Navigasi cerita
ALLBLACK
λ - Dua Langkah di Depan (Bagian Pertama)
Dipajang pada 18 September 2016 16:02:16 oleh fsc

27 Juni 2010

Di luar apartemen Yuumi

09.50

Terkadang, aku berharap menjadi burung. Melihat mereka terbang di langit dan kemampuan mereka mencapai tempat apapun yang mereka inginkan membuatku iri. Namun lagi, insting mereka terkurung oleh hukum alam. Mereka tidak sebebas yang kuduga. Dan saat itulah aku sadar, bahwa apa yang sejatinya aku inginkan adalah kebebasan.

Setelah menghapus pemikiran itu dari dalam kepalaku, aku turunkan pandanganku. Aku keluarkan ponsel Yuumi dan memeriksanya. Jam yang tertampilkan nyaris menunjukkan waktu yang kami sepakati.

Pagi ini di kamar hotelku, aku menerima panggilan dari Yuumi. Dia bilang bahwa kami akan meninggalkan Istanbul pada jam 10 dan menyuruhku untuk menunggunya di luar apartemennya. Dan begitulah aku datang setengah jam sebelum waktu yang disepakati. Aku tidak di sini tanpa rencana. Aku—atau lebih tepatnya kami; aku dan Alisa—punya rencana. Di antara barang-barang di dalam tasku, aku menyembunyikan beberapa senjata. Kalau-kalau ada masalah.

Sebelum menunggu di jalanan yang nyaris kosong menjadi membosankan, aku menemukan satu sosok menjinjing koper perak keras berjalan keluar dari pintu depan apartemen. Dia adalah Yuumi. Penampilannya tidak berubah, dandanannya rapih, kemeja bersih dan rok hitam sepanjang lutut dibalut jaket labnya yang khas. Entah berapa banyak jaket seperti itu yang ia punya. Meski membuatku penasaran, tapi tidak penting.

“Sudah lama menunggu?” tanyanya seraya mendekatiku.

“Tidak, aku baru datang.”

“Bohong,” ujarnya sambil tersenyum menantang. Namun sekarang, keisengannya tidak membuatku kesal sama sekali. “Aku sudah mengawasimu menunggu sejak tadi.”

“Sudah, diamlah,” komentarku tanpa melihat ke arahnya. “Ke mana kita sekarang?”

“Ke bandara, tentunya. Tujuan kita jaraknya setengah keliling dunia.”

“Di mana tujuan kita?”

“Nanti juga kau tahu.”

“...” aku menyerah, percuma memancingnya bicara. Daripada itu, perhatianku terarah ke tangan kirinya. Di mana ia menjinjing sebuah koper perak yang dirantai ke pergelangan tangannya. “Kau bawa apa?”

“Akhirnya kau tanya juga.”

“Sepertinya percuma aku bertanya, 'toh biasanya kau tidak akan menjawab.”

“Dan untuk membuatmu kesal, aku akan jawab. Dalam koper ini ada arsip-arsipku,” jawabnya seraya mengangkat kopernya setinggi bahu dan menyentil-nyentil salah satu pojokannya.

“Lupakan saja, aku tidak tertarik.”

“Sudah seharusnya kau tertarik. Kau 'kan tahu aku seorang neurologist, sementara kau menderita amnesia. Mungkin ada satu atau dua hal di dalam koper ini yang berhubungan dengan kondisimu.”

“Sudah, cukup,” ujarku nyaris berteriak dan menutup telingaku seandainya dia tidak berhenti bicara begitu menyadari sebuah sedan hitam memasuki jalanan dari pojok blok ini.

“Perjalanan kita masih jauh, kita bisa bicara banyak nanti,” ujarnya sambil memandang ke arlojinya.

Sebelum sedan hitam dengan jendela yang digelapkan itu berhenti di depan kami, Yuumi sudah mulai mendekati pintu penumpang depannya. Sementara ia berjalan mendekat, jendela pintu sisi penumpang depan turun, menunjukkan sosok yang akrab bagiku namun asing bagi Yuumi.

“Apa ini?” Yuumi berhenti, mematung di trotoar sambil menengok tidak karuan.

“Masuk,” ujar Alisa pada Yuumi yang kutegaskan dengan menangkap pundak Yuumi dan berbisik, menyuruhnya untuk masuk dan duduk di bangku belakang.

“Six, apa yang kau lakukan?” Yuumi bertanya-tanya sambil memasuki pintu belakang mobil dengan ragu sementara aku mengawasinya. Aku tidak menjawab, maka dari itu ia pun segera masuk ke dalam mobil.

“Sayang sekali, kita tidak bisa membicarakan apa yang ingin kau bicarakan.” Komentarku sembari memasuki mobil.

Setelah aku masuk ke dalam, Alisa mengunci semua pintu dan mulai memacu kendaraannya. Setelah aku memasang sabuk pengamanku, dari cermin atas aku menemukan Yuumi sedang menatapku, mencoba menerka-nerka apa yang sedang terjadi.

“Ke mana dia akan membawamu?” tanya Alisa, memecah keheningan di dalam mobil.

“Seperti dugaan kita, ke bandara.”

“Setelah itu ke mana?”

“Dia tidak mau bilang,” lanjutku, “ngomong-ngomong, mobil ini dapat dari mana?”

“Ada hotel tidak jauh dari sini, dari pemarkir valetnya.”

“Oh...”

“Six, jawab aku, apa yang kau lakukan?” tanya Yuumi.

“Sedikit perubahan rencana,” balasku, “maaf.”

“Arasaka Yuumi,” panggil Alisa dengan suara serius tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan, “pagi ini kau yang tidak pernah keluar rumah tiba-tiba harus mengantar sebuah paket, apa isi paket itu?”

“Paket—Siapa kau? Dari mana kau tahu——”

“Jawab dia!” perintahku.

“...” Yuumi terbisu mendengarku menyentaknya. Kami bertukar tatapan tajam lewat cermin atas sebelum ia mulai membuka mulutnya lagi. “Sebuah kunci.”

“Kunci untuk apa?” lanjutku.

“Untuk koper ini. Sekarang giliranku. Jawab pertanyaanku, apa yang sedang terjadi?!”

“Tidak! Kali ini kau yang menjawab semua pertanyaan kami!”

Yuumi terkaget, dia menyandarkan punggungnya ke bangku dan terdiam. Ia lalu mengumpat dengan suara kecil sebelum mengenakan sabuk pengaman.

“Sekarang biar aku tanya dari awal,” lanjutku, “kau akan membawaku kepada Graille Einhorn, bukan? Di mana dia sekarang?”

“Aku tidak tahu.”

“Jangan bohong, bagaimana kau bisa mengantarku padanya kalau kau sendiri tidak tahu di mana dia?”

“Doktor Einhorn sangat waspada belakangan ini, rencana pengantaranmu melibatkan beberapa pengawal professional yang akan mengantar kita ke bandara dan lalu ke tempatnya. Rencana perjalanannya hanya diberitahukan ke salah satu dari mereka. Aku tidak kebagian informasi apa-apa. Mengerti?”

“Bagaimana bisa? Apa yang sudah membuatnya begitu waspada?”

“Setahun belakangan ini, seseorang sudah membunuhi pegawainya di berbagai penjuru dunia. Aku kira hanya sekedar espionase korporat, tapi sudah dukup untuk membuatnya lebih berhati-hati. Dan di atas itu, kau melarikan diri darinya. Kehilangan aset sebanyak itu akan membuat orang tegang, termasuk Doktor Einhorn.”

“Jadi bagaimana? Apa kau hanya akan mengantarku ke bandara dan lepas tangan?”

“Tidak. Kunci yang kukirim pagi ini adalah untuk membuka koper ini begitu aku mengantarkanmu.”

“Apa isi koper itu?” kali ini, Alisa yang bertanya. Yuumi menatapku, menunjukkan ketidakinginannya untuk menjawab.

“Jawab,” perintahku.

“Sudah kubilang; arsip, riset, data pekerjaan...”

“Pekerjaan macam apa?” lanjut Alisa, “apa kau punya hubungan dengan project ALLBLACK?”

“Meski ingin, sayangnya tidak. Setelah mengatur pengembalian Six, aku berhasil menegosiasikan agar aku diterima di lingkaran periset atas Doktor Einhorn, aku sudah mengerjakan tugas rumahku selama dua hari ini.”

“Jadi?” tanyaku pada Alisa setelah melepaskan pandangan ke cermin atas, “bagaimana? Dia bahkan tidak tahu ke mana aku akan dibawa, apa kita akan menyekapnya atau bagaimana?”

“Tidak. Dia bilang kalau ia akan bergabung dengan lingkaran periset, berarti ia memang akan bertemu Einhorn. Tapi di sisi lain, untuk sampai di sana kita harus mencari tahu lokasi salah satu pengawal sewaannya di sini. Jika kita ingin menemui Einhorn, kita harus siap bertempur,” Alisa menimbang-nimbang sembari mengemudi, “Arasaka, apa ada yang bisa berguna di apartemenmu?”

“Entahlah, tapi semua yang kubutuhkan ada di koper ini, dan aku ragu akan dikembalikan ke sana setelah ini.”

“Baiklah,” ucap Alisa sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi sebuah nomor kontak sambil mengemudi. “Kita tidak bisa kehilangan kesempatan untuk menghadapi Einhorn, kita ke bandara.”

“Aku tidak keberatan.”

Meski samar-samar, aku bisa mendengar nada sambung dari ponsel Alisa. Setelah sesaat, suara nada sambung 'pun putus. Menyadari itu, aku melihat ke belakang, tidak hanya lewat cermin atas, tapi berbalik menghadap jendela belakang. Melihatku berbalik, Yuumi juga ikut berbalik.

Lewat jendela itu, kami mulai menyadari sejejak asap membumbung. Kami tahu kalau asap itu datang dari sekitar apartemen Yuumi.

“Asap apa itu?!” tanya Yuumi padaku.

“Apartemenmu,” jawabku.

“Apa?! Kau menanam peledak di apartemenku?! Sejak kapan——”

“Diam,” Alisa menyentaknya. “Kami tidak pernah berencana membunuhmu, tidak sekarang. Peledak itu ditanam sebagai pengalihan kalau-kalau kami perlu menculikmu dengan memalsukan kematianmu.”

“Hah hah hah hah hah...”

Yuumi mulai tertawa kecil. Membuatku dan Alisa sedikit kesal.

“Kenapa kau tertawa?” tanya Alisa.

“Maaf, tapi rencana kalian cukup matang. Aku kagum.”

Melihatnya tersenyum membuatku ingat kenapa aku tidak pernah menyukainya. Dia tampak seperti seseorang yang selalu menyembunyikan kartu as saat bermain kartu. Aku tahu kalau kami seperti sedang dipermainkan olehnya.

[Ada yang salah di sini.]

“Ada yang tidak kau katakan pata kami,” ujarku pada Yuumi.

“Tidak, aku hanya menyerah. Sepertinya percuma mencoba berunding dengan kalian. Aku tidak tahu siapa dia, tapi kalian cocok bekerja sama.”

“Aku tahu aku bisa mempercayainya lebih darimu.”

“Yakin? Hey, nona,” panggil Yuumi pada Alisa, “apa kau tahu orang yang bersamamu ini baru membunuh 7 orang dalam seminggu?”

“Aku tahu, dan aku tidak peduli. Aku juga sudah pernah membunuh orang.”

“Lihat, 'kan? Kalian cocok berdua.”

“Diam,” ujarku.

“Hey, Six,” kali ini Yuumi memanggilku, “apa kau masih sering mimpi buruk?”

“Memang kenapa?”

“Aku bisa membantumu meluruskan mimpi-mimpimu. Biar aku tebak, kau pernah mimpi bicara dengan Doktor Einhorn? Atau mungkin mimpi berjalan di koridor putih?”

Aku ingin bilang kalau apa yang dikatakannya memang benar, dan aku ingin tahu lebih banyak. Tapi aku juga tahu kalau ia sedang memancingku. Aku memandang Alisa, memasang tampang ragu, yang mana dijawab olehnya dengan gelengan agar aku tidak memperdulikannya. Tapi rasa ingintahuku lebih kuat, lagipula apa salahnya?

Aku menghela nafas dan memalingkan setengah wajahku ke arah Yuumi. Sekali lagi aku menemukannya memasang senyum menantang—tampang yang seharusnya tidak kupercaya. Meski demikian, aku tidak bisa menghentikan diriku dari berbicara, “dari mana kau tahu?”

“Sudah kuduga,” tukasnya seraya menjentikkan jarinya, “kau tinggal dalam sebuah OUBLIETTE, sebuah struktur yang dikembangkan oleh kolega lamaku sebelum ia menghilang dengan rekannya yang aneh itu. Doktor Einhorn mengambil hak skematiknya dan mendesain-ulangnya sebagai solusi situasi apokaliptik. Dan tentu saja dia membangun satu untuk digunakan sebagai fasilitas penelitian.”

“Di mana tempat ini?” tanya Alisa memotong sebelum aku bisa bertanya lebih jauh.

“Kau juga ingin tahu, rupanya? Sayangnya, aku tidak tahu. Buatku tidak menarik, kecuali kalau aku diundang untuk bekerja di sana.”

“Lalu untuk apa kau bilang?!”

“Aku hanya ingin membuktikan kalau aku masih bisa berguna. Aku tahu sedikit informasi.”

“Tidak,” ujar Alisa lagi sebelum aku bisa bicara pada Yuumi, “kau tidak berguna bagi kami saat ini, kami membiarkanmu hidup karena kami butuh kau untuk mengantarkan kami pada Einhorn.”

“Oke, sebut saja misalnya aku membantu kalian, apa keuntungannya untukku?”

“Pertama-tama, aku mungkin tidak akan membunuhmu.”

“Selain itu, tentunya. Lagipula cara bicaramu hipotetis, kata-katamu sama sekali tidak bisa dipegang.”

“Sudah, cukup,” ujarku pada Alisa, “kau terpancing.”

Alisa memandangku sesaat sebelum kembali memandang jalanan dan berhenti bicara dengan Yuumi. Aku lalu kembalikan pandanganku ke arah Yuumi. “Yang kau katakan tadi sama sekali tidak membantu.”

“Entahlah,” jawab Yuumi sambil mengalihkan pandangannya ke jendela di kirinya.

“Setidaknya beritahu sesuatu yang berguna; apa kau bisa menebak ke mana tujuan kita?”

“Kalau disuruh menebak, mungkin Geneva karena salah satu fasilitas riset paling mutakhir yang dimiliki Doktor Einhorn ada di sana.”

“Bagaimana dengan India? Aku dengar ke sanalah aku akan dibawa sebelum aku bangun di kapal nelayan di Mombasa.”

“Kau percaya? Aku yang sudah menjawab laporan itu. Aku asal-asalan menyebut India karena tidak ada hasil penelitian berguna dari Einhorn Foundation di sana selama satu dekade terakhir.”

“Brengsek, kau,” cercaku padanya, yang mana dibalasnya dengan seringai angkuh, “oke, karena kau mengaku sebagai neurologist, coba katakan eksperimen macam apa yang mereka lakukan padaku sampai otakku berantakan seperti ini. Yang membuatku bisa menggerakan benda di kantormu tanpa menyentuhnya.”

“Aku tidak bisa cerita banyak, tapi kakakku bilang kalau eksperimen ini bisa jadi langkah pertama dalam memahami hubungan antara alam semesta dan keberadaan kesadaran. Aku tidak akan mengutip secara pasti kata-katanya, caranya mengatakan ini sangat konyol.”

“Dan eksperimem macam apa itu?”

“Sudah kubilang aku tidak bisa mengatakan sejauh itu. Yang aku tahu, mereka sudah cukup berhasil sejauh ini, kau adalah bukti hidupnya. Maka dari itu akan sangat disayangkan kalau kau kehilangan keinginan untuk membantu.”

“Mereka sudah membuatku jadi begini! Bagaimana aku mau kembali jadi kelinci percobaan kalau hasilnya sejauh ini sudah membuatku nyaris gila?!”

“Belum saatnya kau memutuskan. Sekonyol-konyolnya project ini, hasilnya sudah ada. Aku sendiri skeptis sebelum melihatmu menggerakkan psi-wheel di kantorku.”

“Bagaimana denganmu? Kalau kau ada di posisiku, aku yakin kau akan lebih ingin mati.”

“Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi apa kau begitu egois dan egosentris sampai kau lebih memilih dirimu sendiri dibandingkan kesempatan untuk memperjauh evolusi umat manusia?!”

“...” aku terdiam. Kata-katanya tertanam dalam benakku. Tapi tidak sepatutnya memikirkannya, aku tidak boleh terindoktrinasi untuk merelakan kemanusiaanku sendiri.

“Tidak bisa jawab? Aku kecewa padamu, Six.”

“Kalian berdua, hentikan,” potong Alisa, menenangkan ketegangan antara Yuumi dan diriku.

Yuumi mengalihkan tatapannya dariku, mengembalikan pandangannya ke arah jendela setelah melihat jamnya. Ekspresinya berubah dari seringai angkuh menjadi termenung. Melihat itu, aku menyerah. Aku berbalik dan memandang Alisa. Dia menenangkanku dengan senyum empatik yang dengan diam menyuruhku untuk tidak memikirkan kata-katanya.

Aku menghela nafas dan melihat jalanan di depanku. Aku melihat ke sekeliling dan menyadari sudah sejauh mana kami mengemudi. Setelah hampir lima belas menit mengemudi dan bicara, kami menuju barat di jalanan yang relatif kosong di kota bawah Istanbul, setidaknya seperempat jalan menuju bandara.

“Arasaka,” panggil Alisa pada Yuumi sementara ia mengecek arlojinya lagi, “sedari tadi kau melihat jam tanganmu terus-terusan, apa yang kau takutkan?”

Benar juga, aku baru sadar. Beberapa kali saat kami mengobrol, Yuumi memang sering melihat ke arah arlojinya.

“Sigh,” Yuumi menghela nafas panjang, “aku sedang menunggu.”

“Menunggu? Menunggu apa?”

“Ingat waktu aku bilang Doktor Einhorn sangat waspada belakangan ini? Aku sudah cukup mengulur waktu. Di antara dokumen-dokumenku dalam koper ini, ada alat pelacak.”

“Apa katamu?!” seruku seraya berbalik ke arah Yuumi sambil terkejut.

“Sial!” bahkan Alisa menyerapah.

*CRASH*

Saat kami mengambil belokan yang mengarah ke sebuah jembatan, sebuah SUV hitam tiba-tiba muncul dari kiri kami dengan kecepatan tinggi. Hasilnya mobil kami terhantam keras di sisi kiri. Alisa kehilangan kendali mobil. SUV itu terus mendurung mobil kami hingga sisi lain mobil kami menabrak ujung dari pagar dinding jembatan.

“Maju! Maju! Maju!”

Aku tidak sepenuhnya sadar ketika mendengar komando maju dari luar. Dengan kondisi kaca mobil yang sudah pecah, aku bisa mendengar semua yang terjadi. Instingku memerintahkanku untuk segera waspada, namun aku tidak bisa menghimpun kesadaranku.

“Selamatkan Nona Arasaka!”

Lagi aku mendengar suara yang sama memberi perintah. Dengan segala kekuatanku, aku buka kelopak mataku untuk mendapati pandanganku yang kabur sementara separuhnya terwarnai merah. Darah. Sebuah luka sudah terbuka di atas mataku, membiarkan darah mengalir jatuh ke mataku.

“Hey...” panggilku lemah kepada Alisa yang sedang tampak kesakitan. Dia tidak kehilangan kesadaran, dia baik-baik saja. Segera aku pun berbalik, memeriksa keadaan Yuumi.

Di pintunya, seorang pria bersetelan hitam tengah menghantam jendela retak dengan sikunya Mereka tengah akan menyelamatkan Yuumi secepat yang mereka bisa. Sementara itu, rekannya sedang memundurkan SUV yang menabrak mobil kami. Aku harus segera bertindak.

Segera setelah SUV itu membuat jarak yang cukup, sesosok pria bersetelan hitam turun dari SUV dan mendekati pintu pengemudi mobil ini. Melihat itu, aku bereaksi dan mencoba melepaskan sabuk pengamanku. Tidak mudah melakukannya dengan kondisiku saat ini. Sementara itu, jendela pintu belakang sudah berhasil dibobol.

Pintu belakang dan pintu pengemudi dibuka berbarengan oleh dua sosok berbeda. Ketika aku berhasil melepas sabuk pengamanku, Alisa dan Yuumi sudah dikeluarkan dari mobil. Aku coba meraih Alisa, namun yang kutangkap hanya udara.

“Tunggu...” panggilku seraya terjatuh ke kursi supir.

“Nona Arasaka,” panggil sosok di pintu belakang sambil memapah Yuumi di bahunya mencoba menyadarkannya, “Nona Arasaka!”

“Bawa dia...” perintah Yuumi setengah sadar, “dan bunuh dia!”

“Hentikan,” ujarku.

Sosok satunya mendorong Alisa jatuh ke tanah lalu mengambil sesuatu di dalam jaket setelannya. Gerakan itu... Ia sedang mengambil sebuah pistol. Alisa sedang tidak dalam kondisi untuk melawan. Aku harus menolongnya.

Aku melihat ke sekitar, mencoba mencari sesuatu yang bisa kugunakan untuk menyambitnya hingga aku menemukan tasku di bawah dashboard. Resletingnya robek akibat tubrukan tadi dan isinya sudah tumpah keluar. Di antara empat pistol, beberapa bom asap, granat, dan jurnalku, ada dua pisau. Aku raih mata tumpul salah satu pisau lalu tanpa membidik kugunakan sisa-sisa tenagaku untuk melemparkannya ke arah tangan pria itu.

Tepat sebelum ia bisa menarik pelatuk pistolnya, pisauku mengenai pistolnya dan membuatnya menjatuhkan senjatanya itu. Kali ini, aku sudah cukup bisa mengumpulkan sedikit tenaga untuk menabrakkan diri padanya ketika ia berbalik untuk melihatku yang sudah menghalang-halanginya. Aku tabrak punggungnya dan mencoba menahannya ke tanah, namun percuma. Aku masih terlalu lemah.

“Shaun!” seru sosok yang sedang memapah Yuumi ke arah kami.

“Aku baik-baik saja, bawa Nona Arasaka ke dalam!”

Pria itu—yang bernama Shaun—menangkap tanganku yang mengunci bahunya dan menariknya ke depan. Ia menghempaskanku melewati kepalanya dan membanting punggungku ke atas aspal keras. Shaun berhenti memperdulikanku, ia malah lanjut mengambil pistolnya. Namun aku juga menemukan bahwa Alisa sudah mulai sanggup berdiri sendiri.

Aku tahu Shaun akan mengambil kesempatan untuk menghabisi Alisa. Melihat aku tidak punya kesempatan untuk menolong Alisa seperti sebelumnya, aku berlari ke arah Alisa. Aku lari, tangkap tangannya, dan mendorongnya seraya berlari. Kami berlari secara diagonal menuju sedan hitam kami mencari tempat berlindung. Dan tepat ketika kami melompat ke belakangnya, Shaun mulai menembak.

*BLAM*

*BLAM*

Shaun melepaskan beberapa tembakan sambil berjalan mendekati kami, semuanya mendarat di body sedan atau memantul darinya. Untuk saat ini, posisi kami aman. Namun masalahnya sekarang adalah bagaimana kami menyerang balik.

“Alisa, apa kau baik-baik saja?”

“Ya. Aku cuma sedikit terguncang.”

“Kau bisa bertarung sekarang?”

“Tentu saja. Di mana senjata kita?”

“Di dalam mobil,” tunjukku ke kursi penumpang depan sedan hitam.

“Bagus. Kau berdiri dan lari mengambilnya. Dia akan coba menembakimu begitu melihatmu, aku akan ambil kesempatan menyerangnya. Rekan-rekannya pasti akan mencoba membantunya dengan menembakiku, dan kau tahu apa yang harus kau lakukan berikutnya.”

“Aku mengerti.”

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, aku berdiri menunjukkan diriku di belakang jendela sedan yang sedikit digelapkan. Melihatku, Shaun melepaskan tembakan ke arahku, sesuai perkiraan Alisa. Peluru-peluru melesat melewati jendela namun tidak ada yang mengenaiku.

Melihat ada kesempatan, Alisa melompati bagasi sedan. Karena Shaun berdiri tidak jauh, Alisa mencoba menendang pistolnya. Meski gagal melucuti senjatanya, ia melanjutkan serangan dengan melontarkan pukulan dan tendangan beruntun ke arah Shaun.

Sementara aku membuka pintu penumpang depan, Alisa dan Shaun mulai berkelahi jarak dekat. Tinggi Alisa yang jauh dari tinggi Shaun semestinya menjadi kekurangannya, namun tidak. Ia bisa bertarung sepadan dengan Shaun. Mereka saling bertukar tinju dan tendangan sambil saling menangkis serangan satu sama lain. Meski Shaun masih memegang pistolnya, namun ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk melepaskan tembakan ke arah Alisa.

Sementara itu di belakang mereka, di SUV hitam, rekan Shaun mulai membidik Alisa sambil berlindung di pintunya yang terbuka. Semuanya sesuai perkiraan Alisa. Melihat itu, aku mengambil satu pistol dari tasku dan melepaskan tembakan sesegera mungkin sebelum ia bisa menarik pelatuk senjatanya.

*BLAM*

Sebuah peluru melesat dari barrel pistolku melalui pintu supir mobil ini yang terbuka dan mendarat di pintu SUV. Meski bahkan tidak dekat untuk mengenainya, namun cukup untuk membuatnya berlindung. Melihat itu, sosok satunya di sisi lain SUV juga mencoba menembakku.  Tembakannya mendarat di sisi lain sedan. Dari posisiku sekarang, tidak mudah untuk membalas tembakannya.

Aku pindah berlindung di balik bagasi sambil melepaskan tembakan ke arah SUV beberapa kali, memastikan agar rekan-rekan Shaun tidak pernah mencoba menembak Alisa. Sementara itu Alisa dan Shaun masih bertukar serangan, keduanya masih belum ada yang menurunkan kecepatan serangan mereka. Namun jika masih terus begini, salah satu di antara mereka akan kehabisan tenaga. Meski aku ingin Shaun yang lebih dahulu kelelahan, namun tidak menutup kemungkinan Alisa juga.

Entah bagaimana namun aku harus menolongnya. Aku coba membidik Shaun, namun dari tempatku berdiri, Shaun berada di balik Alisa yang membuatku tidak bisa membidiknya secara bersih. Untuk saat ini, menembak Shaun tentu bukan pilihan. Sementara ini, aku memilih untuk melindungi Alisa dari dua pria lain sampai akhirnya aku teringat dengan tas senjataku. Mungkin Alisa bisa menang jika ia memiliki senjata. Aku mengambil pisau yang tersisa lalu melepaskan dua tembakan ke arah dua pria lainnya.

Setelah membuat mereka berlindung, aku berseru ke arah Alisa sebelum melemparkan tinggi pisaunya ke arah Alisa. “Pisau! Tinggi atas kepala!”

Mendengar itu, Alisa mengambil langkah ke samping dan melirik singkat ke arahku. Ia mendapatiku melemparkan pisau dengan tinggi ke arah mereka. Shaun melihat perhatiannya teralihkan dan mencoba membidikkan pistolnya, namun aku melindungi Alisa dengan melepaskan tembakan dekat kakinya. Peluru mendarat tidak jauh dari kaki kanannya, tidak mengenainya, namun cukup untuk membatalkan niatnya. Sementara itu, Alisa melangkahi lutut Shaun dan menggunakannya sebagai batu loncatan untuk melontarkan dirinya setinggi mungkin.

Shaun dan aku terkejut melihat Alisa berhasil menangkap gagang pisau di udara. Karena aku sudah membuat rekan-rekan Shaun berlindung sebelumnya, tidak ada yang bisa menghalangi Alisa untuk bermanuver meski posisinya terbuka untuk serangan di atas Shaun. Sebelum lompatannya kehilangan momentum, Alisa memposisikan pisaunya di bawah tangannya dan kemudian menggunakan momentum jatuh untuk menghunuskan ujung pisau ke wajah Shaun.

Sebelum pisau itu mendarat ke wajahnya, Shaun berhasil menghentikan Alisa menikam wajahnya dengan menyilangkan lengannya di hadapan wajahnya. Alisa mencoba mendorong, namun ia tidak bisa mengalahkan pertahanan Shaun. Oleh karena itu, Alisa justru mengangkat tangannya. Pertahanan Shaun pecah dengan sendiri dan mengijinkan Alisa untuk mengantarkan serangan terakhir.

*BLAM*

Sebuah peluru tiba-tiba melesat melalui sisi wajah Alisa. Sejumput helaian rambutnya tampak rontok dibuatnya. Peluru tadi tidak mengenai kepalanya, namun amat sangat dekat. Semestinya aku sudah membuat kedua rekan Shaun bersembunyi, jadi tidak mungkin mereka. Aku susuri jalur tembak peluru dari ke asalnya dan menemukan peluru itu ditembakan dari balik kaca depan SUV—dari seseorang yang duduk di bangku belakang mobil itu.

[Arasaka Yuumi.]

Untuk sesaat aku sudah melupakan keberadaannya. Jika bukan karena aku melihat Alisa mendarat di kakinya dan lanjut mempertahankan diri dari serangan tangan kosong Shaun, mungkin aku sudah melepaskan tembakan ke arahnya karena posisinya juga terbuka di balik kaca SUV. Aku melihat salah satu rekan Shaun mengatakan sesuatu seperti “Anda bisa saja menembak Shaun” pada Yuumi sebelum rekan satunya mulai menembak ke arahku.

Aku kembali berlindung, kali ini cukup rendah untuk untuk mengintip lewat puncak bagasi. Kali ini aku melihat Shaun yang sedang kewalahan. Setiap kali ia berhasil menangkis serangan Alisa, Alisa mengoper pisaunya ke tangannya yang lain dan terus menyerang tanpa henti. Gaya bertarungnya dan sebilah pisau sudah cukup untuk membuatnya kewalahan.

Sambil masih melindungi Alisa dari rekan Shaun, aku melihat Shaun berhasil menangkap kedua tangan Alisa, membuatnya tidak bisa melanjutkan serangan. Namun hanya efektif untuk sesaat. Alisa membalikkan badan sehingga ia bisa memelintir tangan Shaun dan lalu menendang Shaun menjauh. Shaun mendarat dekat bagasi sedan, terbuka untuk sebuah serangan penentu. Namun untuk melakukannya, Alisa harus membiarkan punggungnya terbuka untuk diserang dari arah SUV.

“Hati-hati!”

Teriakku sebelum berdiri dan melepaskan tembakan ke arah dua pengawal lain di SUV yang hampir saja bisa melepaskan tembakan ke arah Alisa. Kali ini salah satu di antara mereka turun dari mobil dan mulai menyerang maju sementara yang lainnya melindunginya. Melihat ia tidak punya waktu untuk menghabisi Shaun, Alisa menendang  keras wajah Shaun hingga kepalanya terpental menabrak bodi mobil. Shaun pun kehilangan kesadaran.

Salah satu dari mereka maju menyerang Alisa. Tahu Alisa pasti sudah kelelahan melawan Shaun dan karena senjataku kehabisan peluru, aku jatuhkan pistolku sebelum melompati atap sedan dan menendangnya. Melihat itu, Alisa melayani pria bersetelan hitam satunya. Tidak butuh waktu lama untuk mengalahkannya. Saat sang pengawal sedang turun dari mobil, Alisa melompat dan menendang pintu SUV. Pintu itu mengenainya dan hantamannya cukup untuk menghempaskannya.

Sementara aku berkelahi melawan pria ini, Alisa mendekati pintu belakang SUV dan membukanya. Ia lalu memaksa Yuumi untuk keluar untuk ikut dengannya. Aku juga melihat ia terpaku sesaat sebelum ia memungut sesuatu dari dashboard SUV. Setelah itu, ia mendorong Yuumi hingga ia jatuh setelah menariknya hingga sampai di dekat sedan hitam. Alisa lalu mendekatiku dan mulai membantuku mengalahkan pria ini.

Pria ini tidak ada apa-apanya untuk kami berdua, Alisa dan aku bergantian menghajarnya. Untuk beberapa pukulan pertama, ia berhasil menghindar atau menangkis. Namun ia tidak bertahan lama. Setelah menerima beberapa serangan, ia tidak bisa lagi menghindar atau menangkis serangan kami. Segera setelah ia tampak cukup lemah untuk tidak lagi bisa berdiri, aku selesaikan pertarungan ini dengan tendangan telapak kaki ke dadanya. Punggungnya mendarat di kap SUV dan kehilangan kesadaran.

Melihatnya nyaris roboh, aku pun membantu Alisa untuk berdiri.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyaku.

“Ya. Kita harus segera ke bandara.”

Aku coba membantunya berjalan, namun ia menolak bantuanku. Ia lalu memungut pistol milik Shaun dan kami mendekati Yuumi yang ketakutan dengan keberadaan kami.

“Jangan bunuh aku!” ujarnya sambil meringkuk menutupi wajahnya.

“Diam!” sentak Alisa seraya menariknya berdiri, “kau beruntung kami butuh kau hidup-hidup.”

“...”

“Kau dengar itu?” tanyaku sementara Alisa menarik Yuumi berdiri. Aku bisa mendengar sesuatu. Suara sirene mobil polisi di kejauhan.

Alisa memperluas jangkauan pendengarannya, mencoba mendengarkan apa yang kumaksud. Setelah terdiam beberapa saat, ia menghadap ke arahku. Ekspresi wajahnya mengatakan semua yang perlu kuketahui.

“Apa itu suara——”

“Polisi, yeah,” ujarku menyelesaikan kalimatnya. “Kita harus segera pergi dari sini.”

“Mobil kita sudah tidak mungkin dipakai.”

“Bajak saja salah satu mobil di sekitar sini.”

Setelah apa yang terjadi, ada banyak warga sipil yang menonton kami dari mobil mereka di jembatan maupun di jalanan sebelum jembatan. Beberapa dari mereka bahkan menonton kami setelah turun dari mobil mereka.

“Red!”

Tiba-tiba Yuumi berseru ke belakang kami, membuatku berbalik ke arahnya berteriak. Di samping SUV hitam, salah satu pengawal yang dikalahkan Alisa sudah mulai siuman.

“Seharusnya tadi kuhabisi dia,” bisik Alisa.

“Tidak, jangan,” balasku, “jika kita menghabisinya, tidak ada yang bisa disalahkan oleh polisi.”

“Segera cari kendaraan kalau begitu.”

“Itu juga bukan rencana bagus, mereka bisa mengejar kita.”

Aku coba melihat sekeliling, mencari jalan untuk melarikan diri di mana pengawal Yuumi tidak akan bisa mengikuti kami. Dari sepanjang jalanan sebelum jembatan ini maupun di atas jembatannya sendiri, yang bisa kutemukan hanyalah jalan melarikan diri dengan lari di atas kaki atau membajak mobil lain.

“Di sana!”

Tiba-tiba alisa berseru seraya menunjuk ke salah satu sisi jembatan. Aku kira ia sedang menunjuk ke arah sebuah jeep off-road di sisi lain jembatan, namun setelah aku menemukan apa yang ada di baliknya, aku tahu persis apa yang sedang ia pikirkan.

“Ide bagus, ayo.” Komentarku singkat sebelum mulai berlari ke arah yang ditunjuknya. “Oh——tunggu!”

“Ada apa lagi?”

Aku sudah melupakan sesuatu. Aku pun berhenti dan berlari ke arah sedan hitam dan mengambilnya. “Senjata kita.”

Tanpa menungguku untuk bergabung dengan mereka, Alisa sudah mulai mendorong Yuumi ke sisi lain jembatan. Sementara itu di belakang kami, pengawal yang Yuumi panggil sebelumnya—yang bernama Red—sudah membangunkan salah satu rekannya. Setelah itu, Red mulai mengejar kami sementara rekannya itu mencoba membangunkan Shaun.

“Cepat!” Alisa menyuruhku bergegeas. Bukan karena Red sudah mulai menutup jarak di antara kami, namun karena kami hanya punya jendela sempit untuk bisa mencapai tempat tujuan kami.

“Kau gila, ya?!” protes Yuumi ketika Alisa mendorongnya untuk memanjat pagar pembatas jembatan.

“Diam saja! Lompat!”

“Tidak! Mau!”

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Alisa mendorong Yuumi jatuh dari jembatan. Tidak ada suara ceburan air. Ketika aku sampai di pagar jembatan, aku menemukan mereka melompat tepat waktu. Mereka mendarat di atas sebuah ferry kuning kecil. Namun sudah terlambat untukku melompat, ferry itu sudah masuk ke bawah jembatan.

Aku berbalik. Untungnya Red dan yang lainnya masih belum cukup dekat denganku. Aku segera berlari menyeberangi jembatan ke sisi pagar satunya. Melihat itu, Red merubah arah larinya. Ia mengikutiku. Setelah aku sampai di pagar pembatas, aku melihat ke bawah dan menemukan ferry tadi sudah mulai muncul dari bawah jembatan. Melihat itu, aku pun memanjat pagar pembatas dan melompat turun.

Lompatanku terlalu dini. Aku mendarat di pojok perahu, tepat di dalam pojokan railing pembatas ferry. Satu detik lagi terlalu cepat dan aku mungkin sudah jatuh ke dalam selat. Aku bisa melihat Yuumi dan Alisa sedang dimarahi oleh seorang petugas ferry. Tidak lama setelah aku mendarat, Red dan salah seorang rekannya melompat ke perahu dan mendarat tepat di hadapanku. Aku melihat ke atas dan menemukan Shaun sedang memanjat pagar dan bersiap melompat. Perahu ini sudah terlalu ramai. Aku tendang Red membuatnya terdorong mundur hingga menabrak rekannya sebelum aku mengeluarkan pistolku dan membidik Shaun.

*BLAM*

Penumpang ferry yang separuh kosong ini yang terlalu sibuk menonton Alisa dan Yuumi terkejut dan berteriak mendengar suara tembakan yang tiba-tiba. Mereka juga terlalu sibuk mencari tempat berlindung hingga mereka tidak menyadari tubuh Shaun tercebur ke selat. Yang menyadarinya hanya Yuumi dan Alisa. Dan setelah mereka menemukan dari mana arah suara tembakan tadi, Alisa mendorong Yuumi ke arahku, tidak menghiraukan petugas yang sedang memarahi mereka.

Navigasi cerita
Tampilan
Bentuk teks: