Navigasi cerita
ALLBLACK
κ - Janji (Bagian Kedua)
Dipajang pada 18 March 2016 07:49:21 oleh fsc

Agustus 2009, Alisa sudah menanti di Praha. Dari catatan perjalanannya, semestinya Damone kembali ke Praha minggu ini. Alisa mengambil inisiatif jauh haru sebelum minggu yang diduga adalah minggu kedatangannya tiba dengan melakukan referensi silang di catatan properti umum dengan nama Damone. Entah tidak beruntung atau informasi yang kurang, ia tidak menemukan apa-apa dengan cara ini.

Setelah mencoba beberapa minggu, dia lalu mengganti cara; dengan mencegat Damone di bandar udara. Di minggu yang ditentukan, ia berdandan formal seperti sekretais dan berdiri sepanjang hari di gerbang kedatangan memegang tanda chauffeur bertuliskan “D. Snyder.” Rencananya adalah menunggu sampai seseorang dengan nama seperti itu menghampirinya.

Di hari keempat percobaan, akhirnya seorang pria paruh baya mendekatinya. Ia mengenakan setelan dengan kemeja violet mengkilap sementara blazernya dibawa di atas pundaknya. Dia juga membawa sebuah koper kulit bersamanya.

“Damone Snyder?” tanya sang pria kepada Alisa.

“Maaf?” balas Alisa dengan nada sopan.

“D. Snyder? Apa kau menunggu Damone Snyder?”

“Oh, bukan, Pak. Saya menunggu Daniel Snyder.”

“Saya salah orang kalau begitu.”

Pria itu meminta maaf dan lanjut berjalan melewati gerbang kedatangan. Alisa—yang tahu kalau pria yang menghampirinya tadi adalah targetnya—segera meninggalkan posnya dan mengikuti Damone sampai ke luar.

Di sana, Damone melihat ke jam tangannya dan menunggu di pintu masuk airport untuk beberapa saat sampai dia menyerah menunggu jemputannya dan memanggil taksi. Melihat itu, Alisa memanggil taksi lain dan memintanya mengikuti taksi yang dinaiki Damone.

Sekitar lebih dari setengah jam, Alisa mengikuti Damone dari jarak aman. Ia mengikutinya sampai mereka meninggalkan area perkotaan, hingga ke pinggiran kota di tepi laut, mereka bahkan melewati sebuah desa yang ditinggalkan di mana bangunannya tampak gosong terbakar dan sudah hancur. Begitu mereka sampai di suatu tempat di kaki sebuah bukit, sang supir taksi berhenti, tidak ingin maju lebih jauh lagi. Dia bilang karena taksi yang mereka ikuti sudah masuk ke tanah pribadi.

Sampai sanalah Alisa bisa mengikuti. Ia lalu membayar sang supir dan mulai mengikuti jalan yang diambil taksi yang ditumpangi Damone dengan berjalan kaki. Di tengah jalan, Alisa harus sembunyi dari taksi yang ditumpangi Damone dari arah berlawanan yang baru saja berbalik dari tujuannya.

Jalanannya hanya memiliki satu arah yang berakhir di sebuah gerbang, di baliknya ada sebuah villa. Villa yang terbilang besar, namun tidak terlalu besar juga. Dari jalan setapak penuh pepohonan di sekitarnya, Alisa mengawasi sekitar untuk beberapa saat.

Tentu saja,” pikirnya, “properti seperti ini tidak akan ditampilkan di registrasi publik, belum lagi kalau kepemilikannya diwakilkan ke pihak ketiga.

Untuk rumah seukuran itu, dia terkejut melihat keamanan yang minimal. Meski tidak banyak, namun ada cukup keamanan dari yang bisa Alisa taklukkan. Dalam situasi seperti ini, lebih baik untuk menangkapnya saat ia tidak sedang di sini.

Alisa lalu memanjat bukit terdekat, di sana ia mengeluarkan sebuah teropong dan memindai area sekitarnya. Saat berpindah dari satu tempat pengintaian ke tempat pengintaian lain, Alisa menemukan kalau Damone lebih sering menghabiskan waktu di kantornya yang menghadap ke arah laut. Dia bahkan melihat Damone mengeluarkan dokumen dari kopernya dan memasukkannya ke brankas berkunci kartu dan bernomor kombinasi di sana.

Tempat ini mungkin rumahnya, namun dia tidak ke sini untuk tinggal. Dia hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat dan menyimpan dokumennya. Dia tidak akan tinggal lama, Alisa harus menyerang sesegera mungkin.

Namun tidak bisa hari ini. Karena ia meninggalkan peralatannya di tempat lain. Jadi sore itu, dia hanya mengawasi dan mengingat tempat yang bisa jadi medan pertempurannya nanti sebelum kembali ke kota.

Fajar hari berikutnya, Alisa kembali ke kediaman Damone. Kali ini dia membawa kendaraan sendiri; sebuah jeep off-road dari liaison Elric di Praha. Dia memarkirkan jeepnya di tengah kaki bukit, tersembunyi dari jalan utama, dan berjalan kaki menuju tempat tujuannya. Yang dia bawa bersamanya hanyalah tas panjang berisikan senapan jarak jauh—meski ia tidak berniat menggunakannya untuk tujuan lethal.

Setelah mencapai tempat yang baginya adalah tempat terbaik untuk mengintai villa, dia mengeluarkan senapannya dan menggunakan teropong canggihnya untuk memeriksa sekitar.

Keamanannya masih sama seperti sebelumnya. Namun meski demikian, mereka masih sama siaganya seperti sebelumnya. Karena sepertinya tidak mungkin untuk masuk untuk menangkap Damone apalagi menginterogasinya di sana, rencananya masih sama; menunggu Damone keluar dari kediamannya dan menangkapnya saat itu.

Dia menunggu sepanjang pagi sampai ia melihat aktifitas dari penghuni dalam villa yang bukan keamanan villa. Setidaknya sebelum matahari terbit, sesosok pria muncul di dalam kantor. Itu adalah Damone, penampilannya tidak jauh berbeda dari kemarin. Ia tampak memindahkan folder-folder file dari brankasnya ke dalam kopernya. Namun sebelum itu, Alisa menyesuaikan teropong senapannya lebih dekat, sedekat mungkin ke kunci keypadnya untuk mengingat nomor kombinasinya.

Setelah memasukkan file ke kopernya, Damone segera bergegas ke pintu depan; ke sebuah sedan yang terparkir di halaman depan. Melihat itu, Alisa dara kalau ia ingin menangkap Damone, sekaranglah saatnya.

Alisa bangkit dan memikul senapannya di punggungnya, segera berlari menuruni bukit ke arah mobil jeepnya. Dia melompat ke sebuah lereng dan berseluncur turun hingga sampai di kaki bukit sebelum kembali berlari. Sekali dua kali ia melihat ke belakang ke arah jalanan utama untuk melihat apakah mobil Damone sudah terlihat. Untungnya, ia tidak melihat Damone hingga ia sampai di mobilnya.

Ia melemparkan senapannya ke bangku belakang dan menyalakan mesin mobilnya. Ia memacu kecepatan sambil masih memasang rem tangan, membuat roda belakangnya berputar tanpa memberi dorongan.

Alisa melihat ke arah jalanan, ia menanti sampai Damone muncul. Bahkan saat ia sudah tampak, Alisa tidak segera melepaskan rem. Ia menunggu sampai saatnya tepat.

Sekarang!

Dia berteriak kepada dirinya sendiri, seraya melepaskan rem tangan sementara ban belakang yang bergurat menggaruk tanah kasar. Jeep yang dikendarainya melompat bagaikan katak, langsung menanduk sedan perak yang ditumpangi Damone seperti banteng.

*CRASH*

Dengan tenaga tubrukan yang cukup, jeep Alisa menabrak sisi sedan Damone. Damone yang tidak tahu-menahu tidak bisa bereaksi. Dia terkejut, sampai nyaris kehilangan kesadaran. Meski kepalanya terbentur dan berdarah, dia cukup tangguh dan cukup kuat untuk bisa sadar dalam waktu singkat untuk melihat penyerangnya.

Dari jendela mobilnya yang sudah retak, ia bisa melihat sosok pendek dengan setengah wajahnya ditopengi kain mendekat dengan sebuah pistol terarah padanya.

“Keluar!”

Mendengar itu, Damone bereaksi. Dia melepaskan sabuk pengamannya dan segera bergerak ke pintu sisi penumpang. Namun terlambat, sang sosok bertopeng sudah mencegatnya di sana.

Alisa membuka pintu mobil dan menarik Damone keluar. Ia lalu mengeluarkan zip-tie plastik dari saku jaketnya sambil menekan pria yang masih kebingungan itu ke mobilnya sebelum mengikat kedua tangannya di punggungnya. Alisa lalu mengambil koper kulit milik Damone sebelum mengantarkan pria bersetelan ini ke jeepnya.

“Masuk!” perintah Alisa setelah membuka pintu depan sisi penumpang jeep yang mana segera dituruti Damone.

“Agh!” Damone mengerang saat ia menyandarkan punggungnya. “Sepertinya pundakku terdislokasi.”

“Diam!” balas Alisa seraya memasuki pintu supir jeepnya, ia lalu memasangkan sabuk pengaman Damone dan sabuk pengaman kursinya setelah menaruh koper Damone di kursi belakang.

“Si— Siapa kau? Apa maumu?” tanyanya, “kalau kau ingin uang, aku punya cukup. Aku bisa membayarmu. Antarkan saja aku ke——”

“Aku bilang diam. Aku yang memberi pertanyaan di sini.”

Alisa lalu memacu kecepatan mundur untuk membuat ruang agar bisa berbelok dari mobil Damone yang sudah rusak dan mengoper gigi sebelum memacu kecepatan maju, meninggalkan tempat di mana ia menculik Damone.

“Ke— Ke mana kau membawaku——”

“Beberapa bulan lalu,” potong Alisa, mencegah sang penumpang menyelesaikan kalimat pertanyaannya, “Graille Einhorn mengambil anak-anak dari sebuah institusi panti asuhan untuk diikutsertakan di sebuah project. Project apa itu?”

“Doktor Einhorn—— Mana aku tahu.”

“Tidak mungkin! Aku menerima informasi kalau kau tahu sesuatu!”

“Aku mungkin fisikawan, tapi aku bekerja di departemen human resource dalam Foundation. Aku tidak tahu-menahu para atasan atau para ilmuwan terlibat apa!”

Human resource? Tidak mungkin...”

“Aku tidak berguna untukmu. Biarkan aku pergi dan aku akan melupakan semua ini.”

“Tidak. Kau punya informasi. Kalau kau bekerja di human resource, kau pasti tahu nama-nama orang yang tahu dan apa yang sedang mereka kerjakan. Beritahu aku sesuatu!”

“Tentang apa? Sumpah aku tidak tahu apa-apa. Setiap project sains di Foundation dinamai dengan nama kode yang tidak jelas; project FRIDAY, project CEPHEUS, project AUBERGINE...”

“Apa kau pernah mendengar eksperimen yang menggunakan subyek manusia?”

“Hah? Kau gila, ya?”

“Apa kau pernah mendengarnya?”

“Pernah, tapi hanya rumor.”

“Apa yang kau tahu tentang itu?”

“Ti— Tidak banyak. Para ilmuwan yang lebih tahu. Tidak ada yang ingin membicarakannya atau di mana project itu dikembangkan.”

“Kalau begitu beritahukan nama orang yang tahu.”

“Aku tidak tahu!”

“Kau pasti tahu! Orang sekarat tidak mungkin bohong!”

“Orang sekarat? Siapa yang sudah memberikan namaku? Apa kau membunuhnya?!”

“Ya. Dan aku akan membunuhmu juga jika kau tidak segera bicara!”

“Tidak akan! Kalau pada akhirnya kau akan membunuhku, lebih baik kalau kita berdua mati!”

Demikian katanya. Damone menyatakan perlawanan. Apa yang baru saja diucapkannya mengalihkan perhatian Alisa, ia gagal menyadari kalau Damone sudah mengangkat kakinya dan melepaskan tendangan ke arah setir, membuat mobil yang mereka tumpangi jatuh ke luar jalan.

Mereka terperosok ke sebuah lereng di sisi bukit di mana tanahnya dipenuhi bebatuan. Alisa kesulitan mengendalikan kecepatan dan arah ke mana mobilnya melaju. Pada akhirnya bagian depan sisi penumpang jeep menabrak sebuah batu besar dan berhenti di sana.

Sabuk pengaman mencegah mereka menderita luka parah, namun keduanya cukup terguncang, terutama Alisa. Sementara dia masih setengah sadar, Damone memaksakan dirinya, memutar tubuhnya sehingga dia bisa menjangkau sabuk pengamannya dan melepaskannya. Begitu Alisa tersadarkan, dia menemukan Damone sudah melarikan diri.

Meski masih terguncang, Alisa melepaskan sabuk pengamannya dan mencoba membuka pintunya. Namun ia terpaksa berhenti karena jeepnya sedang seimbang di sisi depan kirinya; sedikit dorongan bisa membuat jeep ini kehilangan keseimbangan dan terguling ke bawah bukit. Menyadari ini, dia memilih untuk keluar lewat pintu penumpang.

Segera begitu dia keluar, dia mengeluarkan pistolnya dan mencoba membidik Damone, namun ia sudah terlalu jauh di bawah bukit; menuju sisa gereja di tepi desa yang sudah hancur.

Alisa berlari ke dasar bukit, sambil berhati-hati supaya tidak terpeleset atau terjatuh. Segera begitu ia sampai di kaki bukit, ia berhenti berlari dan mulai berjalan mengendap-endap. Dia menyesuaikan nafas dan berjalan menyusuri dinding yang gosong terbakar. Dari tampaknya, desa ini ditinggalkan karena kebakaran.

Alisa masuk ke dalam gereja lewat sebuah celah di dinding bata yang terbuka sampai ke lantai dua. Bahkan di dalam, semua perabotannya—seperti bangku dan meja—sudah ditinggalkan. Tidak jauh dari jalan masuk yang ia ambil, Alisa menemukan zip-tie yang digunakan untuk mengikat tangan Damone sudah dibuang di lantai. Sepertinya ia merobeknya menggunakan sudut tajam tiang kayu atau sejenisnya.

Dia di sini,” pikir Alisa begitu menemukan jejak segar di ubin rusak yang berdebu.

Alisa menurunkan pistolnya, melirik ke sekitar dan memasang telinga. Entah Damone sudah melarikan diri atau memang ia sembunyi dengan baik. Setidaknya sampai Alisa mendengar suara lantai kayu berdecit dari lantai atas.

Dia di atas.

Alisa melihat ke sekitar dan ia menemukan satu set tangga menuju lantai dua di bagian belakang gereja. Ia mengendap melewati tumpukan puing-puing dan tiang kayu yang sudah patah lalu menanjaki tangga itu dengan tenang. Di lantai dua, ia masih tidak menemukan Damone, tapi ia yakin kalau dia ada di sini. Karena itu, ia mencari dengan pistol terangkat.

“AAAAH!!”

Begitu sampai di tengah ruangan, tiba-tiba pintu sebuah lemari terbuka. Satu sosok melesat keluar memegang sebilah tongkat. Itu dia; Damone Snyder.

Meski terkejut, Alisa mencoba bereaksi. Ia berbalik dan mengarahkan pistolnya ke arahnya, namun terlambat. Damone mengayunkan tongkatnya dan memukul tangan Alisa. Pistol yang digenggamnya terlempar ke sisi lain ruangan, dan terlalu gelap untuk bisa melihat di mana mendaratnya.

Damone terus mengayunkan tongkatnya dengan liar ke arah Alisa. Terkadang bisa dihindari, terkadang ia menerima pukulan meski bisa ditangkisnya dengan punggung lengannya. Bagaimanapun, dengan tiap pukulan, Alisa harus mengambil langkah mundur. Beberapa pukulan kemudian, ia pun tersudut ke dinding.

Tidak bisa lagi mundur, Alisa kehilangan kemampuan menghindar. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menangkis. Namun dengan pukulan beruntun Damone, rasanya semakin sulit tiap pukulannya. Tidak butuh lama sampai Alisa menyerah.

Melihat Alisa sudah tidak berdaya, Damone berhenti memukul dan menggunakan punggung lengannya untuk mencekik Alisa ke dinding. Karen perbedaan tinggi mereka, begitu Damone mengangkat tangannya agak tinggi, Alisa kehilangan pijakan dan bergantung di cekikan Damone.

“Sudah menyerah, huh?!” tantang Damone. “Aku tidak akan mengkhianati Foundation! Kau tidak tahu siapa lawanmu!”

Alisa mencoba melawan namun percuma. Kekuatan fisik Damone terlalu besar untuk ditanganinya, belum lagi dalam posisi seperti ini.

Namun lagi, keberuntungan bagai bersama Alisa. Dari celah di dinding yang menghadap ke bukit tempat mereka datang, Alisa melihat jeep miliknya sudah mulai kehilangan keseimbangan dari batu yang ditabraknya. Ia tidak memasang rem tangan, jadi segera begitu jeep lepas dari batu, jeep itu berpacu menuruti bukit dengan kecepatan yang terus meningkat ke arah gereja ini.

Saat jeep itu menabrak dinding gereja yang sudah rapuh akibat terbakar, tabrakannya tentu akan katastropik.

“Jawab aku! Siapa yang mengirimmu?!”

Situasi sudah berbalik, sang interrogator sudah menjadi yang diinterrogasi. Meski demikian, Damone tidak memiliki keuntungan. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki sebelum kehabisan nafas, Alisa mengunci tangan Damone yang mencekiknya dengan satu tangan dan menggunakan tangan satunya untuk berpegangan pada kayu belandar melintang di atas kepalanya. Dan saat itu juga, jeepnya menabrak dinding gereja.

“Apa itu?”

Meski gagal menyadarinya, Damone mendengar suara tabrakan yang dibuat mobil. Namun meski demikian, sudah terlambat. Segera, dinding-dinding mulai berguncang dan runtuh. Lantai kedua juga ikut runtuh, Damone mencoba kabur namun tidak bisa karena Alisa mengunci tangannya dengan tangan Damone. Damone berteriak meminta dilepaskan lagi dan lagi, bahkan mencoba memukuli Alisa. Namun tidak sampai lantai mulai roboh barulah Alisa melepaskannya.

Damone terjatuh, bersama dengan segala yang ada di lantai dua sementara Alisa berpegangan di belandar melintang. Jatuh dari ketinggian ini tidak akan membunuhnya, namun terkubur di atap yang runtuh bisa saja membunuhnya. Bahkan belandar tempat Alisa bergelantungan juga mulai roboh. Untungnya, belandar itu roboh secara diagonal dari ujung satunya. Alisa melungsur berpegangan pada belandar ke sisi lain gereja, namun tidak sampai ke ujung, ia melompat di tengah jalan. Dia berguling saat kakinya menyentuh lantai dan melompat ke bawah meja terdekat, di mana ia berlindung dari gereja yang sedang runtuh.

Gereja itu hancur, bata demi bata, atap demi atap, tiang demi tiang. Alisa hanya bisa mendengar suaranya karena ia harus menutup mata untuk melindunginya dari debu yang bertebaran.

Butuh lebih dari setengah menit sampai reruntuhannya tenang. Tanpa menunggu debu menghilang, Alisa mengenakan topengnya dan bangkit dari tempat perlindungannya. Yang tersisa dari gereja ini hanyalah beberapa sisi dinding yang paling tidak terbakar. Terutama bagian depan gereja, di mana ada mosaik kaca asap berwarna yang disusun bagaikan cahaya menembus langit. Yang mana—ironisnya—adalah tempat yang ditembus cahaya matahari pagi yang menyinari bagian tengah gereja.

Di reruntuhan lantai dua, Alisa menemukan Damone mendarat di tumpukan puing dan tiang kayu yang sudah rusak. Tubuhnya tertusuk salah satu tiang yang sudah rusak, bahkan kalau itu tidak membunuhnya, bilah atap yang menimpa kepalanya tentu sudah menghabisinya.

Butuh sesaat sampai Alisa tenang. Segera begitu ia tenang, ia ingat pada koper milik Damone. Ia mendekati jeepnya dan masuk ke dalam, mengambil koper kulit milik Damone dan menembaknya hingga terbuka. Di dalam ia menemukan data; folder-folder berisikan nama dan biodata pegawai, dan pada project apa mereka bekerja. Damone tidak bercanda, semua project diberikan kode nama yang tidak begitu jelas; project ERLENMEYER, project TRIANGLE, project OUBLIETTE, project CHARMEINE, project MEMENTO...

Setelah memeriksa beberapa data yang ada, Alisa merasa apa yang ia cari tidak ada di sini. Ia tahu Damone menyimpan lebih banyak data di brankas di rumahnya. Ia tahu nomor kombinasi untuk membukanya, namun ia juga butuh kartu kunci. Karena tidak ada di dalam koper, ia pun mencoba memeriksa tubuh Damone.

Alisa memeriksa saku-saku Damone, dari celana hingga blazer. Ia menemukan kartu kunci yang dicarinya di saku dalam blazer. Dengan ini, ia bisa mendapatkan apa yang ia cari.

Malamnya hari itu, setelah menyembunyikan jeepnya di tengah hutan, Alisa kembali ke kediaman Damone. Dengan perhatian yang terfokus, ia berhasil menyusup ke dalam dengan mudah. Ia lalu membuka brankas, di dalam ia menemukan lebih banyak data. Setidaknya enam folder besar berisi sekitar empat puluh nama.

Setelah mendapatkan ini, Alisa melarikan diri. Tidak sampai kembali ke mobilnya ia mulai memeriksa semua file-file itu sambil menghubungi seseorang via telepon satelit. Beberapa kali nada sambung berbunyi, menunggu tanggapan dari orang yang ia hubungi.

“Halo?” sapa suara yang akrab dari ujung satunya.

“Elric? Ini aku,” balas Alisa.

Lama tidak bersua. Apa kabar? Jangan harap aku akan menjemputmu kali ini.

“Maaf kalau kau kecewa, tapi kali ini tidak.”

Huh,” Elric tertawa pendek, “jadi, ada kabar apa?

“Misiku di Praha selesai untuk saat ini.”

Baiklah, aku akan siapkan tempat untukmu.

“Soal itu...”

Hmm?

“Aku tahu ke mana tujuanku selanjutnya. Bisa beritahukan Claudia aku tidak akan segera pulang?”

Berapa lama?

“Entahlah, mungkin beberapa bulan.”

Oke. Ke mana tujuanmu?

“Mungkin setelah ini aku akan ke Amerika Selatan.”

Mungkin?

“Petunjuknya luas, ceritanya panjang.”

Baiklah. Aku punya liaison di sana, dia mungkin bisa membantumu.

“Bagus.”

Apa itu saja? Aku harus membatasi konsumsi kacang sejak kau pergi, tahu?

“Yeah. Sampai nanti, Elric.”

Enam bulan erikutnya, Alisa menyelidiki isi file-file yang ia dapatkan. Setidaknya ada selusin project yang masih dalam status pengembangan aktif di tiga benua. Ia berencana memeriksa semuanya. Pilih satu nama dari tiap project, lalu interrogasi nama itu dengan Ferno. Jika mereka tahu sesuatu, berarti itulah project di mana Alisa harus memfokuskan perhatian.

Project CEPHEUS... bukan.

Project PRIMER... bukan.

Project ERLENMEYER... bukan.

Project FIREFLY... bukan.

Project ALLBLACK...

Februari 2010, Kanada. Setelah terbang setengah keliling dunia dan memutar balik, Alisa kembali ke bagian paling utara di Dunia Baru. Menurut file yang ia miliki, di sana tinggal seorang ilmuwan bernama Matteo Novaq. Novaq bekerja untuk project ALLBLACk, namun sedang disiagakan saat ini. Melacaknya tidak sulit, Novaq sedang tinggal di sebuah tanah pribadi di Alberta.

Selama beberapa hari, Alisa mengamatinya. Ia hidup dengan tenang, mengingatkannya pada Elric, rasanya hampir tidak enak mengganggu hidupnya, namun Alisa harus melaksanakan misinya.

Di akhir minggu, ia menyelinap masuk ketika Novaq pergi ke luar. Ia menunggu sampai Novaq kembali, seperti saat Errmin. Dan setelah menunggu beberapa saat, Novaq kembali.

Ia kembali dengan sekantung belanjaan yang hampir tumpah saat ia masuk ke rumahnya dan menemukan sesosok mungil bertopeng. Namun Alisa memperingatkannya untuk tenang dan memintanya duduk di sofa di seberangnya.

Novaq patuh meski masih tampak waspada, sementara Alisa menatapnya. Satu-satunya suara yang bisa terdengar adalah suara kayu yang retak karena panas di perapian.

“Apa namamu Matteo Novaq?” tanya Alisa, memecah keheningan di antara mereka.

“Y— Ya, itu namaku.”

“Kau bekerja untuk Graille Einhorn, benar?”

“Y— Ya.”

“Aku butuh segala yang kau ketahui tentang project ALLBLACK.”

“Project AL— Dari mana kau dengar— Tidak. Aku tidak bisa bilang apa-apa.”

“Berarti kau tahu sesuatu, bukan?”

“Sial,” sumpahnya sebelum menggigit bibir dan lanjut bicara, “aku bukan bagian dari project itu lagi. Aku didekomisikan. Kau pikir kenapa aku tinggal di tempat terpencil seperti ini?”

“Beritahukan saja apa yang kau ketahui.”

“...”

“Sekarang!” perintah Alisa sambil mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkannya ke arah Novaq.

“...”

“Apa benar project ALLBLACK melakukan eksperimen pada subjek manusia hidup?”

“...ya.”

“Apa kau tahu subjek dengan nama ‘Ferno’?”

“Tidak. Aku bekerja dengan subjek satu dan dua, di antara mereka tidak ada yang bernama itu.”

“Berapa banyak subjek yang kau tahu di project ALLBLACK?”

“Terakhir kudengar, ada empat subjek.”

“Kapan kau mendengarnya?”

“Sekitar setahun lalu.”

Setahun lalu, berarti sebelum Ferno menghilang.

“Atas alasan apa kau didekomisikan?”

“Seorang ilmuwan senior di timku membuat kesalahan perhitungan fatal, akibatnya dua subjek tewas. Aku dan beberapa ilmuwan dinon-aktifkan. Untuk saat ini, aku menunggu pekerjaan baru.”

“Baiklah,” ujar Alisa sambil mengganti posisi duduk, “kalau begitu pertanyaan terakhir; beritahu aku nama seseorang yang bisa memberiku informasi tambahan.”

Ekspresi Novaq berubah, dia tampak lebih tegang. Ia tahu kalau informasi apapun yang ia berikan bisa menghasilkan masalah antara dirinya dan orang yang kepada siapa ia bekerja. Dan menurut pengalaman Alisa, di sinilah biasanya ia melawan.

“Aku akan memberitahukanmu,” lanjut Novaq, “tapi dengan satu syarat.”

“Yaitu?”

“Setelah ini, kau harus membunuhku.”

“...” Alisa terkejut, namun ia tidak mengekspresikannya. “Lucu. Kau orang pertama yang meminta hal seperti ini. Boleh aku tahu alasannya?”

“Aku punya kolega yang berpengalaman dalam espionase korporat. Ia bercerita kalau ia diminta membeberkan segala yang ia ketahui tentang project yang sedang ia kerjakan. Tapi menurutku kau berbeda. Tidak seperti dia, kau lebih banyak bertanya tentang subjeknya, bukan spesifikasi atau detail projectnya. Dari situ aku berpikir kalau kau sedang mencari seseorang.”

“Tidak salah,” komentar Alisa seraya menurunkan penutup wajahnya; menunjukkan wajahnya. Melihat itu, Novaq tampak sedikit terkejut; interrogatornya ternyata terlalu muda untuk berada di hadapannya. “Aku sama sekali tidak tertarik dengan project itu sendiri, yang aku inginkan hanya seseorang yang sudah direnggut dariku.”

“Perasaanku bercampur-aduk tentang project ALLBLACK,” Novaq menjangkau ke tas belanjaannya. Alisa secara reflex mengangkat senjatanya, namun Novaq meyakinkan Alisa kalau itu tidak perlu. Dari tas belanjaan, ia mengeluarkan sekaleng bir dan membukanya sebelum mulai meminumnya. “tapi aku sama sekali tidak bangga dengannya.”

Alisa bersandar ke sofa dan menyilangkan kakinya, membiarkan Novaq menikmati minumnya. “Jadi, tentang nama itu...?”

“Taruhan terbaikku adalah Arasaka Yuumi. Aku sudah lama tidak mendengar kabar tentangnya, tapi semestinya dia masih bekerja di project ALLBLACK.”

Arasaka Yuumi. Alisa tahu nama itu. Ia pernah melihatnya di antara file-file di mana di sana tercantum kalau dia sedang bekerja untuk project lain dan bahwa keberaannya tidak diketahui. Data miliknya agak tertinggal, wajar kalau informasi yang ia dapatkan berbeda.

“Baiklah. Terima kasih.”

“Bagaimana dengan janjimu?”

“Benar. Di depan atau di belakang?”

“Terserah,” jawab Novaq seraya menaruh kaleng bir di atas meja dan menutup matanya, “yang penting jangan buat aku mati pela——”

*BLAM*

Tanpa peringatan, saat ia melihat Novaq menutup matanya, Alisa menembaknya di kepala. Kepala Novaq jatuh ke atas meja, membuat tas belanjaannya jatuh ke lantai. Untuk seseorang yang menyesali perbuatannya, hanya inilah yang bisa Alisa berikan; membunuhnya saat ia tidak berharap untuk dibunuh.

Lagi, ia sudah membunuh seseorang. Elric pernah bilang akan lebih ringan kalau ia terus membunuh. Namun hingga saat ini, Alisa tidak merasakan kalau itu benar; membunuh tidak pernah terasa ringan baginya.

Setelah ia tenang, Alisa mengeluarkan telepon satelitnya. Lagi, ia menghubungi Elric.

“Halo?”

...” hanya ada kesunyian untuk beberapa detik sebelum Elric menjawab, “apa kau tahu berapa leganya aku mendengar suaramu? Setengah tahun? Claudia kira kau sudah tewas, aku hampir menganggapmu mati, tahu?

“Maaf.”

Tiga kata, Alisa; ‘aku masih hidup,’ saja sudah cukup.

“Aku tahu, hanya saja rasanya tidak enak menghubungimu tanpa ada hasil.”

Bukan hanya ‘hasil’ yang Claudia inginkan, mengerti?” Elric terdengar menghela nafas lega di telepon, “jadi, apa yang kau dapatkan?

“Sebuah nama; Arasaka Yuumi. Aku tidak tahu ke mana tujuanku berikutnya, jadi aku akan pulang dulu.”

Baiklah, aku akan meneruskan pesanmu pada Claudia. Sampai jumpa segera. Dan ngomong-ngomong, di mana kau sekarang?

“Aku di Kanada.”

Whoa, dari mana saja kau?

“Ceritanya panjang.”

Apa katamu saja, lah. Pokoknya ceritakan padaku nanti, mengerti?

“Tentu. Terima kasih.”

Sampai jumpa kalau begitu.

“Sama-sama.”

Panggilan terputus. Alisa pun bangkit dan meninggalkan kediaman Novaq.

Keesokan harinya, Alisa kembali ke Jerman. Ia segera menuju kediaman Elric dan beristirahat. Beberapa hari berikutnya, Claudia berkunjung dan sangat bahagia, hingga hampir menangis bisa melihat Alisa lagi. Hari itu mereka bertiga duduk di satu meja, di mana Alisa menceritakan pencariannya selama enam bulan terakhir. Dan di akhir hari itu, Claudia berpisah, berjanji akan mencari-tahu nama yang didapatkan Alisa.

Tidak sampai tiga bulan kemudian Claudia kembali membawa informasi mengenai keberadaan Arasaka Yuumi. Yuumi adalah seorang ilmuwan, bekerja di project ALLBLACK sebelum didekomisikan ke divisi logistik. Saat ini berada di Eropa Timur; suatu tempat di Istanbul. Itu cukup untuk memulai. Lusanya, Alisa berangkat ke Istanbul.

Seminggu berikutnya ia habiskan dengan melakukan langkah pertama untuk melacak keberadaan seseorang; melakukan referensi silang nama sasaran dengan catatan lokal. Dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya, kali ini relatif mudah. Dalam lima hari, Alisa berhasil menemukan tempat tinggalnya di area residential di kota atas.

Juga, dibandingkan dengan target sebelumnya, Yuumi tidak hanya tinggal di sana, ia juga bekerja. Alisa tidak bisa mendobrak masuk dan menginterogasinya. Kali ini Alisa harus mengawasi sampai ia yakin ia bisa menyerang.

Selama tiga minggu, ia mengawasi Yuumi bekerja. Jadwalnya seperti mekanisme jam; ia bekerja penuh tiap hari. Paling banyak, ia hanya akan tidur tiga sampai empat jam sehari. Selama tiga minggu itu, tidak ada hal khusus yang mengubah jadwalnya.

Sampai di hari itu...

25 Juni 2010. Saat sedang mengawasi Yuumi dari atap bangunan di seberangnya, sesosok pria menghubungi interkom apartment Yuumi, mengganggu rutinitasnya. Ia tampak akrab, namun Alisa tahu pria itu tidak mungkin orang yang dicarinya. Tapi perasaan ini terlalu kuat untuk diacuhkan, namun ia terus menolak. Ada hubungan antara mereka dan Alisa tahu itu. Semakin ia melihatnya, semakin ia yakin.

“...Itu kau.”

“Dan itulah saat ketika aku yakin kalau pria itu adalah kau. Orang yang sudah kucari-car selama setahun lebih.”

“Jadi begitu ceritanya,” komentarku mendengar Alisa mengakhiri ceritanya.

Alisa berbalik, dari menghadap peta di dinding ke arahku. Ia tersenyum pudar namun masih bisa tampak kalem. Aku tidak percaya dia sudah berbicara selama nyaris satu jam.

“Itu saja? Aku baru saja menceritakan kisah perubahan terbesar dalam hidupku dan komentarmu hanya itu?”

“Aku tidak tahu harus bilang apa,” balasku sambil mengangkat pundak, “mungkin aku harus minta maaf, karena sudah membuatmu mengalami semua ini.”

“Bukan salahmu.”

“Dan juga, uhm... Terima kasih.”

“Tidak masalah. Kau juga pasti akan melakukan hal yang sama untukku.”

“Aku tidak yakin.”

Alisa tertawa ringan dan terdiam untuk sesaat.

“Jadi,” lanjutnya, “apa kau membenciku sekarang?”

“Kenapa? Aku sudah janji, 'kan?”

“...” Lagi, Alisa tertawa ringan, tidak bisa menahan senang mendengar perkataanku. “Terima kasih.”

“Mengutip perkataanmu; kau juga pasti sama.”

“Yeah.”

Dia menyantaikan diri dengan duduk di atas meja. Ia melihat ke sekitar karena ia kehabisan topik untuk dibicarakan. Aku juga ikut menghindari tatapannya hingga suasana canggung menjadi tak tertahankan.

“Ngomong-ngomong, aku masih belum tahu kabar Ev—”

“Apa rencanamu untuk besok?”

“Huh?”

“Besok, Arasaka akan mengantarkanmu pada Einhorn, 'kan? Apa kau hanya akan menyerah?”

“Oh, itu. Aku kira...”

“Kira apa?”

“Bukan apa-apa,” ujarku sambil menghapus senyum tersipu dari wajahku. “Aku masih belum tahu, tapi melihatmu di sini membuatku enggan menyerah.”

“Aku juga, 'kok. Aku masih punya urusan yang belum selesai dengan Graille Einhorn, dan kau masih ingin tahu apa yang terjadi padamu. Ini mungkin terlalu besar untuk diminta, tapi rencanaku masih sama. Bagaimana kalau kita bajak transportasi yang membawamu ke Einhorn?”

“Hah— Kau masih memikirkan itu?!”

“Yeah, aku tahu.”

“Sudah kubilang, di Mombasa aku harus bertarung melawan tentara bayaran, aku yakin akan ada keamanan yang lebih ketat yang mengawalku ke sana. Tidak hanya kita kekurangan tenaga manusia, kita juga kekurangan senjata.”

“Kau tahu, aku membawamu ke sini bukan agar kita punya tempat duduk sambil minum jus apel. Aku membawamu ke sini karena ada yang ingin kuperlihatkan padamu.”

“Memperlihatkan apa?”

“Bagaimana kalau aku bilang, senjata bukan masalah?”

“Huh?”

“Kau bisa lihat peti-peti kayu di sekitar sini, 'kan?”

Tempat ini adalah gudang, wajar kalau ada peti kayu di mana-mana. Namun Alisa lalu menginjak sebuah peti kayu di bawah meja tempatnya duduk. Ia mendorong penutupnya dengan tumit sepatunya dan memaksanya hingga terbuka. Aku benar-benar terkejut melihat apa yang tumpah dari dalam.

Senjata; pistol, senapan, granat, dan kotak-kotak amunisi tumpah dari dalam peti. Satu peti saja sudah berisi senjata sebanyak ini, dan Alisa punya setidaknya satu lusin peti di gudang ini.

“Whoa...”

“Jadi apa kau masih berpikir tidak mungkin?” tanya Alisa sambil menatapku, wajahnya tampak sangat yakin kalau kami bisa saja menguasai dunia.

“Oke, aku menyerah.”

“Kalau begitu, ini rencanaku...”

Navigasi cerita
Tampilan
Bentuk teks: