Navigasi cerita
ALLBLACK
η - Jiwa-Jiwa Menderita (Bagian Kedua)
Dipajang pada 31 May 2015 18:01:31 oleh fsc

Sekali lagi kegelapan mengalahkanku, namun seperti biasa kemenangannya hanya sementara. Untuk sesaat ketika aku menutup mataku, aku kira aku sudah mati, Namun belum. Aku hanya terlempar ke dalam ketidaksadaran—aku rasa aku tidak akan menyadarinya jika aku sudah tidak hidup.

Aku masih bisa sedikit mengingat alasan aku berada di sini. Alasan-alasan itu membuatku mempertanyakan beberapa hal.

[Kenapa dia ada di sana?]

[Jadi orang yang kulawan tadi itu dia?]

[Sulit dipercaya...]

Aku tidak bisa percaya. Aku nyaris ditandingi oleh seorang perempuan. Lagipula, aku tidak menyangka gadis yang tampak begitu lembut dalam mimpiku ternyata cukup ganas dalam pertarungan.

Dan apa benar dia yang sudah menyelamatkanku dari truk tadi? Aku masih terlalu terguncang untuk bisa memastikannya sebelum aku pingsan.

Sebelum aku bisa menemukan jawabannya, aku sudah mulai mendengar sesuatu— suatu suara samar-samar.

Suaranya kostan dan tersamarkan. Meski tidak jelas, namun terdengar seperti hujan deras.

[Huh?]

Tiba-tiba aku membuka mataku. Aku menyadari aku sudah terlempar ke realita yang berbeda. Lingkungan ini tampak terlalu nyata untuk sebuah mimpi. Aku sudah tidak berada di tempat yang sama saat aku pingsan. Saat ini aku berada di sebuah ruangan gabungan antara ruang rekreasi dan ruang belajar.

Aku tahu tempat ini, namun aku tidak bisa mengingatnya. Sudah lama sejak terakhir kali aku berada di sini. Terakhir kalinya pasti sudah beberapa tahun lalu.

Arsitekturnya lumayan unik, menurutku. Sedikit arsitektur Greco klasic digabung dengan modern Victorian yang elegan. Dindingnya ditutupi panel-panel kayu yang dipoles dan diukir sementara lantainya dialasi karpet. Di beberapa titik, bahkan lantainya dilapisi lagi dengan karpet Persia. Bahkan ada perapian menyala beberapa meter di kiriku.

Aku sendiri sedang terduduk di sofa satu kursi dengan kaki terangkat, di tanganku aku sedang memegang sebuah buku tebal hardcover. Aku merasa tahu buku apa ini, namun aku tidak bisa mengingat buku apa.

Namun buku ini bacaan yang lumayan berat, sebuah buku tanpa cerita, sesuatu tentang idealisme Roma kuno dari sudut pandang filsuf modern.

Aku angkat kepalaku, mengistirahatkan mataku yang seperti kelelahan setelah membaca halaman-halaman yang dipenuhi dinding teks. Dari sebuah jendela besar di kananku, aku bisa melihat hujan sedang turun dengan deras ke sebuah taman yang tampak terurus. Suara yang sedari tadi kudengar ternyata berasal dari luar.

“Ferno!”

Seseorang memanggilku. Suaranya mengalihkan perhatianku dari jendela ke sumber suara. Setelah aku berbalik, aku menemukan kalau aku tidak sendirian di ruangan ini; ada tujuh anak-anak di ruangan ini, melakukan berbagai hal. Beberapa dari mereka sedang membaca buku, beberapa sedang bermain dengan lainnya, sementara suara yang memanggilku tadi berasal dari seorang anak laki-laki yang sedang bermain catur melawan seorang perempuan.

Mereka sedang bermain di lantai, si anak laki-laki duduk bersila sementara lawannya berbaring di atas perutnya.

“Apa?” ujarku, aku juga menemukan suaraku lebih ringan dan punya nada lebih tinggi, sangat berbeda dari suaraku yang aku tahu.

“Beritahu aku langkah berikutnya.”

“Hey, jangan curang! Jangan minta bantuan!”

“Dia benar, Chris, pikirkan langkahmu sendiri,” jawabku setelah sedikit tertawa, “jangan cemas, Iris, aku tidak akan bilang.”

Anak perempuan itu—yang kupanggil ‘Iris’—menghadapkan wajahnya ke arahku dan tersenyum. Meski mataku mengacuhkannya dan fokus ke arah bukuku, aku bisa melihatnya dari ujung pandanganku. Aku juga tahu bidak mana yang mulai dipindahkan si anak laki-laki.

“Salah,” komentarku sambil masih terfokus ke arah bukuku setelah aku melihatnya memindahkan peluncurnya ke posisi di mana kuda lawannya bisa mengancam peluncur dan menterinya sekaligus di giliran berikutnya.

Mendengar komentarku, Chris mencoba untuk membatalkan langkahnya. Namun Iris memaksa agar dia membiarkan kesalahannya.

Lewat jendela yang kulihat tadi, aku menemukan sebuah objek sedang bergerak. Sebuah mobil premium hitam sedang berlari di atas jalur bertanah gravel di balik taman bunga. Melihat itu, aku menurunkan bukuku.

Aneh, pikirku. Ini terasa sangat tidak biasa, bahkan cukup untuk membuatku penasaran.

Mobil itu berhenti. Pengemudinya keluar dari mobil dan membuka sebuah payung kuning, dia lalu berjalan ke arah pintu penumpang kanan yang menghadap ke arah bangunan ini. Namun sebelum dia bisa membuka pintu belakang mobilnya, sesosok lain keluar dari pintu depan bangunan ini.

Seorang wanita berpayung hitam mendekati pintunya. Dia tampak mengatakan sesuatu ketika sedang berjalan, entah apa, namun dia menarik perhatian pengemudi mobil.

Pengemudi itu menunggu sampai si wanita sampai padanya, wanita itu mengobrol dengan si pengemudi untuk beberapa saat hingga dia membuka pintu mobil.

Dengan payung hitam menjaga agar tetesan hujan tidak turun di samping pintu penumpang, dua sosok mulai turun; dua orang gadis, salah satunya tampak lebih muda dari satunya.

Wanita itu berjalan berdampingan dengan yang lebih tua sementara yang lebih muda mengekor mereka sambil menggenggam tangan yang lebih tua, dan sang pengemudi memayunginya. Begitu mereka sampai di sudut yang tidak bisa dilihat lewat jendela ini, aku kembalikan perhatianku ke ruangan ini.

Aku masih penasaran.

Aku taruh bukuku di atas sebuah meja kecil di kiriku dan beranjak dari sofa ini.

“Ferno, mau ke mana?”

“...” Iris yang melihatku berdiri berbalik sambil masih terbaring, dia bertanya kenapa aku tiba-tiba pergi. Mendengar pertanyaannya, aku berhenti dan menghadapkan wajahku ke arahnya. “Nanti aku ke sini lagi.”

Aku tidak bisa memikirkan alasan, namun aku berhasil mengatakan sesuatu yang bisa dipercaya. Aku tidak tahu kenapa aku merasa butuh alasan, aku kira aku tidak akan melakukan sesuatu yang nakal.

Dia percaya, segera dia kembali bermain—meski aku tidak tahu apa dia sadar kalau Chris sudah mengotak-atik posisi bidak di papan caturnya—dan aku mulai berjalan keluar dari ruangan ini.

Aku merasa seperti tahu ke mana aku pergi. Di koridor panjang ini aku bertemu dengan anak-anak lain, beberapa dari mereka menyalamiku saat aku lewat, aku pun membalas ramah.

Setelah berjalan agak jauh, aku sampai di aula di mana pintu depan berada. Ada sebuah plakat terpajang, namun aku tidak menghampirinya. Dari sini aku terus berjalan ke sayap timur. Saat aku sampai di koridor di mana tujuanku berada, aku menemukan dua anak laki-laki sedang menguping di depan pintu ganda yang juga merupakan tujuanku.

“Dennis? Ethan? Sedang apa kalian di sini?”

Saat aku mendekat, aku bertanya sambil setengah berbisik. Keduanya terkaget. Anak berrambut coklat lalu memberiku tanda—dia mengayun-ayunkan tangannya dari ujung ke ujung mulutnya yang tertutup—memberitahuku untuk jangan berisik. Meski aku menyebutkan nama mereka tadi, aku masih belum tahu siapa yang mana.

“Sedang apa kalian di sini?” bisikku.

“Ethan bilang Nona Magdalene membawa dua gadis ke kantornya,” jawab anak berrambut coklat, juga sambil berbisik.

“Memang kenapa”

“Bisa saja mereka pendatang baru.”

“Iya atau tidak, kalian tidak seharusnya menguping begini.”

“Kau sendiri?” tanya Dennis balik, tatapannya tampak menuduh, “memangnya kau tidak ke sini untuk mencari tahu?”

“Memang, tapi aku ingin bertanya langsung pada Nona Magdalene.”

“Tsk,” Dennis berdecak.

“Nanti aku beritahu, pokoknya kalian berhenti menguping.”

Dennis menatapku, tatapannya seakan berkata “tidak mau, biarkan aku di sini.”

“...atau aku beritahu Nona Magdalene kalau kalian menguping.”

“Jangan begitu—”

“Lihat tanganku.”

Aku angkat tangan kiriku dan melayangkannya di permukaan pintu, bersiap untuk mengetuk. Melihat itu, kedua anak itu menjauh dari pintu.

“Oke, oke. Kami paham.”

Setelah mengatakan itu, mereka berlarian di koridor, membuat suara derapan kaki gaduh.

Aku nyaris akan meneriaki mereka, namun sebelum aku bisa mengeluarkan suaraku, pintu di mana Ethan dan Dennis menguping terbuka. Wanita yang sama yang mengantarkan kedua gadis dari mobil keluar dari ruangannya.

“Ferno, ada apa ini?” tanyanya sambil menarik perhatianku.

“Ferno, what's going on here?” she asked me while attracting my attention.

“Oh, Nona Magdalene,” seruku sambil berbalik ke arahnya, “bukan apa-apa, cuma anak-anak berlarian di koridor.”

“Kalau kau melihat mereka lagi, katakan supaya jangan berlarian di koridor.”

“Tentu.”

“Apa kau ingin menemuiku?”

“Tidak, aku hanya lewat.”

Meski aku masih penasaran, tapi karena ada orang lain yang sampai duluan dan merusak kesempatanku, aku mengurungkan niatku untuk mencari tahu tentang tamu-tamunya. Akan kutanyakan lain kali.

“Kalau begitu, aku sedang menerima tahu. Tolong jangan berisik.”

“Baik.”

“Ah, satu hal lagi,” dia kembali memanggilku setelah aku berbalik dan pergi, aku pun berhenti berjalan dan kembali berbalik. “Apa kau bisa kumpulkan anak-anak di ruang rekreasi?”

“Eh? Untuk apa?”

“Aku beritahu nanti.”

“Tunggu dulu—”

Nona Magdalene segera menutup pintunya tanpa mendengarkan apa yang ingin kukatakan, namun tindak-tanduknya membuatku yakin sesuatu akan terjadi.

Aku lalu kembali ke ruangan tempatku datang. Saat aku bertemu dengan anak-anak lain sepanjang perjalanan, aku katakan pada mereka untuk berkumpul di ruang rekreasi, aku bertemu dengan 7 anak yang semuanya lebih muda dariku sepanjang jalan. Saat aku sampai di ruang rekreasi, aku menemukan tempat ini sudah lebih ramai dengan kehadiran anak-anak yang kutemukan tadi.

“Hey, Ferno,” tidak lama setelah aku masuk ke ruang rekreasi, Chris yang sudah tidak bermain catur dengan Iris mendekatiku. “Ada apa? Kenapa banyak orang di sini?”

“Entahlah, Nona Magdalene memintaku mengumpulkan mereka.”

“Masa?”

“Iya, memang kenapa?”

“Aku bicara pada Ethan tadi, dia bilang dia melihat Nona Magdalene membawa beberapa tamu.”

“Oh, itu. Aku juga melihatnya.”

“Kau pergi ke kantor Nona Magdalene untuk mencari tahu, kan? Kenapa tidak bilang?”

“Kau sedang main catur dengan Iris.”

“Memang, dan aku nyaris kalah.”

“Tentu saja,” komentarku setelah sedikit tertawa, “jadi, bagaimana hasilnya?”

“Aku diskakmat empat langkah setelah kau pergi.”

“Kau masih harus banyak belajar,” lanjutku, “kalau ada yang bertanya, minta mereka untuk menunggu; perintah dari Nona Magdalene.”

“Oke.”

Setelah itu Chris meninggalkanku dan bergabung dengan anak-anak lain. Dia tampak menangani kerumunan dengan baik, anak-anak lain tampak mencari informasi darinya.

Melihat aku tidak dibutuhkan, aku kembali ke kursi tempatku duduk beberapa saat lalu dan mengambil kembali buku yang sedang kubaca. Dari sana aku melihat ke arah jendela lagi. Mobilnya sudah pergi, namun hujan masih belum reda. Meski masih penasaran, aku fokuskan pikiranku untuk membaca.

“Anak-anak!”

Setelah beberapa menit membaca, sebuah suara tiba-tiba menarik perhatianku. Suara itu datang dari pintu masuk ruangan ini.

Di sana, Nona Magdalene berdiri dengan dua gadis berrambut panjang; mereka adalah sosok-sosok yang kulihat turun dari mobil barusan.

Anak-anak mulai mengerumuni mereka, tidak sampai anak-anak sudah berkumpul aku menaruh bukuku dan berdiri. Karena aku adalah yang tertua di antara mereka dan juga paling tinggi, aku tidak keberatan berdiri paling belakang.

Sambil berkerumun, anak-anak mulai bertanya-tanya, kebanyakan bertanya “siapa itu?” namun Nona Magdalene tidak menjawab.

“Perhatiannya sebentar,” pintanya sebelum menepuk tangannya dua kali, “hari ini kita kedatangan dua bagian baru untuk keluarga kita.”

Nona Magdalene mulai berceramah. Sementara itu, aku mengamati gadis-gadis di sampingnya. Meski jelas mereka tampak seperti kakak-beradik, namun sikap mereka—bagaimana mereka menatap dan cara mereka menerima tatapan—tampak kontras satu sama lain.

Yang lebih tua tampak mempertahankan tatapan lurus dan tajam tanpa berkedip seakan dia bisa menangkap segala sesuatu dalam jarak pandangnya, memberi kesan kuat. Sementara adiknya lebih tampak pemalu karena dia berdiri sambil menyembunyikan kurang dari separuh sosoknya di balik tubuh kakaknya sambil menggenggam tangannya dengan erat.

Jika aku boleh menebak, sikap mereka ini menandakan tragedi.

“Kalau begitu, perkenalkan—”

“Alycia.”

Sebelum Nona Magdalene bisa memperkenalkan mereka, gadis itu memotong dan menyatakan namanya dengan nada kokoh. Melihatnya melakukan itu, aku kira aku sempat menelan udara.

“...dan ini adikku; Evelyn.”

“...and this is my sister; Evelyn.”

“...”

Beberapa detik setelah perkenalannya, suasana sempat sunyi.

“Ya, Alycia dan Evelyn. Saya harap kalian bisa berbaur dengan baik di sini,” lanjut Nona Magdalene, “Kalau begitu, saya harus pergi. Selamat siang.”

Nona Magdalene tersenyum lalu pergi. Alycia membisikkan sesuatu pada Evelyn sebelum anak-anak mulai mengerumuni mereka lebih dekat dan menghujani mereka dengan berbagai pertanyaan. Sementara Alycia tampak lebih banyak diam, Evelyn tampak kerepotan menangani teman-teman barunya.

Tapi aku tidak seperti mereka, daripada ikut dengan bandwagon, aku kembali ke kursi dan mengambil bukuku lagi, melanjutkan membaca.

“Hey.”

Aku sudah membaca enam halaman ketika suara lain memanggilku. Ketika aku mengangkat kepalaku sedikit, aku menemukan Alycia sedang berdiri di samping sofa, menatapku dengan tangan terlipat.

“Hai,” ujarku memberi salam.

“Sepertinya kau yang paling tua di sini.”

“Entahlah, mungkin saja.”

“Huh?”

“Kita tampak seumuran, berapa umurmu?”

“Kenapa aku harus bilang?”

“Supaya aku bisa memberitahuku apa kau lebih tua dariku atau tidak.”

“Tidak mau, kau yang beritahu aku lalu biar aku beritahu siapa yang lebih tua.”

“Tidak,” jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menurunkan mataku ke arah bukuku, “tidak akan.”

“Terserah.”

“Kalau begitu, ya; aku yang paling tua di sini.”

“Hey, itu belum pasti.”

Aku turunkan bukuku dan memberinya tatapan datar. Aku lalu menaruh bukuku di atas meja kecil dan berdiri, dia tampak terkejut saat aku menegakkan sosokku hingga dia butuh menaikkan kepalanya sedikit agar bisa tetap menatap mataku. Dia pasti mengira aku pendek karena aku duduk terbungkuk di kursi tadi.

“Aku Ferno, dan kau?” ujarku sambil menawarkan jabat tangan.

“Kau tahu aku siapa, kau melihatku memperkenalkan diri tadi.”

“Tidak untukku, mungkin kamu sudah memperkenalkan diri pada yang lain, tapi belum padaku.”

“Aku Alycia.”

“Alycia siapa?”

“Aku tidak akan bilang, panggil saja Alycia.”

“Kenapa?”

“Pokoknya tidak.”

“Oke kalau begitu...” ujarku sambil kembali duduk dan mengambil bukuku lagi, “Alisa.”

“JANGAN PANGGIL AKU DENGAN NAMA ITU!!”

Dia berteriak, dalam sedetik suara-suara buatan manusia dalam ruangan ini berhenti dan mulai menyita semua perhatian, termasuk diriku.

Selama beberapa detik wajah datarku beradu tatap dengan wajah marahnya. Dia tidak ingin mengalah, namun juga tidak ingin menang. Tampaknya aku harus mundur.

“Tidak apa-apa, kami hanya salah bicara,” ujarku pada kerumunan yang menatap kami.

Setelah melanjutkan adu tatap untuk beberapa saat, Evelyn menembus kerumunan dan mendekati kakaknya. Dia meraih tangan Alycia, dan seperti sihir, dia menjinakkan kemarahannya. Namun sebelum aku bisa melihatnya menenang, dia menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik bayangan rambut depannya.

“Alisa—”

Aku terkejut melihat saat Evelyn memanggil Alycia, dia tiba-tiba berpaling dan meninggalkan ruangan dengan langkah kesal. Aku hanya bisa menontonnya hingga dia menghilang setelah berbelok ke kiri ke koridor.

“Iris,” panggilku pada Iris yang sedang melihat ke arah yang sama sepertiku, “bisa tolong ajak Evelyn mencari Alycia?”

“Tentu.”

Iris mendekati Evelyn dan membawanya keluar ruangan, mengejar Alycia. Sementara aku, aku juga meninggalkan ruangan dengan membawa bukuku. Bukan untuk mencari Alycia, namun untuk menghindari tatapan-tatapan di ruang rekreasi.

Aku merasa sebaiknya aku bicara pada Nona Magdalene, namun juga merasa seperti mengerti apa yang dirasakan Alycia. Pada akhirnya, aku menyembunyikan diri di bagian bangunan yang sepi.

Setelah hujan berhenti dan setelah malam, aku tidak kembali ke kamarku, bahkan setelah jam malam. Aku justru pergi ke tempat tersembunyi yang kuketahui di atap. Untuk sampai di tempat ini, aku harus memanjat dinding bangunan sayap barat.

“Hey.”

Saat aku hendak melompat keluar jendela untuk memanjat dinding luar, sebuah suara memanggilku. Suara itu tidak membuatku terkejut, siapapun itu seharusnya lebih takut melihatku karena sosokku tertutupi bayangan.

“Oh, kau rupanya,” ujarku setelah mengetahui suara milik siapa itu tadi.

Saat aku berbalik, aku menemukan kalau yang sudah memergokiku adalah Alycia yang mengenakan pakaian tidurnya; kaos berlengan pendek, celana jeans, dan rambut panjangnya yang dikuncir ke belakang. Perlahan aku mendekatinya, membiarkan wajahku tersinari cahaya bulan dari jendela lain di koridor.

“Ferno?”

“Kau tidak akan bilang siapa-siapa, kan?” tanyaku setelah dia melihat wajahku.

“Tergantung, kau sedang melakukan apa?”

“Melihat bintang, jadi bagaimana?”

“Di mana?”

“Di atap, dan kau masih belum menjawab pertanyaanku.”

“...” dia memikirkannya untuk beberapa detik. “Tidak.”

“Terima ksaih. Sekarang giliranku; sedang apa kau di sini?”

“Aku mendengar suara langkah kaki, aku kira ada apa.”

“Di mana kamarmu?”

“Di sana.”

Dia menunjuk ke arah pintu kamar kedua dari ujung koridor di mana jendela yang kugunakan untuk memanjat dinding berada.

“Masa? Aku kira kamar itu belum ada yang menempati.”

“Selain ruangan di sebelahnya, belum ada lagi yang tahu.”

“Pantas,” ujarku lega, “kalau kau bisa berbalik, aku harus pergi. Selamat malam.”

Aku berbalik dan berjalan ke arah jendela. Aku memanjat bingkainya dan siap untuk memanjat permukaan dinding bagian luar, namun aku lalu menemukan Alycia belum pergi. Dia masih menontonku dari tempatnya berdiri.

Untuk sesaat kami bertukar pandangan, sebelum kesunyian membuatku muak, aku merasa aku harus mengatakan sesuatu.

“Apa kau mau ikut ke atap?” tanyaku

[Kenapa aku mengatakan itu?]

“Boleh?” jawabnya dengan pertanyaan lain sambil melangkah maju.

“Kalau kau bisa memanjat, tentu saja.”

Tanpa menunggu jawaban darinya, aku pindahkan badanku menempel ke dinding luar, kedua tanganku mencengkram tepian-tepian kecil ornamental. Tiap kali aku yakin aku tidak akan jatuh, aku memanjat dan menggantungkan diri ke tepian yang lebih tinggi, hingga aku sampai di tepian atap.

Setelah aku memanjat atap, aku melihat ke bawah. Di jendela, aku menemukan Alycia sedang melihat ke atas. Aku berikan senyuman merendahkan, namun bukannya merasa direndahkan, dia menganggap aku sudah memberinya tantangan.

Dia mulai memanjatkan badannya ke permukaan dinding luar. Dia mencengkram satu tepian di salah satu tangannya dan tepian lain di tangan lainnya. Tiga perempat jalan ke atas, dia berhenti. Dia tidak bisa menemukan tepian lain untuk dipanjat. Tinggi badannya tidak mengijinkannya untuk meraih tepian yang lebih tinggi tanpa melompat.

“Hati-hati! Kalau jatuh tingginya 10 meter!”

Meski perkataanku bukan hal yang sebaiknya diucapkan dalam situasi ini, namun dia tetap mencoba bertahan, dia juga bisa-bisanya memberiku senyum angkuh. Jika aku tidak melihat sikapnya sore tadi, aku tidak akan menanggap makna senyum itu.

“Ayo, raih tanganku!”

Aku membaringkan diri dan bergantung di tepian atap, tangan kananku menjangkau ke bawah sementara tangan kiriku menjaga agar aku tidak terpeleset.

Dia bersikap seakan dia tidak butuh bantuan, namun aku bisa melihat kalau dia tidak bisa bergerak.

Aku mencoba menjangkau lebih jauh. Untungnya aku berhasil menangkap pergelangan tangannya sebelum dia kehilangan pegangan.

“Ayo, panjat! Pakai kedua tanganmu!”

Dia mengerahkan kekuatannya dan menjangkau ke atas dengan tangan kirinya. Dia menangkap sikuku dan mulai memanjat. Setelah dia mencengkram pundak kananku, aku menangkap pinggangnya dan mengangkatnya naik.

“Te—terima kasih,” ujarya sambil masih terengah-engah dan menyantaikan jari-jarinya setelah aku melepaskan peganganku darinya.

“Kau tahu aku akan bagaimana kalau kau jatuh, kan?”

“Tidak.”

“Yeah, lebih baik begitu,” aku berbalik ke kiri dan memanjat sedikit lagi, melompati sebuah pagar sebuah balkon yang menempel pada atap yang miring. “Selamat datang, di Babylon milikku.”

Alycia mengikuti melompati pagar. Balkon ini dihiasi beberapa tanaman pot. Biasanya aku membawa botol air saat aku ke sini, namun karena hari ini hujan, aku tidak perlu menyiram tanaman-tanaman ini.

“Hey, ada pintu di sini!”

“Ya, pintu itu seharusnya terhubung ke loteng—”

“Lalu kenapa tadi kita memanjat dinding?”

“Aku tidak gila, aku juga akan ambil rute itu kalau...” aku memegang gagang pintunya dan memutarnya, namun setelah mendorongnya beberapa kali, pintu itu menolak terbuka. “...pintu ini tidak disegel.”

Dia tertawa ringan sambil menggaruk punggung kepalanya. Sementara dia masih memikirkan apa yang baru dia lakukan, aku duduk di lantai kayu balkon ini.

“Aku memanjat dinding,” ujarnya pada dirinya sendiri.

“Tidak sia-sia, kok.”

“Apa maksudmu?”

“Sudah kubilang, aku ingin melihat bintang,” ujarku seraya menatapnya. “Lihat ke atas.”

Dia menengadah dan dia menemukannya, pemandangan langit malam paling indah yang bisa kutemukan.

Kanvas kosmis yang kusebut ‘langit’ tampak jelas, warnanya hitam ditambahi biru seakan tinta biru tumpah ke arasnya. Ribuan titik-titik kelap-kelip—berbagai ukuran yang tampak besar untuk ukuran butiran bintang—bertebaran di angkasa, menghiasi kanvas sementara bulan sabit memantulkan cahayanya.

“Whoa,” serunya kagum sambil perlahan menurunkan diri untuk duduk.

“Bagaimana?”

Saat aku melihat melihatnya, aku menemukan air mata menuruni pipinya. Meski berlinang air mata, namun dia tidak menangis.

“Kau baik-baik saja?”

“Yeah, aku tidak apa-apa,” jawabnya sambil menyeka air matanya, “aku hanya terkenang sesuatu.”

“...” aku menontonnya menyeka air matanya, “apapun maksudmu...”

Kami berdua menikmati pemandangan dengan diam, namun kemudian aku bisa mendengarnya bersenandung. Nada-nadanya tidak beraturan, tidak ada rhythm di lagu yang dia senandungkan. Barulah aku sadar kalau senandungnya berkonsisten dengan angin yang bertiup. Bukannya kelakuannya menggangguku, namun suaranya justru membuatku lebih bisa menikmati pemandangan.

“Dari mana kau tahu tempat ini kalau pintu masuknya disegel?” setelah bersenandung untuk beberapa saat, dia berhenti dan mulai bertanya.

“Aku sudah tinggal di sini seumur hidupku, jelas saja kalau aku tahu satu atau dua hal tentang tempat ini.”

“Satu atau dua hal?”

“Atau tiga. Lagipula dulu pintunya belum disegel.”

“Kau kira kau tahu segalanya tentang tempat ini?”

Aneh, dia tampak sangat tertarik dengan topik ini.

“Bukan hanya tempat ini, aku juga tahu tentang penghuni-penghuninya.”

“Jangan sombong, aku yakin ada beberapa hal yang tidak kau ketahui.”

“Aku tahu di mana Nona Madgalene menyimpan koleksi wine-nya. Aku punya tempat pribadi untuk menyegarkan diri saat musim panas. Oh, dan aku tahu ada perempuan yang masih sering mengompol, dan dia tidak tahu kalau aku tahu.”

“Yang terakhir tadi; serius? Dari mana kau tahu?”

“Aku tidak sengaja mendengarnya bicara tentang itu pada Nona Magdalene,” ujarku sebelum menjeda, aku sempat heran bagaimana aku bisa mengobrol dengannya seperti ini setelah apa yang terjadi hari ini, “ngomong-ngomong, soal sore tadi...”

“...”

“Adikmu, dia memanggilmu ‘Alisa,’ kan?”

“...”

“Kenapa kau marah saat aku memanggilmu begitu?”

“Ceritanya panjang.”

“Pokoknya, maaf kalau aku salah bicara.”

“...aku juga.”

Bintang-bintang di langit tampak seakan bergerak, kami memenonton bintang-bintang terbang melintasi kepala kami untuk beberapa saat sebelum turun. Setelah aku mengantarnya ke kamarnya, kami berpisah lalu aku menyelinap kembali ke kamarku dan istirahat sepanjang malam.

Di hari berikutnya, ada yang berbeda dengan jam belajarku. Biasanya—karena aku adalah anak tertua di sini—aku sendirian di kelas dan dibolehkan belajar di luar kelas. Namun hari ini, Nona Magdalene memintaku datang ke kelas.

Saat aku tiba di sana, aku menemukan guruku di depan kelas, dan Alycia terduduk di salah satu kursi di barisan terdepan.

Aku ingin mengajak Alycia bicara, namun guru kami sudah memulai pelajaran karena aku datang terlambat. Aku juga duduk di barisan terdepan, namun aku duduk dua bangku darinya. Selama tiga jam ke depan, aku dan dia belajar dengan tenang.

Saat jam belajar selesai, kami masih belum mengatakan apa-apa pada satu sama lain. Kami hanya membereskan buku-buku kami dan pergi. Aku kira aku akan bicara padanya nanti.

“Ah, Ferno.”

Ketika aku keluar kelas, aku mengenali suara Nona Magdalene yang telah memanggilku dari sisi koridor yang tidak kulewati. Aku berhenti dan berputar, aku menemukannya menungguku sambil memandang ke luar jendela.

“Apa kau punya waktu?” tanyanya.

“Tentu.”

Sebenarnya aku ingin menghampiri Alycia, namun toh dia tidak akan ke mana-mana. Jadi aku memberikan waktuku untuk Nona Magdalene. Aku lalu mendekatinya dan berdiri di sampingnya menghadap ke jendela.

“Aku dengar kau berselisih dengan Nona Alycia?”

“Ya, tapi kami sudah menyelesaikannya.”

“Baguslah.”

“Kenapa dia bisa berada di sini?”

“Dia kehilangan ayahnya dalam sebuah kecelakaan, aku ditunjuk menjadi walinya di wasiat ayahnya.”

“Ooh...”

“Dia sedang mengalami transisi berat saat ini, aku minta tolonglah baik-baik dengannya.”

“...” sesuai dugaanku, dia sudah melalui hal berat. Meski wajar apa yang diminta Nona Magdalene, namun aku enggan melakukannya untuk alasan yang dia sebutkan. Namun aku tidak ingin berlama-lama membicarakan ini. “Tentu, itu sudah jelas.”

“Terima kasih,” ujarnya sambil memberikanku senyum simpul. “Dan setahuku, Nona Alycia belum terlalu akrab dengan lingkungan barunya.”

“Anda memintaku untuk mengajaknya berkeliling?”

“Apa kau keberatan?”

“Tidak, lagipula ada yang ingin kubicarakan dengannya.”

“Kalau begitu, tidak ada yang ingin kubahas lagi.”

“Tentu.”

Aku berpamitan dan meninggalkannya, aku tidak langsung mencary Alycia karena aku harus kembali ke kamarku dan menaruh buku pelajaranku dulu. Namun setelah itu, aku segera mencarinya.

Dari asrama laki-laki, pertama aku mencarinya di ruang rekreasi, namun aku tidak menemukannya. Tempat berikutnya yang kucari adalah taman bermain.

Di taman, aku tidak menemukan Alycia, namun aku menemukan Evelyn. Dia tampak berbaur dengan baik dengan anak-anak seumurannya. Aku tanyakan apa dia tahu di mana kakaknya, namun dia tidak tahu.

Aku kembali ke bangunan utama, setelah mencari beberapa saat. Aku menemukannya sedang melihat-lihat lukisan di aula utama.

“Alycia,” dia tersentak saat aku memanggilnya, meski tidak terlalu terkejut. “Aku sudah mencarimu ke mana-mana.”

“Memang ada apa?”

“Nona Magdalene memintaku untuk mengajakmu berkeliling,” lanjutku sambil mendekatinya, “supaya kau lebih akrab dengan tempat ini.”

“Nanti juga aku tahu sendiri.”

“Aku bersikeras.”

“...” dia menatapku, kami bertukar pandang sementara dia tampak sedang berpikir. Tidak hingga beberapa detik kemudian dia mematahkan rantai tatapan kami. “Baiklah, mulai dari mana?”

“Karena kita sedang berada di aula, kita bisa mulai dari sini.”

Aku lalu menunjuk ke arah dinding di depan pintu depan. Dinding itu membagi aula hingga menutupi pemandangan ke arah pintu. Namun bukan hanya itu fungsinya, dinding itu juga adalah di mana sebuah plakat granit digantungkan menghadap ke aula.

Aku memandu Alycia melangkah ke arahnya, saat kami mendekat, kami bisa melihat sesuatu terukir di permukaan plakatnya.

[Panti Asuhan Edelweiss]

[Rusak dan terbatas; itulah kapan dan di mana pemikiran kolektif manusia bekerja paling baik.]

[Grailleus T. A. Einhorn – 12 April 1991]

“Nona Magdalene pernah mengatakan padaku untuk tidak menganggap tempat ini sebagai panti asuhan, namun lebih sebagai sekolah asrama,” ujarku sementara Alycia membaca ukiran di plakat, meski aku tidak yakin dia mendengarku.

“Aku tidak sadar ada plakat itu,” komentarnya setelah membaca plakat. “Siapa Graille Einhorn?”

“Oh, dia adalah pendiri institusi ini. Namun dia sangat jarang datang ke sini, selama aku tinggal di sini aku hanya pernah melihatnya delapan kali.”

“Pendiri yang tertutup, ya?”

“Nona Magdalene bilang dia memang eksentrik, jadi aku tidak tahu harus bilang apa.”

“Oh...” gumamnya sedikit terheran, “kau bilang kau tahu banyak tentang tempat ini, sejauh mana yang kau tahu?”

“Lumayan banyak.”

“Masa?”

“Yeah.”

“Sejauh mana yang kau tahu tentang bagian luar tempat ini?”

“Aku tidak bisa bilang banyak, tapi aku tahu tempat yang sangat enak untuk santai di musim panas di atas bukit.”

“Ah! Ternyata ada jalan keluar tersembunyi dari sini!”

“Tunggu dulu! Bicara apa kau ini?! Apa kau mau pergi dari sini?”

“Hah? Tentu tidak, aku cuma bercanda.”

“Apa benar?”

“Aku punya Eve di sini, aku tidak akan mencoba yang tidak-tidak.”

“Setelah beberapa saat bersamamu, menurutku kau itu orang yang merkurial.”

“Kalau begitu kau belum terlalu mengenalku.”

“...”

Entahlah, dia terdengar jujur, namun entah kenapa aku merasa ragu. Sesuai apa yang dia bilang, aku memang belum terlalu mengenalnya, namun dia sendiri memilih menjadi buku tertutup; aku tidak bisa membacanya.

“Apa?” ujarnya setelah menemukanku sedang menatapnya.

“Bukan apa-apa,” jawabku sambil menghindari kontak mata, “mari kita lihat tempat lain.”

“Ke mana selanjutnya?”

“Coba kita mulai dari taman dalam, kita bisa melihat banyak bagian bangunan dari sana.”

Aku memandunya ke belakang ruangan, di mana ada jalan pintas menuju taman dalam di bagian dalam bangunan berbentuk U ini. Seringkali kami mengobrol dengan santai, namun aku merasa seperti dia sedang menyembunyikan sesuatu. Bukan sesuatu yang didasari niat jahat, namun juga sesuatu yang perlu diwaspadai.

Sejauh ini semua yang kulihat terasa begitu nyata, aku nyaris lupa kalau aku masih bermimpi. Namun meski demikian, aku juga tidak bisa membangunkan diriku.

Navigasi cerita
Tampilan
Bentuk teks: