sebelum menantang dunia. Sekaranglah saatnya, kita akan bertarung sungguh-sungguh.”

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Elric bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke halaman belakang dengan Alisa membuntutinya.

“Ayo, kali ini aku tidak akan setengah-setengah.”

Hingga saat ini, saat Alisa berlatih tarung dengan Elric, Elric tidak pernah memasang kuda-kuda dan selalu mengalahkan Alisa tanpa bergerak banyak. Namun kali ini, Elric menekuk lututnya; memasang kuda-kuda. Meski Alisa terkejut, dia juga memasang kuda-kuda. Mengingat pelatihannya, Alisa tahu Elric akan mengejutkannya untuk terakhir kali.

“Ada apa? Kenapa tidak menyerang? Tidak biasanya. Biasanya kau akan menyerang pertama.”

Alisa belum mulai menyerang karena dia tahu Elric pasti merencanakan sesuatu. Sayangnya, dia harus bereaksi sebelum dia tahu apa itu atau sebelum dia bisa mengantisipasinya.

Dalam sekejap, Elric melesat maju. Gerakannya sangat cepat, dia menempatkan kaki kanannya di depan supaya dia bisa memindahkan beratnya ke depan dan melontarkan dirinya dengan lompatan keras. Kurang dari satu detik dan satu lompatan, Elric menutup jarak di antaranya dan Alisa, nyaris tidak ada waktu untuk Alisa menghindari tinju yang diayunkan Elric.

Gerakannya cepat!” ini kali pertama Alisa melihat Elric menyerangnya dengan kecepatan ini hingga membuatnya terkejut. Demikianlah pikirnya ketika nyaris tidak bisa menghindari serangan Elric.

Elric tidak berhenti menyerang. Begitu dia mendaratkan kakinya, Elric memutar badannya dan melontarkan pukulan lain ke arah Alisa. Kali ini dia tidak punya waktu untuk menghindar, dia pun harus menangkis serangan Elric.

Dengan kedua tangannya, Alisa berhasil menahan pukulan Elric. Kekuatan kasar Elric nyaris menembus pertahanan Alisa, namun dia melompat ke samping dan membuat jarak.

Alisa menyadari kalau kuda-kuda Elric bertumpu pada kaki kirinya yang diposisisikannya di belakang, yang mana tentunya melemahkan keseimbangannya. Karena dia tahu Elric tidak akan menunggu, Alisa menyerang maju. Dia melompat ke arahnya dan melepaskan tendangan berputar ke arah wajahnya.

Tidak sulit untuk mematahkan serangan Alisa. Dia menangkap tumit Alisa, namun Alisa melanjutkan putaran badannya dan melepaskan tendangan lain dengan kaki satunya.

Tendangannya kali ini mengenai sasarannya. Elric melepaskan kaki Alisa dan terhentak ke belakang sementara Alisa mendarat dengan tangan dan kakinya. Karena dia tahu dia rawan diserang balik, dia pun berguling menjauh dari Elric.

“Apa aku pernah cerita kenapa aku memilih tinggal di sini?” Elric bicara di tengah pertarungan sambil mengusapkan tangannya ke pipinya di mana Alisa menendangnya. Biasanya saat dia bicara seperti ini, dia memberi pelajaran singkat untuk Alisa, namun tidak kali ini.

“Sepertinya belum.”

“Karena aku marah—selalu marah—itu sebabnya.”

Begitu selesai mengatakan itu, Elric melesatkan dirinya maju lagi seperti sebelumnya, namun bukannya mengayunkan tinju, dia mencoba menendang Alisa. Alisa menangkis tendangannya dan menggunakan kaki kanan Elric sebagai pijakan agar dia bisa cepat berdiri. Segera Alisa mulai mengayunkan tinju, siku, dan tendangan ke arahnya. Mereka terikat dalam pertarungan jarak dekat. Mereka saling bertukar serangan dan saling menangkis serangan satu sama lain. Pertarungan mereka berlangsung sengit, hingga Alisa membuat kesalahan; dia menggunakan kedua tangannya untuk menangkis serangan dan tidak bisa menghindar.

Elric berhasil menghantam perut Alisa, membuatnya tersentak untuk sesaat, namun cukup untuk membuat Alisa tidak bisa bereaksi saat Elric menamparnya dengan punggung tangannya dan membuatnya terhempar ke belakang.

“Lihar seberapa jauh perkembanganmu sepanjang beberapa bulan ini. Kau sudah sampai jauh sampai kau berpikir kau tidak mungkin membuat kesalahan, tapi kau salah.”

Alisa masih merintih dan meringankan rasa sakit di perutnya saat Elric mulai kembali bicara. Dia mencoba tidak menghiraukan rasa sakitnya dan berdiri, namun pukulan terakhir tadi meninggalkan rasa sakit tanpa luka yang sulit diacuhkan.

“Yang ingin kukatakan adalah bahwa di dunia ini, kau hanya punya satu kesempatan, buat satu kesalahan dan kau tamat. Aku membuat kesalahan, dan aku harus menerima akibatnya, masih beruntung aku masih bisa hidup.”

“Kau membuat kesalahan?” Alisa bangkit sambil terbatik dan terengah, untuk saat ini dia sudah menahan cukup rasa sakit untuk bisa kembali berdiri.

“Yeah. Kesalahanku adalah terlalu percaya. Akibat yang kutanggung adalah lukaku; luka di lutut kiriku.”

“Lalu kenapa? Kau masih hidup, apa tidak cukup?”

“...”

Elric menghela nafas. Dia mengeraskan tinjunya dan melesatkan diri ke arah Alisa, kali ini mendarat cukup dekat di hadapan Alisa dan melepaskan rentetan pukulan. Untuk beberapa saat Alisa sanggup mengimbangi serangan Elric dengan mengitarinya, namun serangannya yang tanpa henti segera menguras stamina Alisa. Alisa tidak sanggup mengimbangi kecepatan Elric, pukulan bertubi-tubi menghantam tubuhnya. Elric mengakhiri serangannya dengan melepaskan uppercut ke rahang Alisa.

Lagi, Alisa terhempas ke belakang. Elric tidak bercanda saat dia bilang dia selalu marah, sekarang dia bisa merasakannya di dalam tinjunya. Meski serangan kali ini tidak sekeras sebelumnya, namun dia butuh membuat jarak.

“Kau belum paham juga? Aku marah karena aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Aku ingin sekali membalaskan dendamku, namun tidak mungkin dengan keadaanku saat ini.”

“Kau akan memberitahukanku dari mana lukamu berasal?”

“Tentu saja. Saat itu sangat menentukan bagiku, aku kira aku bisa percaya pada seseorang sampai aku kira dia tidak mungkin menikamku dari belakang. Namun dia mengkhianatiku. Dia adalah salah satu pembunuh paling mematikan di dunia, dia dikenal dengan sebutan sang Nightingale. Hanya sedikit orang yang tahu identitasnya. Namanya adalah Arthur Frost.”

“Aku mengerti, intinya jangan terlalu percaya pada orang lain.”

Elric mengangkat pundaknya, lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi dia melompat ke arah Alisa. Dia terus menyerang sementara Alisa menangkis. Mereka mulai bertukar serangan lagi, meski Elric tidak menurunkan kecepatannya, kali ini Alisa bisa mengimbanginya.

“Ayo, nak! Kalahkan aku kalau kau ingin menang!”

Empat bulan dia di sini, belum pernah Elric memanggilnya dengan namanya. Dia terus memanggil Alisa dengan sebutan ‘nak.’ Selama empat bulan itu, dia tidak mengatakan apa-apa, namun sekarang dia merasa berbeda; dia bisa melakukan sesuatu.

Setelah dia menangkis serangan Elric, dia melihat kalau Elric selalu memposisikan kaki kanannya di depan. Ini membuat dua hal, memberikannya keseimbangan yang lebih baik untuk melepaskan serangan dan melindungi titik lemahnya dari lawannya. Namun kali ini, dia menyadari satu hal lain; kalau kakinya itu bisa menjadi pijakan.

Di antara satu detik antara sebelum Elric melepaskan serangan lain, Alisa melompat ke lutut kanan Elric dan melontarkan dirinya ke atas, dia menangkap pundak Elric dan mendaratkan dirinya ke belakang Elric.

Saat ini dia berada tepat di hadapan titik lemah Elric, Elric juga tahu kalau dia berada di posisi berbahaya, maka ia pun melepaskan serangan ke belakang dengan sikunya. Serangan ini seperti sebuah taruhan, dengan melepaskan serangan ini dia mengorbankan keseimbangan lutut kirinya yang lemah yang menyangga bobot tubuhnya. Tidak mengejutkan Alisa bisa menghindarinya dengan mudah, dari sini, dia sudah mengamankan kemenangannya.

Alisa menangkap siku kanan Elric yang digunakannya menyerang dan menariknya ke belakang. Keseimbangan Elric tumbang dengan amat mudah karena dia bertopang pada kakinya yang lemah. Alisa terus menariknya ke belakang sebelum dia mengangkatnya ke udara dengan menendang lutut kirinya. Dan dengan tarikannya, Alisa bisa melontarkannya berputar sebelum Elric tersungkur ke atas tanah.

Elric terjatuh wajah di bawah dan Alisa menguncinya dengan menekan lututnya ke punggungnya. Alisa sudah menang.

“Namaku Alycia,” ujarnya sambil terengah-engah.

Meski dia kalah, Elric terkekeh. Alisa kira dia sudah mengakui kekalahannya, Alisa pun bangkit dan mundur. Sementara Elric membalikkan badannya, tawanya semakin menjadi, butuh beberapa saat hingga dia puas dan bangkit sebelum terduduk bersila.

“Bagus sekali, Alycia,” ujarnya dengan senyum lebar. “Itulah pelajaran terakhir yang bisa kuajarkan; saat kau tahu kelemahan lawanmu, jangan ragu untuk memanfaatkannya.”

“Ngomong-ngomong, soal lukamu...” lanjut Alisa, “apa maksudmu dengan membalaskan dendam?”

“Oh, yeah. Aku bilang begitu. Sebelum melukaiku, dia bilang luka ini akan jadi hutangnya. Namun aku tidak punya kesempatan menagih hutangnya karena aku tidak lagi sanggup. Aku yakin kau akan menemui Frost dalam misimu. Jika kau bertemu dengannya, maukah kau menagih hutang ini untukku?”

“Uhh, ya. Tentu.”

“Terima kasih. Tugasku sudah selesai.”

“Berarti aku siap?”

“Ya. Kau sudah siap. Kau hanya perlu menunggu sampai Claudia datang.”

Alisa tersenyum, akhirnya empat bulan latihannya membuahkan hasil. Segera dia bisa memulai misinya. Dia mendekati Elric dan membantunya berdiri, namun saat dia mengangkat badan Elric, Elric memanggilnya.

“Ngomong-ngomong, mungkin ada satu hal lagi yang bisa kuajarkan padamu.”

“Apa itu?”

“Sesuatu yang sederhana saja, namun sudah menyelamatkanku berulang kali; kemampuan untuk menghitung.”

“Huh?”

Komentar
5
Nilai
1
fsc fsc 09/07/2016 21:39:16 #4
Lorem ipsum dolor sit amet, praesent salutatus mnesarchum ius id. Mei quod aperiri ne. Maluisset consequat deseruisse nec no, posse consequat an nec. Qui ei veritus posidonium. An duo praesent partiendo. Ullum sententiae no mel, ad pri sonet nostrum maluisset, cum lobortis adipiscing an. Duo et ullum aperiam tamquam, at quando alienum lucilius mea. Sit et praesent appellantur. In fugit legimus patrioque quo, et est dicunt delicata. Habemus definitiones mea ea, adipiscing interpretaris vis at, mea tation equidem repudiare ex. Eum nobis dolores ne, vim velit voluptatum dissentias an. Scripta oportere no vix, vix error tantas feugiat ea, ut duo brute singulis. Vivendo fastidii ex mel, homero dissentias ad usu. Has in debitis inciderint, putant deseruisse necessitatibus his at. Ipsum ceteros no pri, an vis democritum consectetuer. Has verterem nominati no, ex erant omittam qui. Quo at viderer appellantur. Cu eum iuvaret delectus, sed eu delectus argumentum. Ut pri mandamus imperdiet molestiae. Euismod alienum definitionem et vis. Eum ne esse meliore reprehendunt. Illud paulo petentium ad duo. Te latine delectus est. Reque dicunt bonorum et ius, ea eam vitae homero.

alanndz alanndz 28/08/2016 11:50:57 #5 👍
well, tanya disini dah :'v caranya nambah ke daftar bacaan gimana?

fsc fsc 17/09/2016 10:42:15 #10
#5 belum ada. :'D

Erafla Erafla 09/02/2017 11:47:50 #59
Apa cerita ini enggak pernah diedit lagi?

fsc fsc 18/02/2017 16:50:55 #60
@Erafla#59 di versi cetak. :>
Belum ada komentar.
Tambahkan komentar
Tampilan
Bentuk teks: