Navigasi cerita
ALLBLACK
η - Jiwa-Jiwa Menderita (Bagian Pertama)
Dipajang pada 16 May 2015 17:04:48 oleh fsc

25 June 2010

Strand Garden Motel, kota bawah Istanbul

17.58

Ketidaksabaran memicu banyak hal; meningkatnya kecepatan bernafas, naiknya kecepatan detak jantung, impuls yang muncul dari antisipasi. Namun ketidaksabaran sendiri hanyalah katalis, penantian ‘lah penyebabnya.

Penantian ini membuatku menyadari banyak hal. Contohnya aku gagal menyadari kalau sejak kemarin kantung mata sudah membentuk di bawah kelopak mataku.

Seperti itulah, belakangan ini yang kumimpikan hanyalah mimpi buruk. Sejak Mombasa, aku belum bisa beristirahat dengan tenang, namun juga selama ini aku belum pernah istirahat dengan memuaskan.

Tidak seperti saat-saat itu, saat ini aku merasa berbeda. Sebelumnya aku tidak bisa beristirahat karena ketidaktenangan dan kecemasan, namun kali ini aku tidak bisa beristirahat karena rasa antusias.

Sambil duduk di atas dipan ini, mendengarkan suara tiap detikan jam dinding yang tergantung di dinding dan suara suasana kota di luar, aku menunggu dengan tidak sabar. Waktu memang kejam, aku akui, saat sedang menunggu, waktu terasa sangat lambat, namun saat sedang bersenang-senang, waktu terasa sangat cepat.

[Seharusnya dia sudah datang.]

[Di mana dia?]

[Dia jadi datang atau tidak?]

Tiap kali aku memeriksa wajah jam, aku terus mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sama. Itulah yang dibuat ketidaksabaran menurutku; membuatku terjebak dalam sebuah lingkaran tiada putus yang disebut ‘harapan.’

*TOK* *TOK*

Dua ketukan samar namun mantap menggaung di ruangan ini, kemunculannya membebaskanku dari penantian dan membuatku berdiri dengan girang.

Tanpa perlu memastikan, aku sudah tahu siapa yang berada di balik pintu itu.

Dua jam lalu sebelum aku sampai di sini, saat aku masih menunggu bus, seorang gadis misterius menghubungiku lewat sebuah ponsel yang dia tanamkan padaku sebelumnya. Aku masih belum tahu siapa dia, namun aku sudah memastikan identitasnya sebagai sosok putih dalam mimpiku.

Kepastian bahwa dia adalah seseorang dari masa laluku bukanlah satu-satunya penyebab kebahagiaanku, dia juga menceritakan jati diriku. Dia lalu mengusulkan untuk bertemu, jika benar dia adalah siapa yang dia katakan, maka aku tidak punya alasan untuk tidak mempercayainya. Dia juga memberikanku kebebasan untuk memilih tempat pertemuan. Dan karena aku butuh tempat istirahat, aku memilih motel ini.

Dua jam kemudian, setelah penantian panjang, dia mengetuk pintu kamar 24 tempatku menginap.

Aku memang sudah mengatakan di mana aku berada padanya, jadi kedatangannya tidak terlalu mengejutkan. Namun aku tetap merasa tegang. Apa yang kucari sepanjang minggu ini kini berdiri di balik pintu itu.

Dengan tegang dan penasaran, aku melangkah ke arah pintu dan meletakkan tangan kananku pada gagangnya. Dengan satu tarikan mantap setelah aku menekan gagangnya, pintu mengayun terbuka, menunjukkan sesosok gadis mungil yang sedang berdiri di koridor.

[Vicky?]

Kecuali gaya rambut dan pakaiannya, gadis ini tampak sangat mirip dengannya. Namun itu tidak mungkin.

Sesosok gadis berambut pendek mengenakan jaket surplus berkerah tinggi yang tampak kebesaran melapisi kaos abu-abu dan celana jeans hitam yang ujungnya digulung sedang menatapku. Aku bisa melihat sosokku terpantul di bola mata beriris birunya yang tampak mengembang.

Namun ironis. Untuk seseorang dari masa laluku, keberadaannya tidak membuatku merasa rindu.

“Ah...”

Segera begitu aku menyadari matanya sudah mulai berkaca-kaca dan sebelum dia mulai menangis, dia menyembunyikan wajahnya dengan tiba-tiba mendekapku. Tangannya melilit tubuhku dengan erat tanpa menunjukkan wajahnya.

Meski aku tidak bisa melihatnya, namun aku bisa mendengar isakkan samar saat dia mengubur wajahnya ke dadaku.

“Apa  kau baik-baik saja? Boleh aku minta lepaskan?”

“Tidak.”

Sejujurnya, aku kebingungan. Aku tahu dia bilang dia sudah mencariku hampir dua tahun, namun aku gagal memahami alasan di balik tindakannya ini. Aku tahu dia pasti sangat bahagia melihatku. Mendengar jawabannya yang dipaksakan di tengah isak tangisnya sementara dekapannya mencengkramku semakin erat dan kegagalannya menahan tangis membuatku merasa harus melakukan sesuatu.

Dengan canggung, aku pindahkan kedua tanganku dan meletakannya di sekelilingnya; membuat lingkaran yang lebih besar dari dekapannya. Segera dia melepaskan cengkraman eratnya dariku dan meletakkan kedua tangannya di antara diriku dan dirinya. Dia tertawa ringan sambil masih menyembunyikan wajahnya dariku.

Karena aku tahu memang inilah yang dia butuhkan, aku mengurungkan diri untuk melepaskan dekapanku. Butuh beberapa saat hingga dia puas. Begitu dia mulai mundur, aku lepaskan peganganku dan dia mulai mengusap sisa-sisa airmata dari wajahnya hingga menyisakan sebuah senyum manis di wajahnya. Meski pipinya masih dihiasi rona merah.

“Jadi,” ujarnya sambil masih mengusap wajahnya, “apa kabarmu?”

“Aku baik-baik saja, kalau itu pertanyaanmu.”

“Kau sudah berubah banyak, ya?”

“Maksudmu?”

“Bisa kita bicara di dalam?”

Benar juga, sejak tadi kami masih berdiri di bawah pintu kamarku. Aku sudah melupakan keadaan ini.

“Ah, tentu,” jawabku sambil memberi jalan untuknya masuk. “Masuklah.”

Setelah mendengarku memberinya ijin, dia masuk ke dalam. Setelah melihat-lihat isi ruangan, dia memindahkan kursi di sebelah lemari ke dekat dipan dan duduk di atasnya. Melihat tindakannya, aku melangkah ke arah dipan dan duduk di atasnya. Sekarang kami terduduk menghadap satu sama lain.

“Jadi,” ujarku betgitu duduk di atas dipan, melanjutkan pembicaraan kami sebelumnya. “Apa maksudmu aku tidak berubah banyak?”

Tidak seperti senyuman mencemooh yang kulihat di berbagai wajah sepanjang minggu ini, inilah kali pertama aku melihat senyuman ramah dari dirinya.

“Kau bertambah tinggi,” jawabnya sebelum tersenyum polos. “Dua tahun sepertinya sudah mengubah banyak hal.”

“...”

Meski jawabannya terkesan mempermainkanku seperti orang-orang lain yang sudah kutemui belakangan, aku merasa berbeda. Tidak seperti Yuumi sang Supervisor yang mempermainkanku secara provokatif, gadis ini serasa menggodaku dalam artian berbeda, aku tidak merasa terhina sama sekali.

“Huh?”

“Sumpah, terakhir kali aku melihatmu aku yakin aku bisa mensejajarkan mata kita kalau aku berjinjit. Lalu rambutmu, kapan terakhir kali dipotong?”

Ini memang dia, sifatnya ini benar-benar serupa dengan sifat sang sosok putih. Kesamaannya ini membuatku tidak kuasa menahan tawa. Jawabannya sudah membuatku melepaskan kikikan lemah sambil telapak kiriku menutupi sebelah wajahku.

“Kenapa ketawa?”

“Ah, maaf,” jawabku sambil menenangkan diri, “silahkan lanjutkan.”

“...”

“Aku hanya merasa ada yang lucu.”

“Kau benar-benar tidak ingat, ya?” meski moodnya berubah, namun senyumannya hanya berubah sedikit. “Apa yang sudah terjadi padamu?”

“...” aku menghela nafas mendengar pertanyaannya, “jika aku jawabannya, aku kira aku tidak akan berada di sini.”

“Kau benar-benar tidak tahu apa-apa?”

“Aku tidak yakin, aku tidak bisa mengingat apapun lebih jauh dari enam hari lalu.”

“Apa yang terjadi enam hari lalu?”

“Aku tidak tahu detailnya, tapi aku ditemukan mengambang di laut dan disebut bertanggung jawab atas jatuhnya helikopter milik Graille Einhorn.”

“Apa kau sudah menjatuhkannya?”

“Seperti kataku, aku tidak tahu,” jawabku sambil menyapu rambutku ke belakang.. “Seminggu belakangan ini, aku sudah melalui banyak hal.”

“Aku juga sudah mengalami banyak hal, aku yakin kau tidak akan percaya—”

“Apa kau pernah menghentikan hujan?”

“Huh?”

“Di hari pertama yang bisa kuingat, aku menghentikan hujan,” lanjutku seraya beranjak dari dipan untuk melangkah ke arah tasku di sebelah dipan dan membukanya untuk mengambil jurnalku.

“Apa maksudmu ‘menghentikan hujan?’”

“Aku tidak bisa menjelaskannya. Namun setelah hari itu, aku terus mengalami mimpi-mimpi aneh,” jawabku sambil membawa jurnalku dan kembali ke tempatku di atas dipan dan duduk di atasnya lagi, “banyak hal ganjil terjadi padaku, bahkan di satu titik aku seperti sudah terbang.”

“Buku apa itu?”

“Catatan tentang hampir semua mimpi dan keganjilan yang kualami sepanjang minggu ini.”

“Boleh aku lihat?”

“Tentu saja, aku yakin kau ada di dalamnya.”

“Huh?”

Aku serahkan padanya binder bersampul kulit hitam itu yang diterimanya dengan santai. Dia lalu mulai membuka lembaran demi lembarannya, memfokuskan diri untuk membaca tulisanku.

“Di hari pertama, aku ditemukan mengapung di lautan oleh sekelompok nelayan. Mereka menyelamatkanku dan mengatakan bahwa akan ada bantuan menungguku saat kami mendarat, namun kenyataanya aku menemukan penyergapan. Sebelum kami mendarat, kami harus melalui badai, di sanalah aku—”

“Tulisanmu berubah.”

“Huh?”

“Tulisanmu sudah jadi agak rapih, tidak lagi seperti coretan cakar ayam.”

“Hey, aku sedang serius.”

“Iya, iya, maaf,” pintanya sambil tertawa ringan dan mengembalikan pandangannya ke arah jurnalku, “lanjutkan.”

“...” lagi, dia menggodaku. Namun sungguh, tidak seperti saat-saat lain ketika orang lain mempermainkanku dengan cara serupa, aku tidak merasa kesal. Bahkan godaannya itu terkesan membuatku merasa tenang. “Saat aku sedang membantu para nelayan itu melalui badai, kapal mereka nyaris kandas jika badainya tidak mereda tiba-tiba. Tidak seperti cuaca berubah dari badai menjadi cerah tiba-tiba, maksudku lebih seperti saat rintikan hujan jatuh ke kaca jendela, minus kacanya; tetesan airnya hanya mengapung di udara.”

“...” sesekali dia berkedip sambil masih memakukan matanya membaca jurnalku. Namun ketika aku selesai bicara, dia segera mengangkat wajahnya dan menatapku. “Kedengarannya tidak mungkin.”

“Tapi aku selamat,” lanjutku. “Hari berikutnya, aku sampai di Mombasa. Seperti kata salah satu nelayan itu, ada yang sudah menunggu—”

“Tunggu dulu, ada apa di India?”

“Oh, halaman itu,” jawabku menjeda sambil menggaruk punggung kepalaku, “aku dengar helikopter yang katanya kujatuhkan menuju ke sana. Aku tidak tahu detailnya, tapi tebakanku ke sanalah aku harus pergi.”

“India, huh,” dia bergumam sebelum melanjutkan membaca jurnalku, “lanjutkan ceritamu.”

“Sampai di mana aku tadi? Jadi aku sampai di Mombasa, tiga orang menyergapku, tapi aku berhasil melarikan diri. Aku juga menyelamatkan seorang gadis, tapi aku kehilangan dia di tengah kejadian.”

“Tunggu, berarti kekacauan di Mombasa di berita itu—”

“Ya, itu ulahku,” aku memotong sebelum dia menyelesaikan pertanyaannya, “setelah itu, aku menemukan sebuah ponsel dari salah satu pengejarku. Lewat ponsel itu Yuumi mengundangku ke sini dengan janji dia akan memberitahu siapa aku sebenarnya.”

“Dia bohong, kan? Kalau tidak kau pasti sudah tahu siapa namamu.”

“Ya...” aku menghela nafas. “Bagaimana denganmu? Apa kau, atau kita, memang berasal dari sekitar sini?”

“Oh, tidak. Kita berdua datang dari tempat yang jauh.”

“Lalu, apa yang bisa kau ceritakan tentangku, Nona... uhh...”

Aku menjeda karena aku sudah melupakan namanya. Aku kira aku sudah mengingatnya, namun karena semenjak dia memberitahukan siapa dia sampai sekarang pikiranku sudah terisi banyak hal, aku jadi lupa. Dia tersenyum mendengarku melupakan namanya, aku tidka tahu apa yang lucu tentang itu. Dia lalu menutup jurnalku dan menyerahkannya kembali padaku.

“Alisa.”

“Ya, maaf,” jawabku seraya menaruh jurnalku di sebelahku.

“Bukan salahmu. Seperti kataku kita datang dari tempat jauh. Banyak hal sudah terjadi dua tahun belakangan ini.”

“Nah, tentang dua tahun itu, bisa beritahu apa yang kau maksud?”

“Tentu; sekitar dua tahun lalu, kau dibawa dari panti asuhan tempat kita tinggal. Tanpa harus menceritakan detailnya, aku menghabiskan dua tahun itu mencarimu.”

“Tunggu— panti asuhan? Maksudmu kita berdua...”

“Yep, Panti Asuhan Edelweiss; di sanalah kau berasal. Sejauh yang kutahu, kau sudah ada di sana sejak kecil, tapi aku baru tinggal di sana setahun sebelum kau... menghilang.”

“Huh...”

Itu menjelaskan sesuatu. Aku ingat di tempat Vicky aku menyaksikan sekeluarga yang begitu dekat, aku merasa aku tidak pernah merasakan hal serupa namun aku juga merasa aku tidak pernah sendiri, bahkan saat ini.

“Aku sudah mencarimu lama, tidak kusangka aku akan menemukanmu semudah ini.”

“Tunggu— jadi apa yang sedang kau lakukan di sini?”

“Oh, aku sedang mengawasi Arasaka Yuumi, aku dengar dia punya petunjuk tentang keberadaanmu.”

“Yeah, kau sudah menemukanku.”

“Ya, syukurlah. Tapi...”

“Apa?”

“Aku tidak tahu apa yang sedang kau lakukan dengannya, tapi menurutku lebih baik jika kau meneruskannya,” jawabnya sambil memajukan wajahnya..

“Huh?”

“Jangan salah sangka, mencarimu memang selalu jadi tujuanku, namun aku tidak menduga kemunculanmu di sini.”

“Aku juga tidak tahu apa yang sedang kulakukan dengan Yuumi, tapi menurutku keberadaanmu membuatku tidak membutuhkannya.”

“Tidak!” Dia menaikkan nada bicaranya sambil menarik dirinya, membuatku sedikit terkejut. “Maaf, tapi aku butuh kau melanjutkan ini.”

“Aku tidak mengerti.”

“Apa kau ingat tentang—”

“Ugh!”

Tiba-tiba aku merasa sesuatu menusuk kepalaku, sakit kepala itu lagi. Rasa sakitnya membuatku melenguh sambil mencengkram sisi kiri wajahku dengan tangan kiriku.

Seiring rasa sakit yang kurasakan semakin tajam, suara lengkingan statik menaklukkan pendengaranku. Hampir membuatku kehilangan keseimbangan jika aku tidak menahan posisiku dengan menopang badanku di tangan kananku.

Perlahan bayangan-bayangan hantu sosok-sosok anak-anak berwarna-warni bermunculan di ruangan ini. Aku pernah melihat ini sebelumnya, ini sama seperti halusinasi yang kusaksikan di kapal milik Jordan. Satu-satunya perbedaan adalah pemandangan ini lebih kabur dari sebelumnya, namun rasa sakit yang kurasakan juga lebih parah.

Sebelum tangan kananku menjadi terlalu lemah dan aku kehilangan keseimbangan, aku bisa mendengar suara tawa polos gembira di antara suara lengkingan. Yang kusadari berikutnya adalah Alisa sedang mengguncang tubuhku sambil memanggil namaku, nama asliku.

“<...>! <...>!” dia memanggilku sambil mengguncang tubuhku yang terkulai.

Suara lengkingan ini sangat kencang, cukup kencang hingga membuatku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Alisa, namun aku masih bisa mendengar suaranya. Sudah beberapa kali panggilannya menolongku, dan kali ini, seperti sihir, suaranya kembali menolongku.

Perlahan ilusi dan suara-suara fana yang kudengar menghilang. Aku mulai mendapatkan kendali tubuhku kembali. Aku pun melakukan hal termudah yang bisa kulakukan; aku mengedipkan mataku. Untuk sedetik hanya kegelapan yang kulihat, namun begitu kubuka mataku, segalanya sudah kembali normal.

Meski aku bisa bergerak, namun aku tidak bisa mengangkat badanku. Aku lalu menyadari kalau aku nyaris tidak bernafas. Dengan tajam aku menarik nafas lewat hidung dan mulutku, mengisi paru-paruku dengan udara segar. Setengah jalan melakukannya, aku mulai mendapatkan kekuatanku kembali, meski belum sempurna, aku masih mencoba bangkit.

“Apa kau baik-baik saja?”

Itulah yang pertama kali kudengar setelah indraku kembali bekerja, dan wajah Alisa adalah hal kedua yang kusadari.

“Yeah, aku baik-baik saja.”

“Hidungmu berdarah.”

Mendengar itu, aku segera menyapu bibir atasku dengan punggung tangan kananku. Sambil berdiri sedekat itu, dia juga memperhatikan wajahku. Aku kira itulah saat dia menyadari kantung mataku.

“Kapan terakhir kali kau istirahat?”

“Sungguh, aku baik-baik saja.”

“Apanya? Kita lanjutkan pembicaraan kita nanti, oke? Untuk saat ini istirahatlah.”

Sambil masih kebingungan, aku tidak menyadari tubuhku ternyata sangat mudah dijatuhkan. Aku tidak merasakan dia merebahkan tubuhku ke atas kasur.

Begitu aku melihat ke langit-langit ruangan, aku menyadari kalau halusinasiku belum selesai. Aku bisa melihat langit-langit ruangan diselimuti awan badai, seperti saat aku mengapung di lautan.

Bahkan aku merasakan sensasi yang sama, aku merasakan guncangan ringan di bawah kepalaku. Namun aku menyadari kalau itu adalah Alisa yang sedang menarik bantal ke bawah kepalaku. Setelah itu, aku melihat wajahnya menatapku dari atas, dan perlahan ilusinya memudar.

“Kita lanjutkan pembicaraan kita nanti.”

Meski aku masih lemah, aku mengerti bahwa dengan kata-katanya itu dia akan pergi. Aku tidak menginginkannya.

“Kau mau ke mana?”

“Kau harus istirahat, ada beberapa hal yang harus kulakukan...”

Aku ingin menghentikannya, namun aku tidak bisa mengangkat badanku. Yang bisa kulakukan hanyalah mencoba meraihnya saat dia melangkah ke arah pintu.

Setelah dia membuka pintu, dia berdiri di sana untuk beberapa saat, tertahan di mulut pintu. Dia membalikkan wajahnya. Aku kira aku raihanku berhasil menahannya, namun tidak; dia hanya memberiku senyuman simpul. Dia masih akan meninggalkanku.

After she opened the door, she stands there for a while, stuck in the threshold. She turns her face, I thought my reach actually stopped her, but no; she gives me a smile, she's still going.

“Sampai nanti,” bisiknya, “Ferno.”

Suaranya terdengar menenangkan, membuatku enggan mempertahankan kesadaran. Dari seberang ruangan aku hanya bisa menontonnya menghilang di balik pintu. Aku menghela nafas dan menutup mataku, membiarkan rasa kantuk menguasai.

Aku jatuh tertidur, tidur tak bermimpi yang tak menenangkan. Tubuhku beristirahat sementara pikiranku tetap aktif dan membuat istirahatku tidak tenang. Meski demikian aku menolak untuk bangun, hingga tiga jam kemudian. Kepalaku terasa lebih ringan, meski sekujur tubuhku terasa masih berat.

“Ferno?”

Aku tidak terbangun dengan sendirinya. Sebuah suara membuatku membuka mata. Itu suara Alisa, namun bukan dia yang memanggilku.

Begitu aku membuka mata, aku menemukan sosok bayangan putih Alisa berdiri di samping tempat tidurku. Kurangnya pencahayaan di ruangan ini tidak mempengaruhi penampakannya yang jelas. Tidak seperti bentuk nyatanya yang kutemui sore ini, sosok ini mengenakan sundress. Dia menatapku dengan kedua tangannya terlipat di belakang punggungnya.

Setengah terbangun dengan ditopang siku kananku, aku menatapnya sementara matanya yang hampa terpaku ke arahku.

“Cari aku.”

Setelah bertukar pandangan selama beberapa detik, dia membuka mulutnya, melepaskan beberapa kata dengan suaranya yang khas. Segera setelah itu dia bepaling ke kanan dan melangkah menuju ke pintu. Namun aneh, sebelum sampai di pintu, dia menghilang.

Aku pasti masih bermimpi. Untuk memastikannya aku menampar pipi kiriku dengan tangan kiriku. Meski tidak terasa sakit, namun sensasi ditampar membuatku yakin kalau aku sudah sadar.

Mataku masih mencoba menyesuaikan diri. Meski kedua mataku terbuka, namun yang bisa kulihat hanyalah kegelapan. Saklar lampu ada di samping pintu, aku beranjak turun dari dipan. Tubuhku terasa kaku, aku merenggangkan punggung, lengan, dan tungkaiku sebelum melangkah menuju ke saklar pintu. Namun pojok mataku menangkap sesuatu di jalanan dari jendela.

Bukannya melangkah ke kiri menuju ke saklar lampu, aku justru mendekati jendela untuk memastikan apa yang kulihat.

Aku tahu aku sudah tidak bermimpi. Namun di trotoar di seberang motel tempatku menginap aku bisa melihat sosok putih bayangan Alisa. Dia sedang berdiri, menatap ke arah jendela ruangan ini. Tidak seperti sosok bayangan yang baru kulihat tadi, sosok itu tampak seperti Alisa yang kulihat sore ini.

Bahkan setelah beberapa saat, dia tetap berdiri di titik yang sama tanpa bergeming ataupun mengalihkan pandangannya. Meski aku berdiri di depan jendela ini, dia hanya menatap ke arah jendela ruangan ini; seakan bukan aku yang dia tatapi.

[“Cari aku.”]

Sosok bayangan putih di ruangan ini mengatakan itu tadi. Sekarang ada sosok berbeda dari orang yang sama sedang berdiri mematung di luar. Aku kira aku harus menghampirinya.

Aku berbalik. Setelah mengambil jaketku dari atas meja di samping tempat tidur, aku melangkah ke arah pintu. Aku keluar dari ruangan dan menyusuri koridor sambil mengenakan jaketku sebelum menuruni tangga menuju ke aula motel dan keluar dari bangunan.

Dari sini aku bisa melihat sosok putih itu masih berdiri di seberang jalan, menatap ruangan tempatku menginap. Aku berjalan cepat menyeberangi jalan setelah memeriksa kedua sisi jalan dan menemukan kalau sudah aman untukku menyeberang. Semakin aku mendekatinya semakin jelas sosok bayangan itu.

Sambil masih menyeberangi jalan, aku berbalik melihat ke arah ruangan tempatku menginap. Tampak sangat jelas dari sini, membuatku penasaran apa yang membuatnya menatap titik itu.

Saat aku berbalik kembali padanya, aku menemukan kalau sosok itu sudah menghilang. Aku coba menengok, dari kiri ke kanan. Aku lalu menemukannya berjalan ke arah kanan, melewati titik butaku.

Pada awalnya aku kira ini hanyalah halusinasi. Namun melihat bagaimana dia bereaksi saat aku mendekat membuatku merasa ini lebih seperti fantasma daripada halusinasi.

Aku percepat langkahku, tidak untuk mengejarnya, namun cukup untuk membuatku berada tepat di belakangnya. Malam di Istanbul tidaklah seperti di Mombasa, aku menemui beberapa orang saat sedang mengikutinya, sulit menjaga sikap di saat seperti ini.

Setelah mengikutinya beberapa saat, aku merasakan semakin aku mengikutinya, semakin berat kepalaku. Untuk saat ini masih nyaris tidak terasa, maka dari itulah aku tidak menghiraukannya.

Beberapa blok kemudian, dia berhenti di depan etalase sebuah toko hadiah. Untunglah. Dengan demikian aku bisa menopang tubuhku di dinding terdekat untuk meredakan sakit kepala yang kurasakan. Namun aku tidak bisa menebak apa yang sedang dia lihat di jendela toko itu.

[Apa dia sedang window shopping?]

Dia berdiri di sana dengan kedua tangannya di dalam saku jaketnya untuk beberapa saat. Mungkin beberapa menit, pokoknya cukup untuk membuatku lelah menunggu.

Aku ingin mendekatinya. Namun semakin dekat aku pada sosok bayangan itu, semakin keras sakit kepala yang kurasakan. Karena itulah aku mengurungkan diri.

[Di jendela itu rasanya tidak banyak barang-barang.]

Aku mulai penasaran apa yang membuatnya tahan berdiri selama itu. Untungnya tidak lama kemudian dia mulai bergerak lagi.

Dia melanjutkan berjalan di jalanan lagi, segera aku meninggalkan tempatku beristirahat. Sambil mengikutinya, aku melihat ke dalam jendela yang ditatapnya sembari lewat. Toko itu hanya toko suvenir biasa, aku tidak tahu kalau dia suka barang-barang seperti itu.

Aku hanya punya sedikit waktu untuk memeriksa etalase toko ini. Sebelum aku terlalu jauh dengannya, aku kembali mulai berjalan dan mengejarnya.

Lagi dia berjalan beberapa saat, melewati beberapa blok bangunan, tidak berhenti ataupun beristirahat, hingga dia tiba-tiba mengambil belokan ke dalam sebuah gang di antara dua bangunan.

Melihatnya menghilang dari jarak pandangku, aku mempercepat langkahku. Sialnya aku tidak cukup cepat. Begitu aku sampai di gang itu, sosok bayangan Alisa sudah menghilang.

[Sial.]

Lucu rasanya sesuatu yang fana berhasil mengecohku. Meski sosok bayangan itu sudah pergi, sakit kepala yang disebabkannya masih terasa. Meski tanpa petunjuk atau apapun, aku melanjutkan mengikuti gang sampai aku sampai di jalan lain. Dari sini, aku harus mencari jalan sendiri.

Sejauh ini, tidak ada jaminan kalau sosok bayangan itu sedang memanduku ke mana. Sejujurnya aku bahkan tidak tahu kenapa aku mengikutinya. Untuk beberapa saat aku setengah berlari di jalanan tanpa tujuan hingga aku tidak ingat sudah berapa jauh aku berlari.

“TOLONG—”

Menggaung di antara jalanan di bawah sebuah overpass suara teriakan. Suaranya mendadak terpotong sebelum bisa menyampaikan apa yang ingin dikatakan. Namun aku mendengar suara itu adalah teriakan meminta bantuan. Aku ragu ada orang lain yang mendengarnya di tempat sepi seperti ini.

Suara teriakannya terlalu pendek, tidak cukup untuk bisa memastikan dari mana asalnya. Namun aku merasa kalau suara itu datang dari depanku. Dari sana aku mulai berlari di bawah overpass.

Hal pertama yang kupikirkan setelah mendengar teriakan tadi adalah Alisa. Gaungannya beradu dengan tempat ini, membuatku sulit memastikan apa suara itu suaranya atau bukan. Aku penasaran kenapa sosok bayangan itu memanduku ke sini. Atau aku yang memandu diriku ke sini? Apapun alasannya, sekarang bukan saatnya memikirkan itu. Mungkin ada seseorang dalam bahaya.

Tempat ini gelap, satu-satunya sumber cahaya di sekitar ini adalah dari tiang lampu di pinggir jalan dan bangunan di sekitarnya, terkadang ditambah cahaya dari lampu depan kendaraan yang lewat. Namun cahaya-cahaya itu bahkan nyaris tidak sampai ke sini.

Berlari di sini juga sulit. Aku sudah menginjak genangan-genangan air di sekitar sini. Kakiku juga menabrak sesuatu tiap beberapa langkah. Seakan itu belum cukup sulit, aku harus berlari dengan sakit kepala yang cukup menggigit.

“Tolong!”

Beberapa saat kemudian, aku mendengar teriakan lain. Suaranya tidak sekeras sebelumnya karena suara itu dilepaskan dengan nafas yang terbatas, namun juga mungkin karena pemilik suara itu mendengar kedatanganku.

Ada dua sosok yang diselimuti bayangan overpass ini, satu mengejar yang lain. Sosok pertama adalah sosok wanita. Dari penampilannya aku yakin kalau dia adalah seorang pegawai. Sosok lainnya adalah seorang pria yang sangat pendek, namun tidak cukup pendek untuk disebut kerdil.

Aku hanya bisa mengenali mereka dari silhouettenya, sulit untuk memperhatikan detail di lingkungan segelap ini. Meski begitu, aku bisa melihat kenapa sosok wanita itu ketakutan dengan sosok satunya; pria itu menggenggam sebilah pisau.

Wanita itu terpojok dan tidak bisa bergerak, tiba-tiba pria itu mulai menerjang.

Berbahaya memang, apalagi dalam keadaanku sekarang, namun bukannya melarikan diri, aku berlari ke arah pria itu. Sebelum dia bisa menyerang sang wanita, aku menabrakkan diri ke arahnya dan menangkap pergelangan tangan kanannya dengan tangan kiriku, mencegahnya untuk maju.

Pria bertopi itu bergerak cepat. Sebelum aku bisa menggunakan tangan kananku untuk membantu tangan kiriku, dia sudah menangkap tangan kananku. Sekarang kami terjebak mencengkram tangan satu sama lain. Aku akui, untuk pria seukurannya, dia lumayan kuat.

Aku harus membebaskan diri. Seandainya dia lebih tinggi, aku bisa menanduk wajahnya.

[Ugh!]

Sementara aku masih memikirkan cara membebaskan diri, dia menendang pinggang kiriku dengan lutut kananya. Tendangannya keras, cukup untuk membuat tangan kiriku mati rasa beberapa detik. Merasakan cengkramanku melemah, aku melepaskan tangan kiriku dari tangan kannya dan melompat mundur, menjauh dari jarak serangannya.

Saat aku berbalik, aku menemukan sang wanita sudah meninggalkan tempat ini. Baguslah, sekarang aku bisa berkonsentrasi pada pria ini.

[Apa—]

Aku terlalu lama memperhatikan belakangku dan pria itu tidak menyia-nyiakan kesempatannya. Saat aku mengembalikan pandanganku padanya, dia sudah mulai menerjang.

Saat dia hanya dua langkah dariku, dia melompat dan melepaskan tendangan berputar ke arah telinga kiriku. Gerakannya benar-benar cepat dan mengecoh, aku nyaris gagal membaca gerakannya dan gagal menangkis. Namun refleksku bereaksi dan aku berhasil mengangkat tangan kiriku untuk melindungi bagian kiri kepalaku.

Serangannya sempat membuatku terdorong ke kanan, namun belum cukup untuk menghentikanku. Melihat ada kesempatan, aku melepaskan serangan sebelum dia bisa mendaratkan kakinya.

Aku melontarkan diriku ke arahnya dengan tangan kananku terkepal di belakang telinga kananku, membangun momentum untuk seranganku berikutnya. Saat kakinya mendarat, seharusnya ada jeda untuk menyeimbangkan diri. Itu adalah kesempatan sempurna untuk menyerang. Meski gelap, aku bisa mendengar suara kakinya menyentuh tanah. Itulah saatnya aku melepaskan serangan ini.

Aku luncurkan tinjuku tepat ke wajahnya, namun mengejutkannya, dia berhasil mengelak.

Saat dia mendarat, dia menekuk kedua kakinya, menjatuhkan seluruh tubuhnya. Pukulanku terbang melewati kepalanya. Aku menyadari tangannya mulai berputar, menyiapkan serangan lain.

Dia meluncurkan pisaunya ke arah perutku, namun aku berhasil mengelak dengan melangkah ke kanan. Saat aku mencapai sisi kirinya, aku mendorong tangan kanannya yang sedang menikam udara, membuatnya kehilangan pegangan pada pisaunya.

Pisaunya terlempar jatuh, sulit memastikan ke mana jatuhnya di tempat gelap ini. Namun dari suara yang dibuatnya saat pisau itu menyentuh tanah, seharusnya tidak terlalu jauh.

Perhatianku terlalu terpaku pada tempat di mana pisau itu jatuh sampai aku tidak menyadari kalau dia sedang menempatkan tangan kanannya di bawah wajahku. Dia melepaskan sebuah uppercut yang tidak bisa kuhindari. Tinjunya menghantam sisi kiri daguku, membuatku terdorong mundur hingga aku jatuh berlutut.

Meski saat ini aku terbuka untuk diserang, dia tidak melanjutkan serangannya. Dia malah gelap-gelapan mencari pisaunya yang jatuh.

Sementara itu, aku mulai merasakan sakit tajam dalam kepalaku lagi. Sakit kepala ini membuatku sulit berdiri, juga membuatku kesulitan meredakan sakit dari serangannya tadi. Aku lalu menyadari kalau hidungku mulai berdarah lagi.

Dia masih mencari pisaunya dan aku tahu kalau aku sedang tidak sesuai untuk bertarung. Aku mengambil kesempatan ini untuk berbalik dan kabur. Sakit kepalaku membatasi staminaku, aku tidak bisa berlari dalam kecepatan penuh karena tiap beberapa langkah aku merasa seperti kehilangan keseimbangan.

Aku belum lari jauh saat aku menyadari suara langkah kaki yang menggaung di bawah overpass, suara itu datang dari belakangku.

Saat aku berbalik, aku menemukan pria pendek itu sedang berlari ke arahku, dengan pisaunya di tangan kanannya. Dibandingkan dengan kecepatanku, dia berlari lebih cepat. Tidak akan butuh lama sampai dia mengejarku.

Aku sudah hampir sampai di ujung bayangan overpass. Namun sebelum aku bisa keluar, aku harus berbalik karena aku merasakan dia sudah nyaris mengejarku. Aku berbalik tepat waktu. Begitu aku berbalik, aku menemukannya sedang melompat ke arahku dengan tangannya mengayunkan pisaunya ke arah pundak kiriku; dia mengincar leherku.

Dengan cukup waktu untuk bereaksi, aku berhasil menangkap pergelangan tangannya yang menggenggam pisau dan menghalaunya dengan momentum gerakannya sendiri. Saat sedang mendorongnya ke kanan, aku menempatkan kaki kananku di depan kakinya. Dia tersandung, namun tidak jatuh.

Setelah menyeimbangkan diri, dia berbalik dan menerjang ke arahku. Sakit kepalaku dan kemampuannya untuk menyerang balik membuatku kewalahan. Tidak cukup waktu untuk bereaksi, aku menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku. Aku kira dia akan menyerang tubuh bagian atasku, namun dia malah menyeruduk perutku dengan pundaknya.

Setelah menyedurukku, dia terus mendorong hingga punggungku menabrak sebuah dinding. Setelah mengunci gerakanku dan sebelum aku bisa bereaksi, dia menekan leherku dengan lengan kirinya. Ini gawat, dia bisa menghabisiku di posisi ini.

Aku nyaris akan menangkis ketika dia megangkat pisau di tangan kanannya, namun dari belakangnya, tiba-tiba sebuah truk lewat di jalanan di kananku. Lampu depannya membutakan mataku untuk satu detik, membuatku gagal menahan sakit di kepalaku. Sudah tidak ada harapan untuk keadaanku ini.

Seharusnya ini jadi kesempatan emas jika dia ingin menghabisiku, namun dia tidak pernah melancarkan serangannya. Bahkan setelah truk itu lewat dan lampunya tidak membutakanku lagi, pisau di tangan kanannya masih hanya melayang di udara.

Sesuatu membuatnya ragu. Entah apa, namun sekarang adalah kesempatanku. Aku ayunkan tinju kananku dan memukulnya di pipi kirinya. Dia terdorong mundur ke kiri dan kunciannya padaku terangkat. Sebelum dia bisa bangkit, aku mengambil kesempatan untuk kabur.

“Tunggu! Ferno!!”

Aku melarikan diri sekuat tenaga dari bayangan overpass ke jalanan. Tanpa memeriksa apakah ada kendaraan lewat atau tidak, aku menyeberang jalanannya. Namun ketika sebuah suara memanggil namaku dari belakang, aku harus berhenti di tengah jalan dan berbalik.

[Suara itu... kenapa bisa?]

Saat aku berbalik, aku menemukan Alisa. Dia menunjukkan dirinya dengan melangkah keluar dari bayangan seraya melepaskan topi dan kain yang dia gunakan untuk menutup wajahnya. Kami bertukar pandangan heran dan kewalahan. Kami berdua seakan tidak saling mengerti apa yang sedang kami lakukan di sini.

“Sedang apa kau di sini—”

“Ferno! Awas!”

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, dia menunjuk ke arah kiriku. Aku menengok ke kiri dan menemukan sebuah truk sedang menerjang ke arahku. Aku sudah terlalu terkejut sampai tidak menyadari kemunculannya, saat aku sadar, sudah terlambat untuk bergerak.

Begitu cahaya dari lampu depannya menelanku, aku bisa merasakan sebuah hentakan melemparku ke udara dan hentakan lain saat aku jatuh ke tanah. Lucu, rasanya tidak sesakit yang kubayangkan.

Hal berikutnya yang kulihat adalah langit malam. Aku tidak bisa merasakan apa-apa, namun aku masih bisa menengok ke sekitar. Aku menemukan diriku tergeletak di atas trotoar. Sesuatu yang berat menindihku ke tanah. Aku sudah mengharapkan yang tidak-tidak saat mencoba memeriksa keadaan badanku, namun aku justru menemukan Alisa di atas badanku.

[Tunggu dulu— apa dia tadi...]

Kesadaranku mulai menipis, aku kesulitan memikirkan apa yang baru saja terjadi. Saat aku kehilangan kekuatanku, kepalaku terkulai jatuh, menyajikan pemandangan langit malam yang kulihat tadi.

Sebelum aku kehilangan kesadaran, Alisa memasuki jarak pandangku, meneriakkan sesuatu di depan wajahku. Dia mungkin sedang menyebut namaku, namun pendengaranku sudah padam, aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya. Namun sebelum aku menutup mataku, aku bisa mendengar suaranya bergema dalam kepalaku.

Kau menemukanku.

Navigasi cerita
Tampilan
Bentuk teks: